My Seminary

Bahagia Menjadi Ibu Bahagia Apa Adanya Bukan Seadanya (part 1)

Seminar parenting hari ini diadakan oleh Sekolah Darul Hikam, Bandung.

Alhamdulillah,

Pertama-tama seminar kerreen ini dibuka oleh Bapak Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc selaku ketua yayasan Darul Hikam. Materi yang disampaikan beliau cukup menggelitik. Karena beliau adalah salah satu jajaran petinggi di komisi 7 di MPR-RI. Jadi beliau cukup sering blusukan untuk mengetahui langsung bagaimana kondisi pendidikan di lapangan, terutama di daerah pedalaman.

Kisah Pak Shodiq saat ke salah satu pedalaman di Kalimantan, karena saat ini sedang marak isu Gafatar. Jadilah beliau ke camp Gafatar. dan menemui beberapa para pengikut dari gerakan tersebut. Terkesima. Beberapa keluarga bahkan rela berimigrasi ke Kalimantan dengan mempertaruhkan segala yang sudah dimiliki saat di tanah Jawa. Dan yang lebih miris lagi, ketika ditanya pada salah seorang pemuda belia, “Apakah kamu saat mengikuti gerakan ini sudah mendapat restu dari kedua orangtua?”. Sungguh mengagetkan jawabannya, “Saya bahkan mengajak kedua orangtua saya untuk ikut, namun mereka menolak. Dan saya bilang bahwa ketika Bapak dan Ibu engga ikut aliran ini, otomatis terputuslah ikatan orangtua dan anak”

Whaatt….??

(dalam hati saya, “Kenapa jadi anaknya yang mutusin hubungan keluarga yaak…? Pan dia yang durhaka..?)

Sebegitu derasnya pengaruh lingkungan luar terhadap anak, hingga ada pemuda usia produktif, malah berani mengancam kedua orangtua nya…?

DSC02390[1].JPG
Dr. Ir. H. Shodiq Mudjahid, M. Sc

Fenomena berikutnya yang dipaparkan beliau adalah banyaknya anak usia abegeh (yaah….anak piyik-piyik usia 14 tahun-an) yang sudah terbiasa dengan menjajakan dirinya demi memenuhi gaya hidup anak jaman sekarang yang konsumtif. *Heuuheuu….saya mah cuma tau di sinetron, kalo di kehidupan nyata, engga pernah nge-bayangin deeh…gimana masa depan anak yang seperti itu? Gimana perasaan orangtua nya? Keluarganya? *astaghfirullohal’adziim….

Belum lagi tantangan orangtua dalam mendidik anak jaman sekarang yang lainnya, seperti LGBT dan seabrek kasus yang bikin kita terperangah, bergidik serreeemm….*hanya mampu istighfaarr…..istighfaar….banyak-banyak berdoa minta perlindungan sama yang Maha Melindungi.

Jadi bagaimana seharusnya orangtua mendidik anak? Agar anaknya nurut, selalu berada di jalan yang benar, dan takut sama Allah SWT?

Kembalikan anak pada fitrahnya.

Begitu pesan Bapak Shodiq dalam seminar kali ini.

Karena kedudukan anak sendiri dalam Al-Qur’an sudah jelas yakni :

  1. Sebagai Amanah
  2. Sebagai Nikmat
  3. Sebagai fitnah, ujian, dan cobaan
  4. Sebagai Qurrota’ayunin (kebanggan orangtua)
  5. Sebagai Investasi orangtua di akhirat
DSC02391[1].JPG
Kedudukan Anak Menurut Al-Qur’an

Jangan hanya anak yang ditumbuhkan fitrahnya. Bahwa seorang Ibu pun memiliki fitrah, yakni menjadi ibu yang sesuai dengan sistem jagad raya. Menyesuaikan diri dengan sistem alam dan nilai-nilai Al-Qur’an dan hadits serta dilakukan oleh para istri Rosululloh solallahu’alaihissalam.

Bagaimana menjadi wanita yang sholeh itu? Simple… wanita sholeh adalah

  • Yang terdepan dalam melakukan kebajikan
  • Wanita yang patuh pada suami dan yang disiplin
  • Wanita yang selalu menjaga kehormatan dirinya, suami dan rumahtangganya
  • Al-jannatu (surga, yang apabila dilihat suami, selalu tampak menyenangkan)

*sengaja saya nulis simple, biar ngejalaninnya makin mudaaahh dan dimudahkan. Bismillaah…..

Fitrah Ibu berikutnya yang mesti ditumbuh kembangkan adalah bahwa Ibu adalah Ibu bagi seluruh anggota keluarga. gak jarang, bagi suami pun kita terkadang menjadi “ibu”. Maksudnya, Ibu di rumah tugasnya sebagai menjadi menteri keuangan rumah tangga, koki, nutrisionist *tsaaahh…. , driver *gggrrr…. , guru, dokter, daaann….setumpuk pekerjaan kerreen lainnya.

Jadinyaaa….Ibu harus banyak belajar.

Salah satunya adalah belajar menjadi petani yang baik. Lohh kook…??

Iyaah, bagaimana kita para ibu khususnya mampu mengembangkan fitrah anak dengan sempurna, kaan… Berikut ilustrasinya :

DSC02392[1].JPG

  1. Akarnya yang kokoh menghujam ke dalam bawah tanah, yakni menggambarkan akidah (iman) yang kokoh.
  2. Batangnya rimbun sampai menggapai angkasa, artinya memiliki banyak amal sholeh dan banyak ilmu.
  3. Berbuah sepanjang masa, yang berarti senantiasa bermanfaat bagi sesama.

 

Tuntunannya dikembalikan lagi dalam pada prinsip pokok pendidikan dan pengasuhan dalam Islam, yaitu :

  • Bibitnya unggul (memilih calon istri dan suami yang baik)
  • Tanahnya subur
  • Disiram dengan pendidikan Al-Qur’an
  • Dipupuk dengan ibadah dan akhlak Rasululloh
  • Dijauhkan dari virus dan penyakit kemaksiatan (Contohnya adalah derasnya pengaruh teknologi)
  • Diberi sinar matahari yang cukup (yakni doa, doa dan doa dari orangtua serta hidayah)

Begitulah seminar singkat yang disampaika beliau. Oh yaa….ada pesan terakhir yang disampaikan sebagai penutup materi ini,

Masa depan anak kita terletak pada keluarga dengan Ibu sebagai pilarnya

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s