My Seminary

Ngobras Serasi Materi 1 “Pendampingan Kepada Si Kecil Terhadap Penggunaan Gadget”

Materi pertama disampaikan oleh kak Sinyo Egie yang aktif mengurus grup di facebook dengan nama Peduli Sahabat. Grup dengan member yang sangat banyak ini (sekarang mencapai 6.952 member) adalah sebuah grup untuk mengedukasi, berkonsultasi dan melakukan pendampingan bagi yang merasa berada di titik nadir *aiih…. masalah orientasi seksual dan identitas sosial non-heteroseksual (LGBT).

Karena menurut Kak Sinyo, SSA (Same Sex-Attraction) ini bukan sebuah penyakit. Apalagi penyakit keturunan, alias genetik. Jadi sangat sangat mungkin untuk dirubah dan berubah (asal ada kemauan yang kuat dari diri orang tersebut).

Pertanyaannya adalah mulai kapan seseorang bisa menyimpang dari fitrahnya?

Setelah di telisik, kak Sinyo menjelaskan beberapa sebab mengapa seseorang dapat menyimpang dari perilaku seksual yang normal. Adalah dari awal ketika kita mengasuh dan mendidik anak.

Meskipun benar adanya gambar tersebut di atas hanya meme alias lucu-lucuan, tapi inilah yang terjadi di sekitar kita saat ini. Gadget mendekatkan yang jauh namun menjauhkan yang dekat. *doorr….ketembak rasanya.

Kemudian ditambah lagi dengan pemutaran video dari Kak Sinyo mengenai efek dari Nomophobia (no-mobile-phone-phobia) adalah sebuah ketakutan atau cemas berlebihan karena tidak ada handphone. Kita bisa jadi salah satu yang terkena sindrom itu, ketika kita tidak bisa lepas dari handphone. Sedikit-sedikit lihat handphone, hanya untuk ngecek grup mana yang jawab.
Dampak buruk lainnya adalah seseorang menjadi tidak fokus (setiap diajak ngomong sama temen sebelahnya, malah asik sama gadget), jadi mudah stres (karena ada temen pasang status, kitanya yang sibuk berasumsi….”Kok si A ini pamer banget siih…?” , “Waah…ternyata keluarganya asik yaa…”, dll), jadi suka memalsukan kehidupan sosial (dikit-dikit foto…apload, makan…apload dulu…*hiiish…tape dee…). Dan kalau sampai addictnya kebangetan, bisa banyak penyakit yang muncul. Dari mulai sakit punggung, sakit mata (karena memaksakan meiihat handphone saat lampu sudah dimatikan) bahkan penyakit kronis lainnya.

Tidak jauh berbeda dengan nomophobia, kecanduan games saat ini terjadi di kalangan terdekat kita, bahkan. Karena jaman sudah berubah. Games tidak lagi hanya sesuatu yang statis, namun menjadi sesuatu yang dinamis dan senantiasa unpredictable, maka dampaknya pun makin parah. Apalagi gamesnya dimainkan oleh anak-anak. Anak-anak menjadi :

  • Susah fokus terhadap sesuatu.
    Seharusnya anak-anak adalah usia nya bereksplorasi dengan memperbanyak stimulus dari luar, seperti : stimulus suara, gerak, cahaya, warna, bahasa dan emosi.
  • Menjadi kurang peka terhadap lingkungan.
    acuh tak acuh kalau sudah bermain. Mana peduli meskipun sudah diteriakin ibu atau ayah, bahkan. Karena mereka hidup di dunia maya, jadi tidak perduli dengan dunia nyatanya.
  • Terjadi penurunan fisik dan mental (mudah sakit, karena makan tidak benar, tidak dinikmati, hanya sekedar masuk namun tidak dirasakan makanan apa yang dimasukkan ke mulut). Kak Sinyo bercerita, ada orangtua dari salah seorang anak yang kecanduan gadget. Ketika si anak di suapin makanan untuk makan, apa yang terjadi…? Si anak hanya membuka mulut dan mengunyah makanan. Ia sama sekali tidak merasakan apa yang dimakannya, padahal bapaknya menyuapi anak tersebut dengan lauk bunga melati. *Hawwuuu….
  • Anak menjadi mudah berbohong…*gimana engga? Kan diajarin saat main games. Kalau engga bisa lewat-lewat pada level tertentu, bisa cari cheat nya di mbah google. Jadi selalu ada jalan pintas terhadap masalah yang dihadapi.
  • Mengerjakan sesuatu yang sia-sia.
    Poin yang ini engga usah dijelasin lagi yaaa….jelas bermain secara berlebihan adalah perbuatan yang membuang-buang waktu.

Sebenarnya ada juga beberapa efek positif dari bermain games, yaitu : Melatih skill motorik terutama bahasa (tanpa les, biasanya kita bisa dengan mudah memahami apa yang dimaksud dalam games tersebut. Menyenangkan!), memiliki pengetahuan sehingga timbul daya kreatifitas, adanya interaksi yang mengakibatkan anak belajar untuk berkompetisi, sehingga bisa menjadi tempat penyaluran emosi.

Kak Sinyo mengkategorisasikan menjadi 3 jenis pemakai, yaitu :

  • Normal
    Ada games, main…tapi kalau tidak ada, yaa…tidak apa-apa.
  • Kecanduan
    Kalau tidak main game sehari, merasa resah gelisah, seperti kehilangan sesuatu.
  • Maniak
    Parah. Perilakunya menjadi agresif, berani mencuri baik waktu bahkan sampai ke uang. Ada juga yang saking biasnya antara kehidupan maya dan nyata, sampai rela mati demi main games.

Kira-kira kalau anak usia 2 tahun, maka tidak normal kalau seminggu bermain game selama 15 jam. Itu sudah tergolong adiksi.

Apakah anak-anak suka bermain…?
Ya.
Dari dulu sampai sekarang anak tentu kecanduan bermain. Namun permainan anak dahulu mengutamakan gerak fisik dan bersosialisasi. Seperti : main layangan, engkle, petak umpet, loncat tali, dll. Sedangkan anak jaman sekarang, bermain menggunakan alat elektronik yang tidak mengutamakan gerakan dan ke 5 stimulus yang dijelaskan di atas. Sehingga terjadi gangguan di otak dan fisik (aka. pertumbuhan menjadi tidak normal, baik fisik maupun psikis).

Solusi untuk anak yang sudah terpapar pornografi atau adiksi games, ada beberapa cara yang dapat dilakukan :

  • Kenalkan anak pada dunia nyata.
    Dengam cara memberi permainan yang mengasah otak seperti balok, alat masak-masakan, merakit robot, membuat kreasi bersama ayah-bunda, dll.
  • Membuat simulasi game dan simulasi kecanduan games.
    Ajari anak untuk mengambil keputusan setiap apa yang dilakukannya. Hal ini berkaitan dengan konsep baik dan tidak baik.
DSC02474
Narasumber pertama : Kak Sinyo Egie dan moderator drg. Elke

Karena Kak Sinyo dekat dengan dunia LGBT, maka kali ini materinya bersambung.
Bagaimana perilaku seksual dapat berubah…?

Penelitian Kak Sinyo berdasarkan dari beberapa kasus yang ditangani adalah dari pola asuh orangtua sejak lahir hingga beberapa tahun ke depan.

  • Ketika anak berusia Balita (0-6 tahun) :
    Awal mula anak diajarkan oleh kedua orangtuanya. Salah satunya adalah karena anak mengambil role-model yang salah. Ketika anak laki-laki banyak diasuh oleh ibu, dimana ibu tidak belajar bagaimana cara mengasuh anak laki yang harus banyak mengaktifkan otak kanan daripada otak kiri. Sehingga laki-laki yang sekarang terbentuk adalah laki-laki dengan karakter keperempuan-perempuanan.
    Bicara terlalu banyak dan tidak bisa mengambil keputusan dengan cepat.
    Dalam pengasuhan dan pendidikan anak, kehadiran kedua orangtua itu penting. Terutama ayah. Untuk menjadi superhero pertama bagi anak laki-lakinya dan menjadi cinta pertama bagi anak perempuannya.

Bayangkan kalau anak perempuan yang jiwanya kosong akan kehadiran ayah…?
Maka ia akan dengan mudah mencari seseorang (laki-laki) yang mampu memenuhi kekosongan jiwa tersebut.

Adanya perbedaan cara mendidik antara ayah dan ibu.
Anak akan selalu cenderung memilih mana yang paling menguntungkan (nyaman) untuk mereka. Ketika ayah berperilaku terlalu galak (aka. otoriter), maka anak akan selalu merasa dilindungi oleh ibunya. Ini akan melemahkan karakter anak.

Terlalu melindungi anak bungsu, anak tunggal, anak satu-satunya dengan jenis kelamin yang berbeda, atau anak istimewa.
Bukan orangtua tidak boleh melindungi anak, namun kebiasaan orangtua yang terlalu berlebihan dapat membunuh karakter anak.

Dan yang terakhir adalah membiarkan anak tumbuh liar dan bebas. Tanpa ada role-model. Hal ini banyak terjadi di kota besar, terutama ketika kedua orangtuanya bekerja. Anak menjadi tak berayah dan tak beribu. Mereka dititipkan pada nanny atau sekolah mahal.

  • Ketika Anak Berusia 6 – 10 tahun.
    Pada usia ini terjadi penguatan karakter anak. Anak akan semakin kuat karakternya ketika ada trauma yang dialami. Misalnya ada kekerasan seksual yang terjadi pada dirinya. Pernah disodomi, misalnya. Namun tidak semua anak yang pernah disodomi menjadi menyimpang perilaku seksualnya, asal ditangani dengan benar oleh ahlinya (bisa ke psikiater atau psikolog).
    Selain trauma, anak juga dapat goyah karakternya karena pernah melihat kedua orangtua nya bersetubuh. Bisa jadi si anak berpikir bahwa persetubuhan itu menyakitkan, sehingga ia akan lebih nyaman bila melakukannya dengan sesama jenis.

Solusinya adalah selalulah melakukan komunikasi yang sehat antara anak dan orangtua. Letakkan gadget dan tatap wajah anak. Tanggapi segala keingintahuan anak. Apabila anak bertanya mengenai asal dia dari mana…? Jawablah dengan pernyataan ilmiah. Benar tetapi tidak vulgar.
Bahwa orang harus melakukan pernikahan dahulu, lalu kawin dan terjadilah proses reproduksi. Bisa diajak nonton video bagaimana sperma bertemu dengan ovum. Klik disini.

  • Usia 11 – 14 tahun adalah Fase Kebingungan dan Penguatan Karakter
    Anak usia ini adalah masa ketika anak ingin mengetahui masalah seks dan mereka akan mencari tahu.
    Kadang kita para orangtua yang kudet alias kurang update, membiarkan anak menonton, toh…hanya nonton tivi. Ternyata ada beberapa kartun yang kontennya tidak sesuai dengan anak, karena memuat beberapa unsur pornografi dan LGBT.
    Misal : kartun spongebob (mengandung konten LGBT, karena digambarkan Spongebob *dengan bulu mata lentiknya, padahal doi teh…laki-laki, sering berpelukan dengan Patrick yang notabene adalah seorang laki-laki juga, lalu the little ponny (karakter kuda cewe-cewe namun mereka melakukan kissing *huuhuu…), princess Sophia (karakter princess yang terlalu mandiri dan kuat, cepat dalam mengambil keputusan, karakternya macho sekali), dan dalam buku bacaan yang dibaca anak-anak kita seperti Sailor moon (ada karakter sailor moon yang lesbi).

Apabila diarahkan dengan benar, maka anak akan mengalihkan keingintahuan tersebut dengan kegiatan positif, seperti : bermain sepak bola, ikut kegiatan pramuka, membaca dan menulis, menari dan bernyanyi, dll.

  • Ketika anak berusia 15 tahun ke atas.
    Ini adalah fase pengkristalan. Dimana anak akan mampu melabel dirinya sebagai apa. Dan bila ini terjadi, mereka akan semakin terseret jauh ke dalam. Untuk mendapat pengakuan, biasanya mereka bergabung dalam komunitas dimana mereka merasa dihargai dan diakui. Bisa jadi salah satunya bergabung dengan kelompok LGBT.

Apabila hal ini sudah terjadi, maka coba menerima diri sendiri dahulu. Lalu orang tua pun begitu. Berusaha menerima dengan sabar tanpa menghakimi.

“Karena sesungguhnya, anak terlahir sesuai fitrahnya. Yang merusak fitrah tersebut justru orangtuanya”

Maka,
Kuatkan pemahaman bagaimana seharusnya Allah menciptakan manusia. Tujuan manusia diciptakan ke dunia ini. Mengubah sudut pandang dengan memahami situasi dan kondisi diri sendiri.

Langkah nyata yang dapat dilakukan adalah dengan meluruskan niat kemudian taubat nasuha, lalu menahan hasrat seksual dengan menjaga kehormatan diri. Melakukan sugesti positif untuk diri sendiri dan terakhir yang dapat dilakukan adalah dengan menjauhi komunitas yang melakukan penyimpangan.

Ada beberapa alasan kenapa orang SUKA melakukannya dengan sesama jenis. Beberapa alasan masuk akalnya adalah

  1. Bebas dari kehamilan
  2. Bebas dari rasa curiga
    Karena biasanya orang kalau mojok berduaan akan menimbulkan kecurigaa jika berbeda jenis kelamin, apalagi kalau itu adalah suami/istri orang, double strike!
    Tapi berbeda cerita kalauyang mojok adalah sesama jenis.
    Engga ada undang-undang yang mengikat atau menghukum juga perihal ini.
  3. Kalau mereka putus, jarang ada yang komplain
  4. Biasanya mereka (sangat) paham titik-titik menggairahkan
  5. Jangan salah! Hubungan sesama jenis itu tidak menyakitkan. Laki-laki dan laki-laki tahu betul masalah itu.
    Penjelasannya : laki-laki memiliki prostat. Prostat terletak di dalam, namun apabila di gesek-gesekkan ke lubang dubur, maka bisa terangsang dan mengeluarkan cairan sperma sehingga membasahi daerah dubur. Hal ini bisa menjadi semacam pelumas sehingga tidak menyakitkan. Bahkan beberapa laki-laki akan merasa ketagihan melakukannya.
    *naudzubilaah…….

Kesimpulan dari materi ini disamapaikan oleh drg. Elke sebagai moderator. PR besar kita sebagai orangtua adalah

  1. Gadget.
    Adalah musuh terbesar orangtua kalau kita tidak memberi batasan aturan dan penggunaannya.
  2. Rasa Malas.
    Hanya orangtua yang malas menemani anak, menanggapi setiap keingintahuan anaklah yang membuat mereka mencari tahu sendiri.
    Bicaralah dengan baik, benar dan menyenangkan dengan anak. Keterbukaan berkomunikasi tanpa berkata vulgar.
  3. Doa
    Ini adalah senjata paling kuat dari orangtua dan seluruh khalifah di bumi.

Janganlah berputus asa akan masa depan. Karena di tangan anak-anak kitalah nanti Islam mampu berdiri kuat dan tegak.

Allahu Akbar!

Advertisements

5 thoughts on “Ngobras Serasi Materi 1 “Pendampingan Kepada Si Kecil Terhadap Penggunaan Gadget”

      1. Baru ingat. Warna latar blogmu hitam kan ya? Aku baca pos ini di Reader, warna latarnya putih. Kalau baca langsung di blogmu mataku nggak perlu kusipitkan untuk baca sub-title yang kuning..

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s