My Seminary

Mempersiapkan Anak Tangguh Di Era Digital (part 2)

11201893_1100745659952618_4325780878399622223_n
Yayasan Kita dan Buah Hati

“Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar”

QS. An-Nisaa (4) : 9

Parenting is all about wiring.

From where…..? From Inner Child within’ YOU.

Apakah itu Inner Child?

Inner Child adalah sifat kekanakan dalam tubuh orang dewasa.

Bagaimanakah inner child dapat muncul?

Kala kita (sebagai orang dewasa) mengalami keadaan-keadaan tertentu yang membuat kita memanggil memori lama kembali dan secara spontan melakukan hal-hal tersebut.

Sebenarnya inner child adalah sesuatu yang wajar dimiliki oleh orang dewasa. Hanya saja mana yang lebih dominan muncul di saat mengalami suatu keadaan yang membuat kita tidak nyaman.

Ada 5 jenis Inner Child dalam diri tiap manusia :

  1. Vulnerable Child
  2. Angry Child
  3. Creative Child
  4. Playful Child
  5. Spiritual Child

BIla menghadapi anak yang “sulit diarahkan” maka akan muncul inner child dari dalam diri kita. Tapi masalahnya inner child yang manakah?

Bagaimana kita menghadapi/ merespon tiap masalah yang muncul?

Cara kita berkomunikasi dengan anak (yang kebanyakan masih menggunakan 12 gaya populer dan unsur ketidak sengajaan) itulah yang menyebabkan hubungan kita (sebagai orangtua) dengan anak-anak menjadi renggang.

Pola seperti inilah yang dipelajari oleh pebisnis pornografi untuk menyerang anak-anak yang BLAST.

Boring  –  Lonely  –  Angry / Afraid  –  Stress  –  Tired

Selain anak-anak BLAST, anak yang menjadi target utama para pebisnis pornografi adalah anak Laki-laki yang belum baligh dan 3S (Smart, Sensitive, Spiritual).

20151219_110056-1[1]
Serangan yang dialami oleh anak-anak BLAST

Mengapa anak Laki-laki yang menjadi sasaran utama?

Karena :

  1. Otak kiri laki-laki lebih kuat daripada anak perempuan.
  2. Otak kiri laki-laki lebih mudah fokus.
  3. Laki-laki memiliki hormon seks yang lebih banyak daripada perempuan.
  4. Lelaki memiliki kemaluan yang terletak di luar, sehingga mudah di stimulasi.
20151219_110443-1[1]
Media Pornografi yang dilihat anak-anak dan remaja

Berdasarkan survey (yang tiap tahun prosentasenya selalu berubah-ubah), anak-anak dan remaja mengenal pornografi melalui film/dvd lalu berikutnya melalui video klip, situs, games, komik, TV channel (maka janganlah berbangga dulu kalau sudah membatasi anak dengan tontonan berbayar, ternyata sama engga amannya!), bahkan iklan (memang iklan sekarang pada ngeres-ngeres..!), lalu HP (apalagi dengan adanya kemudahan koneksi internet tak terbatas atau unlimited), media cetak dan terakhir melalui buku cerita.

Perasaan awal ketika anak melihat pornografi biasanya akan jijik, malu, dan kaget. Namun lama-lama otak mulai memerintahkan agar lebih meningkat lagi kadar dan konten pornografi yang dilihat. Dari yang hanya berbaju minim, lama-kelamaan menjadi yang lebih terbuka. Dari yang hanya 1 detik, lama-kelamaan ketagihan dengan durasi yang lebih lama.

Awalnya hanya melihat adegan ciuman. Lama-kelamaan melihat adegan yang lebih berani lagi. Begitu seterusnya kala otak sudah dipenuhi perpustakaan porno. Anak tidak lagi puas dengan gambar atau film lama, maka lama-kelamaan mereka ingin mencoba. Naudzubillaah…

Kenapa mereka ingin mencoba? Alasannya hanya ada 2, yakni ingin meniru dan ingin merasakan.

Bagaimana mengetahui anak sudah mempunyai perpustakaan pornografi atau belum?

  1. Tanyakan konsep penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian.
  2. Tanyakan mengapa bisa cepat sekali menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
  3. Simpulkan bahwa “Berarti kamu sudah memiliki perpustakaan penjumlahan, pengurangan, perkalian dan pembagian”
  4. Lalu jelaskan bahwa otak kita memiliki banyak sekali perpustakaan.
  5. Coba tanyakan tentang apa itu pornografi. Lalu jelaskan bahwa otak kita pun bisa memiliki perpustakaan pornografi kalau sering melihat hal tersebut.

 

20151219_115206-1[1]
Gambar bagian-bagian Otak. Pre Fontral Cortex (PFC) adalah bagian otak yang terletak di depan yang berfungsi sebagai DIREKTUR.
Diungkapkan Bu Elly dalam buku The Drug of the New Millennium: The Science of How Internet Pornography Radically Alters the Human Brain and Body, karangan Mark B. Kastlemen, kecandunan pornografi dapat mengganggu fungsi otak.

Bagaimana pornografi dapat sampai merusak otak?

Bu Elly memaoarjan bahwa analoginya sama dengan keadaan sebuah mobil yang bagian depannya mengalami kerusakan parah akibat tabrakan, dan begitulah kondisi otak bagian depan anak kita yang disebut Pre Frontal Cortex (PFC) jika telah kecanduan pornografi. Fungsi dari PFC pada otak adalah untuk merencanakan, mengendalikan emosi, mengambil keputusan, berpikir kritis dan lainnya. Fungsi PFC ini terus berkembang dan akan matang pada usia 25 tahun, maka bayangkan apabila dalam tahap perkembangannya fungsi ini telah rusak sebelum mencapai kematangan.

PFC dapat rusak karena fungsinya tidak dilatih dan digunakan sebagaimana mestinya. Ketika seorang anak/remaja melihat pornogafi maka sistem limbik dalam otaknya yang akan lebih berperan. Sistem limbik berfungsi untuk memperoduksi hormon-hormon dalam tubuh, salah satunya adalah hormon yang menimbulkan rasa senang. Dan rasa senang itulah yang timbul ketika seorang anak melihat pornografi, sehingga yang awalnya melihat secara tidak sengaja, kemudian penasaran dan akhirnya menjadi kecanduan karena rasa senang yang di produksi oleh sistem limbik.

Kerusakan otak yang ditimbulkan adalah kerusakan permanen jika seorang anak telah kecanduan pornografi, hal itu menjadi salah satu agenda dari para pelaku bisnis pornografi. Sebelum mencapai pada tahap kerusakan otak permanen, para pelaku bisnis pornografi ingin menciptakan perpustakaan porno di benak anak-anak dan remaja yang dapat di panggil kapan saja dalam memori otak anak-anak kita. Target para pelaku bisnis pornografi adalah anak-anak menjelang usia akil baligh, karena jika anak-anak pada usia tersebut dapat melewati fase akil baligh (maaf, mimpi basah) secara tidak alami atau dengan kata lain dengan melihat pornografi, maka dapat dipastikan anak-anak tersebut menjadi pelanggan tetap untuk seumur hidup.

Anak dengan kecanduan pornografi dapat dilihat dari ciri-ciri berikut :

  • Mudah haus dan tenggorokan kering
  • Sering minum
  • Sering buang air kecil
  • Sering berkhayal
  • Sulit konsentrasi
  • Jika bicara, menghindari kontak mata
  • Sering bermain PS & internet dalam waktu yang lama
  • Prestasi akademis menurun
  • Main dengan teman/kelompok yang “itu-itu” saja
  • Berperilaku yang aneh, seperti : kancing baju sampai keatas, rambut gondrong dan lain-lain.

 Bahaya nya apabila otak bagian PFC ini rusak adalah seseorang akan menjadi abai terhadap norma-norma dan akan terus acting out.

Hal di atas adalah hal umumnya dialami oleh anak/remaja laki-laki. Bagaimana dengan perempuan?

….SAMA SAJA…

Yang membedakan hanya alur di awalnya. Rata-rata anak/remaja perempuan tidak menyukai gambar pornografi, namun menyukai sesuatu dengan kata-kata manis (bahasa kerennya mah…rayuan gombal yaa?) melalui facebook, chatting room, twitter, de el el. Kemudian proses yang terjadi di otak akan sama seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Apakah akibat langsung dari kecanduan pornografi?

Biasanya alurnya adalah mereka akan selfie kemudian sexting (sex melalui kata-kata) dan akan mengalami masturbasi bersama pacar. Kemudian melakukan oral seks, bisa dengan alasan suka sama suka atau pergilah mereka ke lokalisasi. Kalau norma sudah diabaikan, mereka dapat melakukan bahkan di sekolah! Dan masih dengan pakaian lengkap!

Be Aware!

Kalau perpustakaan ini sudah penuh, kala mereka diam pun, yang terbayang hanyalah gambar-gambar porno yang pernah dilihat. Cara mereka memandang orang lain menjadi jauuuhh berbeda. Hal ini yang menyebabkan tingginya kasus pemerkosaan, bahkan terhadap sesama saudara (insest). Kalau sudah sangat parah, mereka dapat melakukannya dengan binatang. Naudzubillaaaah….

Apa yang dapat kita lakukan sebagai oang tua saat anak sudah terpapar pornografi?

Jadilah terapis bagi anak kita sendiri. Dengan cara :

  1. Tenang. Don’t be panic.
  2. Bermusyawarah

“…..Karena itu, maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampun untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakkal.”

QS. Ali Imron (7) : 159

      3. Ingat! Bahwa anak adalah amanah Allah. Anak bisa menjadi permata hati, namun bisa juga menjadi ujian.

      4. Takutlah pada Allah karena meninggalkan keturunan yang dhaif (lemah).

       5. Belajar untuk menerima, memaafkan dan tidak marah. Memperbanyak permohonan ampun dan memperbaiki kesalahan.

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.”

QS. At-Tagabun : 14-15

        6. Komunikasi.

Cara berkonikasi dengan anak adalah menurunkan frekuensi, baca bahasa tubuh anak, dan dengarkan perasaan. Kemudian berbicaralah yang benar, baik, dan meyenangkan.

20151219_123134[1]
QUOTE for our REFLECTION
Saat ini kita mengasuh anak generasi platinum, dimana semuanya serba cepat, instan, menantang, dan menyenangkan. Keseharian anak kita di isi oleh belajar, mengerjakan pe-er, makan, tidur, bahkan bernafas pun terkoneksi dengan internet. Maka bijaklah menggunakan fasilitas tersebut. Aturlah penggunan gadget di rumah dengan adanya batasan waktu, batasan konten, dan aturan-aturan yang mengikat lainnya.

Seringkali kita memberikan gadget sebagai pengganti kehadiran diri, cinta, dan kasih sayang. BIG NO.

Abai terhadap resiko yang dihadapi setelah penggunaan gadget tanpa batas itulah yang membuat anak kita kecanduan serta menghadirkan tingkah laku buruk yang menjadikan berbagai macam kegiatan seksual sebagai permainan.

Maka,

Pulangkan AYAH ke rumahnya. Karena anak-anak yang tumbuh dengan kekurangan peran ayah sangat membahayakan.

Apabila anak lelaki tumbuh dengan kurangnya peran ayah maka akan berdampak : Menjadi anak nakal, anak yang agresif, dan mudah terpengaruh buruk seperti narkoba dan seks bebas.

Sama halnya dengan anak perempuan yang tumbuh karena kurangnya peran ayah. Mereka akan mudah depresi dan melakukan seks bebas.

Jadilah keluarga yang utuh dengan berlandaskan keimanan dan ketakwaan kepada Allah. Gunakanlah Al-Qur’an dan as-sunnah sebagai petunjuk dalam menjalani hidup.

Apakah yang bisa dilakukan orangtua kala anak telah terpapar pornografi?

  1. Pulangkan ayah ke rumah!
  2. Bersabar.
  3. Dekatkan diri pada Allah dengan beribadah dan meminta pertolongan Allah semata.
  4. Perbanyak bersedekah.
  5. Membaca Al-Qur’an agar hati tenang
  6. Perbaiki diri sendiri dahulu
  7. Lalu bantu anak untuk keluar dari masalahnya.

 

Bagaimana cara menghadapi anak yang sudah kecanduan?

  1. Cari tahu dahulu penyebabnya.
  2. Selesaikan hal-hal yang menyangkut si anak.

Kembalikan harga diri anak (self worth) dan emosinya. Maka kecanduan akan menurun.

 

Apa yang perlu ditanyakan pada anak?

  • Kapan kamu pertama kali melihat pornografi?
  • Bagaimana caranya?
  • Apa yang kamu rasakan?
  • Apa kamu lakukan setelah melihat itu?
  • Berapa lama kemudian kamu melihatnya lagi?
  • Kapan terakhir kali melihat?
  • Sekarang apa yang kamu rasakan?
  • Apakah kamu merasa memerlukan bantuan ayah dan ibu?

 

Waspadalah, wahai orangtua. Jangan pernah merasa bahwa “Anakku baik-baik saja“. Because YOUR FAMILY IS UNDER ATTACK!

613_557363870957469_1543232134_n
Yayasan Kita Dan Buah Hati. Speaker : Elly Risman, P.Si

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s