My Seminary

“Bahagia Menjadi Emak Rempong”

Iniiih kali pertama saya ketemu Teh Kiki Barkiah dan Teh Ghaida Tsurayya di sebuah seminar Bahagia Menjadi Emak Rempong.

Benerraaan rempong deh..kalo liat keluarga beliau-beliau iniih…..

Teh Kiki dengan 5 guru kecilnya…..(hihiii….sesuai dengan acara yang sekaligus diadain Launching Buku “5 Guru Kecilku”) dan Teh Ghaida yang gak kalah rempongs dengan 3 anak beliau….karena anak kedua nya adalah anak kembar….laki-laki (Ziran dan Zirin namanya….hihiii….cute yaah…?)

Diawali dengan mengisi kuisioner yang telah dibuatkan teh Kiki Barkiah mengenai level sabar seorang ibu saat mengalami beberapa hal yang kerap terjadi di rumah. Kuisionernya sudah saya tampilkan di blog saya beberapa waktu lalu….Silahkan cek beibi cek dl yaa, moms…klik di sini.

Setelah dapet gambaran, ada di mana level kesabaran kita, maka yang harus kita pelajari adalah beberapa penyebab mengapa kita lebih mudah marah ?

  • Sadar Bahwa Anak Adalah Karunia Bukan Beban

Anak adalah karunia dari Allah yang harus kita jaga dan didik. Bahwa dari mempunyai anak, kita dapat banyak belajar. Apabila sudut pandang kita terhadap anak adalah karunia, tentu berbeda cara bersikap kita apabila kita memahami anak sebagai beban.

  • Hubungan Pasutri Yang Harmonis vs Yang Tidak Harmonis

Pentingnya mengisi jiwa seorang ibu dengan perhatian dari sang suami. Bahkan hanya dengan mendengar cerita dari istri saja. Tak jarang karena kurangnya komunikasi suami dan istri, anak menjadi korban kelelahan jiwa sang Ibu.

  • Sadar Amanah vs Yang Tidak Sadar Amanah

Betapa banyak pasangan yang merindukan hadirnya buah hati di tengah-tengah pernikahan. Maka jangan pernah merasa anakmu adalah milikmu. Anak adalah karunia Allah yang hanya “dititipkan” olehNya. Jadi, menjaga sebaik-baiknya amanah dari Allah SWT adalah tugas kita sebagai orangtua.

  • Sadar Bahwa Mendidik Anak Adalah Perintah Allah vs Yang Tidak Sadar Akan Perintah Allah

Sesuai dengan QS. At-Tahrim : 6

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Sadarlah bahwa apa yang kita lakukan di dunia ini sungguh akan dimintai pertanggung jawabannya kelak di akhirat.

  • Merasakan Nikmatnya Bekerja vs Yang Tidak Menikmati Bekerja

Merasakan nikmatnya tiap tumbuh kebang anak yang kita dampingi akan berbeda rasanya ketika kita mendapatkan jabatan atau karir yang sukses di kantor. Jadi, bila mempunyai impian, labuhkan sebentar impian tersebut. Carilah kegiatan yang sesuai dengan passion kita saat ini dan lakukan sembari mendampingi anak. Karena masa-masa emas anak tidak akan terulang kembali. Sedangkan impian, masih bisa kita kejar setelah anak tumbuh dewasa.

  • Saat Lapang vs Saat Sempit

Dalam hal ini bisa kita sebutkan kelapangan rejeki. Karena sesungguhnya, Allah tidak akan membuat umatNya kelaparan. Jadi, bersabarlah wahai ibu…apabila rejeki yang diberikan Allah lewat suami mu terasa sempit. Kita harus makin mempertebal ketakwaan dan bekerjasama dalam menghadapi masalah.

  • Memiliki Ilmu vs Yang Minim Ilmu

Terasa sekali ketika kita memiliki ilmu, misalnya saja dalam menghadapi anak tantrum. Kita tidak harus ikut marah, karena akan membuat tantrum si anak makin menjadi-jadi. Tawarkanlah pelukan, dan jika anak sudah bisa diajak berkomunikasi, maka ajaklah berbicara dengan menatap mata si anak. Pahami apa yang sedang dirasakan dan berempati lah.

  • Memiliki Visi Yang Sama vs Yang Tidak Memiliki Visi Yang Sama

Dalam rumah tangga, pastilah ada visi dan misi keluarga. Tentukan visi dan misi bersama pasangan, agar terasa lebih mudah dalam hal mengasuh dan mendidik anak.

  • Kondisi Prima vs Saat Kondisi Lelah

Saat ibu dalam keadaan prima, tentu akan berbeda menghadapi anak tantrum daripada ibu yang sedah lelah. Jadi, apabila anak sedang tidur, ada baiknya ibu juga istirahat sejenak. Jangan mengejar urusan rumah tangga yang engga ada habisnya.

  • Kegiatan Yang Teratur vs Kegiatan Yang Tidak Terarah

Biasanya ibu selalu multi-tasking alias bisa melakukan banyak hal dalam satu waktu. Tapi perlu diingat lagi, bahwa mondar-mandir untuk melakukan kegiatan yang sama adalah wasting time and energy. Kalau bisa, kerjakan pekerjaan dengan efisien, dan tertata (terjadwal).

  • Mengatur Waktu vs Terburu-Buru

Tak jarang saat pagi hari, ibu selalu mengeluh terburu-buru dalam menyiapkan anak-anak untuk berangkat ke sekolah. Padahal kita bisa mempersiapkan dari awal dan mengkondisikan anak-anak untuk bangun lebih awal pula.

  • Cuaca Nyaman vs Cuaca Panas

Hidup di lingkungan panas tentu berbeda kondisi emosionalnya dengan orang yang hidup di lingkungan dingin. Karena biasanya orang-orang di lingkungan panas lebih sensitif, kemudian lebih mudah lelah dan menyebabkan mudah marah.

  • Lingkungan Damai vs Lingkungan Padat

Tidak asing lagi bahwa kehidupan di kota besar dengan jam kerja dan traffic yang padat membuat hidup lebih terasa berat. Dengan beban stres yang luarbiasa ini, biasanya ibu menginginkan bantuan dari sang ayah untuk menggantikan sejenak tugas menjaga anak. Namun apabila ayah saja sudah capek seharian kerja dengan lokasi kerja yang terbilang cukup jauh, maka yang ada adalah pulang dengan kondisi lelah sehingga mudah marah. Maka diperlukan kerja sama untuk mengatasi hal ini. Ibu bisa mengkondisikan rumah di awal waktu sebelum ayah pulang kerja, lalu ketika sang ayah pulang, rumah sudah rapi dan anak-anak sudah ceria, ibu bisa menyelesaikan pekerjaan mengurus keperluan ayah.

 

Maka untuk menjadi lebih sabar, teh Kiki pun berbagi dengan kita semua, yaitu :

Ingat, bahwa anak adalah Anugerah

Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, bahwa betapa banyak orang yang merindukan kehadiran sosok anak dalam pernikahannya. Maka, setelah di amanahi anak, ingatlah bahwa anak adalah investasi kita di akhirat kelak.

Ingat, bahwa apa yang kita tanam, itulah yang kita panen

Pastikan, kita sebagai orangtua menanamkan kebaikan dalam kehidupan anak.

Menyadari bahwa tiap kemarahan kita akan merusak sel otak anak, maka hindarilah. Selain merusak otak, hubungan kita kepada anak-anak juga tidak akan terjalin. Anak akan mencari perhatian di luar daripada dalam rumah.

Ingat, bahwa cobaan dan amanah telah ditakar

Apabila sedang menghadapi cobaan, ingatlah bahwa takaran itu memang porsi kita. Sehingga, kita yakin bahwa PASTI bisa melewatinya.

Curhatlah selalu pada Allah

Allah yang Maha Memberi. Jadi perbanyak curhat sama Allah agar diberi kemudahan dan petunjuk.

“Sesungguhnya,

mengurus anak itu mudah asalkan Allah ijinkan.”

Anak itu fitrahnya baik

Dari lahir fitrah anak itu baik. Maka yang membuat anak menjadi tidak baik adalah kedua orangtuanya. Dengan memberikan banyak fasilitas tanpa memberi batasan dan aturan yang mengikat. Seperti pemberian gadget di usia batita.

Manusia akan diingatkan Allah melalui 2 cara, yakni : Fujur (kejahatan) dan Takwa

Tidak ada anak nakal. Yang ada hanya anak n-akal.

Atau dengan kata lain, akalnya luarbiasa banyak dan tak terbatas. Mereka mampu mengembangkan daya imajinasi nya yang (kadang) membuat kita kesal. Mereka hanya bereksplorasi tanpa ada keinginan membuat kita marah. Pahami anak-anak yang memiliki daya imajinasi tinggi dalam berperilaku. Karena mereka akan belajar hukum “sebab-akibat” dari apa yang mereka lakukan.

Lihat lebih dalam motif anak dalam melakukan sesuatu dan alasannya

Seringkali anak melakukan sesuatu yang membuat kita kessaaall gak ketulungan. Padahal kalau mau diperhatikan, itulah kreatifitas yang ingin ditunjukkan mereka pada kita. Misalnya saja contoh anak yang menggoreskan paku ke mobil baru orangtuanya. Kalau kita lihat, kita pasti kesal dengan perbuatan anak. Namun apa yang sang anak tuliskan?

Lihat baik-baik.

Dia ingin menunjukkan rasa sayangnya pada kita. Tulisannya “I love u, mom” atau “I love u, dad”. Pernahkah terpikir oleh kita bahwa dengan memarahi anak secara berlebihan dapat merusak otak dan jiwanya?

Mobil yang tergores masih bisa diperbaiki. Namun kalau otak anak yang rusak, bagaimana?

Pujilah ekspresi yang dilakukan, dengan berkata “Waw….that’s awesome”

♠ Atasi permasalahan anak hingga ke akarnya

Pahami perkembangan anak sesuai usianya. Pahami kapasitas anak. Jangan menuntut anak di luar kemampuannya. Misalnya, anak usia 3 tahun sudah dituntut untuk bisa membaca. Ajarilah bertahap dan yang terpenting adalah sering-sering membacakan buku cerita dengan konten yang baik. Sehingga anak belajar nilai-nilai kebaikan melalui kisah-kisah tersebut.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s