My Seminary

Karunia Kiblat “Bergeraklah Maju..”

b62a9dae1a8c525b466f706656826177
What a family is..

Karunia kiblat adalah judul dari materi berikutnya di seminar Abah. Unik. Bahwa sebenarnya semua manusia, khususnya orangtua telah diberi instinc dalam mengarahkan hidupnya akan dibawa kemana.

Berkaitan dengan hal tersebut, tentu masalah pengasuhan pun berlaku hal yang sama. Apakah TUJUAN dari pengasuhan yang kita lakukan terhadap anak-anak kita?

Setelah JELAS kita menetapan TUJUAN, tentulah baru kita bisa melangkah. Intinya mah…mari kita teruuuss bergerak maju. Bole sesekali melihat ke belakang, namun jangan selalu berkaca masa lalu. *ecieee…

Pas materi ini…kami melakukan simulasi. Kami disuruh baris berderet, kemudian melangkah maju ke depan. Alangkah mudah kita berjalan ke depan (tanpa menginjak kaki teman di hadapan kita) sebanyak 10 langkah. Lalu Abah memnginstruksikan kepada kami untuk melangkah mundur. Subhanallaah…ternyata seringkali saya harus minta maaf pada teman di belakang saya karena seringnya saya (tidak sengaja) menginjak kaki doi. Begitupun teman di depan saya, sering juga menoleh ke saya dan dengan wajah imut *hiihii…aku ngomongin dirimu, teh Inday… mengucapkan “maaf yaa…”. And the point was…we never be in the same place.

Jadi kebayang dooonk…bagaimana kita saat menjadi orangtua yang selalu dan selaluuuu….mengungkit masa lalu anak kita dan kembali menasehati. Tanpa memberi kekuatan terhadap kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan anak.

Berilah anak kita masukan-masukan positif. Fokus pada hasil yang ingin dicapai, bukan pada penyebab kegagalannya.

 

Kenapa yaa…kita sebagai orangtua kadang merasa kesal berlebihan pada anak?

Jawabannya adalah karena kita selalu merasa anak kita adalah milik kita. Jadi kita berhak memarahi mereka. Padahal sesungguhnya mereka hanyalah amanah Allah yang harus kita jaga dengan sangat hati-hati. Tumbuhkanlah jiwa kebaikan pada anak…

Dan hendaklahtakut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar.”

QS. An-Nisaa (4) : 9

 

Menjadi orangtua harus pengasih dan penyayang. Apa maksudnya yaa…?

Menjadi pengasih maksudnya adalah memberi apa yang diinginkan anak. Sedangkan penyayang adalah penyeimbangnya….yakni memberikan batasan atas yang diinginkan sang anak tersebut.

Misalnya :

Anak kita beri uang saku (bukan uang jajan…karena uang saku adalah uang yang diberikan per-minggu untuk dikelola, swdangkan uang jajan adalah uang untuk jajan yang diberikan harian) lalu dengan mudahnya si anak membeli apa yang dia inginkan. Dan uang tersebut habis sebelum waktunya.

Maka, karena kita orangtua yang pengasih…tentu ada keinginan untuk memberikan uang lagi agar anak kita tidak susah. Namun, yang penting adalah kendalikan oleh rasa sayang kita.

Beri pengertian bahwa itu konsekuensi yang di dapat karena si anak menghabiskan uang di awal saat dia mendapatkan uang.

Biasakan membeli apa yang dibutuhkan, bukan apa yang diinginkan.

Note dari Abah:

Anak boleh pegang uang sendiri saat usia nya sudah  7 tahun. Kurang dari 7 tahun, akan menyebabkan anak bersikap konsumtif dan menjadikan anak bergaya hidup hedon dan bisa menjadikan anak yang terlalu cinta pada ke-duniawian.

 

Fokus Pada Perilaku Anak Yang Baik, bukan Pada Yang Buruk.

Berikan anak kekuatan melalui kata-kata yang baik sebagai penguatan karakter. Karena tentu kita sebagai orangtua lebih paham mengenai banyak kebaikan anak. Kalau perlu tulis! Agar kita mampu melihat seberapa banyak kebaikan-kebaikan anak yang telah dipersembahkannya untuk kita, yaa…kita sebagai orangtua nya.

 

Fokus Pada Kelebihan, Bukan Kekurangan.

Kurang lebih sama penjelasannya seperti point yang di atas. Jangan malasss…tuliis…tuliiiss dan tulis kelebihan-kelebihan anak kita.

 

Fokus Pada Solusi, Bukan Masalah.

Pasti bertanya-tanya….gimana bedanya siih…inginnya fokus pada solusi, bukan masalahnya… Here’s the answer….*ehheem…

Saat ada masalah yang muncul, cari dahulu akar masalahnya.

Misal :

Anak malas belajar. Kenapa anak malas belajar?

Mungkin terlalu banyak kegiatan yang diikuti, jadi kelelahan dan jadi enggak fokus belajar.

maka, biasanya orangtua akan memberi tahu kekurangan-kekurangan anak terlebih dahulu.

“Kamu tuu…kebanyakan kegiatan, banyak nonton TV, banyak blaa…blaa blaa…makanya nilainya jelek. Gak mau belajar siih…”

Namun apabila anda merasa Fokus Pada SOLUSI.

Perkataannya menjadi “Mama tau anak mama suka berkegiatan di luar rumah, anak mama suka berteman, namun melihat nilai-nilai mu kemarin, apa yang kamu rasakan?

Anak menjawab “Sediiih ma…nilai aku turun. Jadi jelek-jelek yaa…ma”

Mama menguatkan dengan berkata “Kamu sediih…jadi apa yang bisa mama bantu, nak…..Coba cerita sama mama”

Dengan berdialog dahulu…maka anak tidak merasa lemah dan bersalah sehingga perlu dihakimi.

 

ber-HATI-HATILAH dengan komentar yang diucapkan.

Iyaa looh…pas bagian ini, Abah bercerita tentang baiknya sebuah perkataan yang diucapkan oranglain, khususnya orangtua, pada kita.

Tapi kali ini, Abah bercerita mengenai penguatan kata-kata melalui kakak beliau.

Suatu ketika, kaka Abah pulang ke rumah bersama teman-teman nya. Dan Abah mencuri dengar (atau gak sengaja mendengar) percakapan teman-teman Abah dan si kakak.

Teman Kakak Abah (TKA) : “Gimana siihh….kok kamu bisa pinter? Rajin belajar yaa…?”

Kaka Abah (KA) : “Iyaa…rajin belajar…*dengan nada bangga. Tapi aku tuuh…sebenernya gak ada apa-apanya tuuuh…dibandingin si Ihsan, adik gue yang kecil”

TKA : “Kenapa?”

KA : “Karena si Ihsan itu selain pinter, dia juga anaknya pantang menyerah”

Abah yang kala itu mendengar perkataan si kaka langsung dag-dig-dug rasanya…berbunga-bungaaa bahagiaa…”Oohh….ternyata aku anaknya PANTANG MENYERAH”

Sejak saat itu, saat menghadapi kesulitan macam apapun, Abah selalu berpedoman pada kata-kata itu. Bahwa dia adalah anak yang PANTANG MENYERAH.

Suatu ketika pada titik tertentu, Abah benar-benar merasa kekurangan uang untuk membiayai masuk salah satu perguruan tinggi favoritnya. Maka dengan berbekal 10 cara untuk mendapat dukungan finansial, Abah mulai menjalankan ke-10 cara tersebut.

Cara 1. Pinjem sama teman dekat. GAGAL. Karena ternyata sama-sama dari kalangan kurang berada.

Cara 2. Mendekati teman-teman yang populer di sekolah dan berniat untuk pinjam biaya masuk PTN pada orangtua mereka. GAGAL juga.

Cara 3. Pinjem sama pakde, bude, oom, tante…GAGAL juga. Karena keadaan dalam keluarga Abah saat itu hampir dibilang merata. Sama-sama dari kalangan kurang mampu.

Cara ke 4, 5 dan ke 6 telah ditempuh. GAGAL.

Akhirnya di Cara ke-7, Abah berhasil mendapat biayanya.

Apakah itu ?

Abah mendatangi salah satu perusahaan terkenal dan mengajukan proposal atas dirinya yang akan meminjam uang masuk PTN. Akadnya pinjam. Jadi untuk beberapa tahun ke depan, uang tersebut PASTI dikembalikan. Janji Allah memang benar. “Bersungguh-sungguhlah….maka kamu akan mendapat”

Perusahaan tersebut menyetujui. Dan alhamdulillah…dana didapat dan Abah bisa kuliah di PTN tersebut. Dalam waktu 3 tahun, hutang nya pada perusahaan tersebut telah mampu di lunasi dari hasil kerja parttime apa saja yang mampu Abah lakukan.

Subhanallaah….

Maka kesimpulannya, perdengarkanlah anak tentang kebaikan-kebaikan mereka. Ceritakanlah kepada banyak orang bahwa dia mandiri, baik, dan apa saja pujian spesifik yang memang dilakukan si anak. Bukan pujian kosong yaa…

m2[1]
Quote Abah

PR (vow with the audience)

In syaa alloh,

Mulai hari ini saya bersungguh-sugguh membuat anak-anak saya menyenangi kebaikan setidaknya dengan banyak mendekati anak-anak pada saat mereka berbuat baik.

Setelah itu, TIDAK JAGA IMAGE lagi untuk :

  1. Mengungkapkan PERASAAN POSITIF langsung di depan anak.
  2. Mendoakan anak sesekaliyang di sengaja di dengar anak berkaitan dengan kebaikannya.
  3. Menceritakan ikhtiar kebaikan anak pada orang-orang di dekatnya.

 

ber-HATI-HATILAH Dengan Hukuman.

Karena menghukum anak karena sesuatu yang dilakukannya hanya bersifat sementara. Selebihnya, si anak akan merasa dirugikan. Berikanlah anak konsekuensi logis. Karena antara hukuman dan konsekuensi logis itu berbeda.

Misal :

  • Anak menumpahkan air.

Konsekuensi Logisnya adalah anak mengambil lap dan mengelap sendiri.

 

  • Ketika anak bertengkar dengan teman yang lain.

Konsekuensi Logisnya adalah anak akan dijauhi teman / tidak punya teman.

 

Dan apa yang dirasakan setelah kita konsisten dalam menjalani KARUNIA KIBLAT ini?

Keadaan di rumah akan menjadi bahagia, ceria, bersemangat, penuh rencana, optimis, imajinatif, dan kreatif.

Anak-anak menjadi mudah diatur dan orangtua pun tidak capek marah dan mengomel.

 

Selamat Mencobaaa….

df8a4064b12313e4c78e65830cc92bdc
Let’s the child think what they wanna do and give the consequence of it.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s