My Seminary

Karunia Belajar “Kenali Aku, ma”

IMG_20151205_081554[1].jpgTulisan ini adalah materi kedua dari seminar Abah Ihsan yang diadakan tgl 5 Desember 2015 kemarin dengan program beliau yaitu Program Sekolah Pelatihan Anak.

Dibuka oleh pertanyaan Lebih baik mana : “Anak Broken Home atau Broken School?”

Dalam hati saya tentu, itu bukan pilihan. Inginnya siiih…gak ada yang broken. Heuu…

Ternyata yang menjadi pembeda adalah ketika anak mengalami Broken School, si anak masih bisa mengikuti metode pembelajaran lain. Misalnya: HS (Home Schooling) atau HE (Home Education).

Namun yang bermasalah, ketika anak mengalami Broken Home, anak tidak akan bisa ganti orangtua.

Maka jadilah orangtua yang memiliki ilmu Parenting memadai. Tidak dari ilmu Pengasuhan zaman kita dahulu dibesarkan (wiring), namun pakailah ilmu Parenting yang mengembangkan dan mengembalikan fitrah anak.

Karena sesungguhnya, fitrah manusia adalah mencintai kebaikan.

Di zaman sekarang, banyak dari orangtua (termasuk saya siih..) tidak sadar, tidak sengaja atau tidak berilmu dalam mendidik anak. Apa akibatnya?

Saya akan mengalami kelelahan yang tak berujung dan pasti jadi meledak saat anak menjadi extraordinary.

Jadi usahakan : Tetapkan TUJUAN dalam mengurus anak. Salah satunya adalah mempelajari ilmu parenting. Pasti mengurus anak itu capek, namun bila kita mengetahui ilmunya, akan terlihat hasil baiknya di kemudian hari.

Lalu, Apa yang menjadi Fitrah Anak agar dapat kita tumbuh-kembangkan?

  1. Anak itu adalah manusia yang jujur
  2. Anak itu terlahir mandiri
  3. Anak itu hakikatnya patuh terhadap orangtua
  4. Anak terlahir kreatif
  5. Anak adalah pribadi pembelajar
  6. Disiplin
  7. Anak adalah manusia yang sabar

Bagaimana itu bisa terjadi? Anak saya gak gitu deehh….. *kesiaaan deeh looo.. (gayanya Abah banget…ckkk…)

Kalau ada anak anda yang tidak begitu, berarti anda sudah mematikan fitrah anak anda sejak dulu..

Misal :

Anak saya malas belajar, Abah…Kalau disuruh belajar, selalu jawabnya “nanti duluu…main dulu…dll”

Manaaa…katanya anak fitrahnya Belajar?

Koreksi !

Zaman dulu anak masih kecil, biasanya saat rasa ingin taunya tinggi, maka mereka akan bertanya. Apakah ketika anak bertanya banyak hal anda merasa kesal dan terganggu? Dan akhirnya keluarlah kata-kata “Sudahlaahh…jangan ganggu mama… Mama sedang masak. Kamu main sanaaa…”

Pernahkah??

*Naaahh loo….!!! Aku gak pernah gittuu siih..kata-katanya. Tapi mirip-mirip. Intinya mah..sama-sama mengalihkan pertanyaan anak ke hal lain. Agar si mamah tetep fokus kerja dan anak bisa assik main sendiri. Jiaaa…

 

Berikutnya adalah saat kita merasa bersalah kalau ingin berangkat kerja atau bepergian tanpa mengajak anak.

Kebanyakan orangtua akan kucingkucingan saat pergi. Alasannya, agar anak tidak menangis atau rewel. Bisa panjang lagi masalahnya. Namun yang perlu dikoreksi adalah Pentingnya mereka merasa dihargai. Dengan kita berpamitan saat akan pergi, anak akan tahu bahwa orangtua tidak membohongi anak. Sehingga mereka merasa dihargai.

Apabila menangis kencang, jangan goyah..namun tetap katakan “Mama pergi dulu yaa…dek. Kalau adek mau nangis, nangis aja..engga apa-apa kok” —-> ini seriusan aku pake saat membujuk si kecil yang blum sekolah saat si mamah butuh zumba atau bertholabul ‘ilmi. Alhamdulillah…Hana jadi anak yang paling ngerti saat aku benar-benar gak bisa ajak dia pergi. Tapi gak selamanya, saat aku bisa ajak Hana untuk berkegiatan, dialah prioritas utama aku saat berkegiatan di luar rumah”

 

Jangan Banyak Melarang Anak.

Setiap anak suka bermain air. Orangtua tidak perlu melarang anak bermain air. Namun batasi penggunaannya. Misalkan : Suka ciprat-ciprat air, sediakan air 1 ember. Kalau itu masih terlalu banyak, sediakan 1 gayung. Kalau itupun menurut ibu masih terlalu banyak, bisa sediakan 1 gelas. Yang penting anak merasakan dan belajar dari apa yang dimainkan.

 

Bangkitkan Daya Survival Anak.

Buat anak-anak kita merasa kesusahan agar mereka hidupnya struggle. Jangan sedikan banyak fasilitas yang memanjakan mereka. Apalagi dengan kata-kata “Ayah dulu susah, nak…dan ayah gak ingin kamu susah kaya ayah.”  —–> This is BIG NO.

Karena sesungguhnya, kesusahan ayahnya itulah yang membuat ayah sukses. Jadi biarkan mereka SUSAH. Karena HIDUP PENUH TANTANGAN.

Kemewahan boleh (seperti, makan di luar…boleh sesekali, namun tidak tiap kali).

m4[1]
Hukum Kekekalan Ikhtiar Anak

Fokuslah saat mendidik anak.

Dengan memberikan perhatian dan kasih sayang. Bukan hanya nasihat, namun yang lebih penting adalah mendengarkan. Bukan hanya waktu, namun ajaklah mengobrol.

Orangtua wajib memberi nasihat, namun tidak berlebihan (overdosage). Karena sesuatu yang berlebihan, jatuhnya akan menjadi siasia / mubadzir.

Fokus dalam mendidik anak adalah sebuah keletihan. Namun akan terasa berbeda dan menyenangkan.

Maka, ketika anak bermasalah…

CEK!

Apakah sering ngobrol dengan ayahnya atau tidak?

Karena semakin besar anak, mereka semakin membutuhkan orang untuk mendegarkan cerita-cerita mereka. Maka, pentingnya konsistensi.

SEMAKIN ANAK MUDAH TERPENGARUH LINGKUNGAN MAKA ITU BERARTI BAHWA SEMAKIN KECIL PENGARUH ORANG TUA NYA TERHADAP ANAK.

Kecenderungan orangtua ketika anak bermasalah adalah

  • Menyalahkan anaknya sendiri
  • Menyalahkan teman-teman anaknya
  • Menyalahkan masa lalu
  • Menyalahkan makhluk ghaib, biasanya jin.
  • menyalahkan Allah SWT.

dengan perkataan orangtua “Mungkin ini adalah ujian dari Allah”

Maka,

Berbahagialah selalu atas kekurangan anak.

Baik anak kita tipe Introvert atau ekstrovert. *in syaa alloh nanti akan ada tulisan khusus mengenai 2 tipe anak ini. Hiihhii…biar penasaran.

 

Jangan pernah mengenalkan konsep “Anak Bodoh” dan “Anak Pintar”

TEST Bagi orangtua. Kami diberi 5 pertanyaan saja dan disuruh menuliskan jawaban atas pertanyaan tersebut di kertas.

  1. Sebutkan 3 isi perjanjian Linggarjati.
  2. Berapa sin 30
  3. Sebutkan isi UU pasal 20 yang sudah diamandemen.
  4. Berapa derajat kemiringan bumi?
  5. Berapa m panjang lapangan sepak takraw?

*speechless…saya hanya tau 2 jawaban dari ke-5 pertanyaan tersebut. Mirriiss..Apakah saya bodoh? Tentu saja saya akan menolak ketika ada oranglain yang bilang saya “Bodoh”

Namun, apakah yang terjadi dengan anak kita ketika label Bodoh itu justru disematkan oleh kita, sebagai orangtuanya? *cryiing guliingguliing…

Jadi, kesimpulannya :

  • Apakah hakikat dari ilmu
  • Apakah belajar itu dan apa tujuan akhir dari belajar

Jawabannya adalah agar hidup bahagia. Maka pertanyaannya berikutnya adalah :

  • Mampukah anak-anak kita bermanfaat untuk oranglain?
  • Apakah anak kita kelak tidak menyusahkan orang lain?

Sebenarnya, Hakikat Belajar adalah memasukkan informasi. Bukan informasi yang sebanyak-banyaknya, namun informasi yang dimaknai.

Jangan sampai anak merasa dibebani dengan belajar. Sudah sekolah full day, pulangnya pun masi harus ikut les kesana-kemari.

 

PR (Vow with all of audience)

In Syaa Allah,

Mulai hari ini, saya bersungguh-sungguh membebaskan hidup anak saya demi kebahagiaan hidup mereka sepanjang tidak berlebihan, yaitu :

  1. Tidak membahayakan dirinya
  2. Tidak merugikan oranglain
  3. Tidak melanggar hukum Agama / Negara

Ketika melarang, saya bersungguh-sungguh memastikan yang dilarang adalah yang berlebihannya, bukan aktivitasnya.

m5[1]
Hukum Kekekalan Penasaran Anak

Maka sekali lagi, Ayah…Bunda..

Biarkan anak-anak berlari, berputar, berguling, merayap, dll..

Karena semakin anak banyak bergerak, maka semakin banyak yang dipelajari, diamati, diuji coba, ditiru, dilakukan dan dialami.

Ma, Pa…

Kenalilah kami…..

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s