Family Stories

Kisah Berhikmah Di Balik Sandal Jepit

Tema “Family” sengaja saya buat untuk mengingatkan diri saya kembali betapa banyak nikmat yang hadir dari sebuah keluarga. Dari keluarga seperti apa saya dibesarkan dan kemudian saya akan membesarkan keluarga seperti apa, saat ini dan ke depannya.

Kembali lagi saya diingatkan oleh putri sulung kami yang tanggal 15 Februari kemarin genap berusia 5 tahun. Baru 5 tahun atau sudah 5 tahun? Banyak orang berkata,”Aahh…sama saja”. Tidak bagi saya.

Atthaya Aisy Farzana.

Kisah kami hari ini dimulai dari perjalanan kami ke Baltos (Balubur Town Square) untuk membeli bingkisan yang kami rangkai sendiri dalam rangka berbagi rejeki di sekolah kaka minggu depan. Saya seperti biasa, menjemput kaka bersama adik yang berada di samping kursi kemudi duduk dengan riang.

Beda dari hari biasanya, saya tiba-tiba ingin membelikan anak-anak d’crepes. Jajanan yang beberapa hari terakhir ini mangkal dengan manis di depan sekolah TK kaka, dan tak perah sekalipun sayan ingin membelikan anak-anak jajan itu. Bukan masalah harga, tapi masalah pendidikan. Harganya memang tidak begitu mahal, apalagi anak-anak saya terbiasa memilih rasa yang simple. Kaka loves cheese and Hana loves chocolate. Betapa bahagia rona wajah kaka dan adik hari itu.

Kisah bergulir hingga kami tiba di pelataran parkir balubur. Saya terbiasa mengajak 2 anak jalan-jalan sekedar untuk berbelanja, apa yang kurang di rumah. Selain karena saya hobi jalan, saya pun tidak pernah dilarang oleh suami. Suami terlebih sangat mendukung kemandirian saya dalam hal berkendara. *terimakasiih bee….kisskiss.

Selesai membeli beberapa bahan yang kami butuhkan, kami pun beranjak pulang. Hingga saya terpaku oleh keberadaan sepasang sandal jepit karakter. Entah kenapa, timbul keinginan saya untuk mengganti sandal jepit butut kaka dengan yang baru. Saya adalah tipe orang yang hampir-tidak pernah membelikan sandal untuk anak saya. kebayang doonk bagaimana saya mengajarkan anak-anak untuk senantiasa bersepatu kemana pun mereka pergi. Karena menurut saya, sepatu itu jauh lebih aman dan trendy dibanding sandal. Apalagi sandal jepit.

Hingga suatu hari saya iseng saja, membelikan kaka sepasang sandal jepit pink berpita manis di jepitnya. Aneh. Kaka sangat suka. Asal sekolah, malah tidak pernah pakai sepatu cantik-cantik nya, namun malah menggunakan sandal jepit pita yang saya beli dengan harga tak sampai 20 ribu.

Sandal jepit berpita itu hanya dipakai kaka saat sekolah, karena saat pergi jalan-jalan, kaka memilih menggunakan sepatu, seperti saya.

Di saat saya mengagumi sandal jepit di sebuah rak mungil tersebut, tanpa sadar saya pun menghampirinya dan mengagumi sejenak. Otomatis Hana berkata,”Mauuu maa…Nyonyo mauu” (Hana memanggil dirinya sendiri dengan Nyonyo. Hiihiii…iya-in aja deeh….)

Mulai kegalauan dimulai.
Beli-engga-perlu-engga….beliii….? Atau engga yaa…?

Ditawar, alhamdulillah…melalui akad jual-beli yang rada alot, mengingat ini masalah pengeluaran keuangan di luar dugaan, akhirnya saya pun mengalah. Harganya hanya turun 10 ribu dari harga normal.

Luarbiasa bahagiiaa…kaka dan Hana.
Langsung dipakai.

Sepanjang perjalanan pulang, saya tidak ada feeling apa-apa. Karena saya sudah mulai merasa lapar. No MAKAN di luar. Karena bude sudah memasakkan kami makanan yang lezaattt hari ini. Yummiii~~

Setibanya di tempat parkir, saya mulai mengatur barang belanjaan dan mengkondisikan anak-anak dahulu. Alangkah terkejut saya ketika Hana berkata, “Mama…sandal Nyonyo satu lagi mana?”

Oh maiiii….

Perut lapar, udara saat itu sedang terik, belanjaan lumayan banyak. Jadilah serasa tersulut api. Langsung saya tanya balik (FYI, saya mulai menahan marah semenjak sering ikut seminar parenting….huuhuu…tersimpan di memori otak saya bahwa anak tidak boleh dimarahi saat dia melakukan kesalahan. Namun diberi arahan untuk belajar tanggung jawab atas apa yang sudah dilakukannya, bahasa psikolognya Konsekuensi Logis).

“Tadi adik masih pakai kan….saat naik mobil? Lalu terasa copot engga, Dik?”

Hana mulai merasa diinterogasi kali yaaa…jadi dia ada perasaan takut-takut sambil menjawab “Iya, ma…copot di parkiran. Tadi.”

Pencarian berlajut. Saya telisik satu demi satu jok mobil depan, lalu belakang….kembali lagi ke depan, balik lagi belakang….heuuh! Gak ketemu juga..

Mau balik, da uda laper banget saya nya….

Ya sudahlah….dengan nada sedikit kesal, saya berkata “Ya sudah dik, bukan rejeki Nyonyo, mungkin.”

Turunlah Hana dengan langkah lemas.

Kaka dengan riang berteriak….”Mama cari ini…?”
Subhanallaaah…..

Kaka yang selalu aku cap “tidak teliti”, malah menemukan sandal jepit Hana yang terselip di jok depan. Ternyata. Aaaah…..berulang kali saya ucapkan “Terimakasiiih kaka….karena usaha kaka, bisa menemukan sandal adik lagi.”

Tentu wajah chubby Hana yang tadinya sudah lemas kembali tersenyum.

Hikmah yang saya ambil dari perjalanan kami hari ini adalah sangat berbeda ketika kita menghadapi masalah dengan kemarahan. Dan yang terpenting bahwa tiap anak adalah unik. Kenali keunikan mereka dan in syaa allah setiap orang tua akan makin bersyukur telah memiliki anak. Karena dari mereka, saya belajar, belajar dan terus belajar untuk hijrah menjadi pribadi yang lebih baik.

Saya tidak akan lagi-lagi mencap kaka dengan sebutan negatif. In syaa allah.

Kaka, Hana, Abi….we are the best TEAM.
Love ma family.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s