My Seminary

Ngobras Serasi Materi 3 “Memahami Dan Melindungi Anak Dari Bahaya Kecanduan Games”

Baru seminar kedua kalinya saya berani menuliskan pengalaman beliau mengenai adiksi games dan pornografi, serta akibat yang timbul setelahnya.

Muhammad Nur Awaludin, S. Kom yang akrab disapa Kang Mumu menceritakan awal kisah kehidupan masa kecilnya. Diwarnai dengan kegembiraan, keharmonisan, dan kehangatan keluarga.
Ada ayah, ibu, dan kakak-kakak yang selalu bermain bersama (karena Kang Mumu anak terakhir). Setiap liburan, ada agenda berlibur bersama. Saat ayah dan ibu menerima gaji di awal bulan, ada tradisi nyawer (khas Jawa Barat banget yaa…) dan Kang Mumu karena anaknya mungil, selalu menjadi objek ketidak adilan kakak-kakaknya. Dan di situlah ibu selalu muncul bak superhero, memberikan apa yang tidak didapatkan tadi (saweran).

Tidak hanya sampai di situ, pengalaman dan harapan besar tampak dari kedua orangtua Kang Mumu, karena beliau mampu menjuarai MTQ se-kecamatan saat kelas 3 SD.
Prestasi lain yang diukir di bidang akademik pun tak pernah ketinggalan. Selalu berada di posisi 3 besar dalam kelasnya. Orangtua mana yang tidak bangga?

Namun, kejadian berikutnya merubah kehidupan Kang Mumu dan keluarga. Tiba-tiba ayah beliau dipindah tugaskan, sehingga yang tadinya berangkat layaknya pekerja dengan jam pulang kantor yang teratur, menjadi pulang makin larut. Interaksi dengan anak-anak pun makin berkurang. Belum lagi ibu, yang sibuk mengajar karena amanah beliau adalah seorang guru di sebuah SD negeri. Menganggap anaknya tidak bermasalah dengan prestasi akademik yang baik, orangtua merasa menaruh kepercayaan dan harapan yang besar tentunya pada Kang Mumu.

Ternyata, usia berapapun sang anak, mereka selalu membutuhkan pendampingan. Selalu merasa butuh tempat untuk cerita dan berbagi. Kelas 4 SD, Kang Mumu mulai mengenal games. Games apa siih…yang bikin ketagihan?
Hanya games balap mobil dengan karakter lucu.

Karena games itu rata-rata bikin penasaran yaa….akhirnya tiap pulang sekolah, Kang Mumu kecil selalu nongkrongin rental playstation dekat rumah.
Alhasil, uang saku yang diberikan ibu pun tidak cukup. Karena makin lama, makin penasaran dan susah berhenti untuk main.
Dari yang hanya 1 jam, meningkat jadi 2 jam…meningkat lagi hingga 3 jam, dan seterusnya.

Mulailah Kang Mumu memikirkan cara, “Bagaimana mendapatkan uang untuk bermain?”. Dari mulai membobol kotak amal yang tersimpan rapih di kamar orangtua, sampai mencari-cari dompet usang milik ibu yang isinya uang bergambar monyet dan recehan seribu jaman dulu yang tebalnya 1 cm. Uang tersebut diambil sedikit demi sedikit untuk me-rental dan membeli SD card yang jaman dulu harganya cukup menguras kantong anak-anak.

Kreatifitas demi kreatifitas pun muncul.
Karena uang ayah dan ibu sudah habis dan tidak bisa dipakai main game lagi, mulailah Kang Mumu mencari cara lain. Dari mulai mark up uang SPP sampai mencuri di tempat umum, seperti di angkot.

Saat SMP, adiksi games sudah makin meningkat menjadi terpapar pornografi. Baru terpapar karena melihat cover games PS yang bergambar perempuan berbaju minim sedang naik sepeda. Tidak hanya games balap sepeda itu yang “tidak ada sama sekali perempuan seksinya, hanya covernya saja”, namun banyak games lain yang menawarkan hal serupa. Seperti games mahjong, yang katanya setelah memenangkan permainan akan muncul wanita membuka sedikit auratnya….
Sebenarnya games nya engga suka-suka banget, yang pingin dilihat hanya wanita seksi yang keluar setelah memenangkan games tersebut saja. *eemm….jujur banget yaaa…?

SMA.
Mulai meningkat keingintahuan Kang Mumu abege tentang pornografi. Dengan memainkan games-games kekerasan, menonton film porno yang tadinya hanya 5 menit, meningkat menjadi 30 menit, lalu 1 jam, dan seterusnya.

Setelah lulus SMA, ternyata Kang Mumu yang dianggap cerdas oleh kedua orangtuanya, tidak lulus dalam saringan ujian masuk perguruan tinggi negeri, sehingga menimbulkan perasaan keputusasaan tersendiri dalam diri Kang Mumu.
Dalam keputusasaan tersebut, Kang Mumu bargain dengan kedua orangtuanya. Minta dibelikan PC lengkap dengan sambungan internet. Alasannya yaa…untuk main games.

Dalam diskusi dan tawar-menawar yang cukup panjang, akhirnya Kang Mumu mendapatkan fasilitas tersebut. Dengan beberapa pertimbangan dari sang ibu (lagi-lagi ibu yang menjadi shield) bahwa, “Daripada anak berkeliaran di luar rumah dalam keadaan stres dan mabuk-mabukan, lebih baik di rumah dengan adanya fasilitas internet. Toh di rumah ini….bisa diawasi.”
“Anak akan anteng kalau dikasih games”
“Kan….cuma games inii…”
Dan banyak lagi alasan untuk membenarkan pilihan tersebut.

Bahaya yang paling besar BUKAN pada akses pornografi atau main games seharian
Tapi,
Bahaya yang tidak pernah orangtua sadari bahwa itu adalah BAHAYA.

-Bunda Elly Risman-

Akhirnya hidup terus bergulir, Kang Mumu yang asik dengan dunia gamesnya akhirnya meninggalkan akademik sama sekali selama 2 tahun. Kerjanya hanya main dan nonton film porno. Baginya, 2 sehat-2 sempurna.
Sehingga,
Badan menjadi sangat kurus kering dan tidak peduli dengan hal lain seperti manner terhadap lingkungannya. Sopan santun, tata krama, tanggung jawab dan adab.

Hingga suatu hari ia mengalami sebuah kecelakaan sepeda motor yang membuat ia tidak dapat main game karena tangannya sakit dan membutuhkan masa recovery yang panjang. Lalu ada salah satu temen di facebook yang menuliskan status “Duuuh….pusing yaa….ngerjain skripsi”. Dari segi usia, mereka adalah teman sebaya. Tapi si teman sudah akan lulus, sedangkan ia sendiri masih berkutat di tempat yang sama tanpa perubahan. Dan akhirnya Kang Mumu pun memutuskan untuk melanjutkan sekolah lagi.

Betapa bahagianya ayah dan ibu.
Ikutlah ujian masuk di sebuah perguruan tinggi ternama di Bandung, UNIKOM.
Alhamdulillah berhasil lulus. Dan untuk mengisi kekosongan waktu antara ujian masuk hingga resmi menjadi mahasiswa jurusan Teknik Informatika, Kang Mumu mulai mencari pekerjaan. Dari mulai menjadi HRD di sebuah perusahaan abal-abal lalu beralih menjadi pramuniaga di sebuah minimerket ternama hingga bergabung di salah satu tempat penanggulangan bencana alam, semua dilakukan dengan maksud agar sibuk dan melupakan games.

Berhasil.
Dan selang beberapa waktu, Kang Mumu jadilah mahasiswa. Namun karena efek pergaulan dan lingkungan, Kang Mumu kembali terbawa arus untuk bermain games. “Alaaah…cuma 1 jam ini”. Itu alasan pertama. Ternyata engga bisa hanya sejam, berlanjut ke adiksi berikutnya hingga sering bolos kuliah.

Hingga ada kejadian dimana Kang Mumu kembali tersadar. Sang ibunda menghadap sang khalik lebih dulu karena kanker payudara yang diidapnya. Dan selama ini tidak ada satupun yang tahu mengenai hal itu. Sungguh itu pukulan yang luar biasa untuk seorang Mumu. Titik balik itu dijadikan semangat lagi untuk menyelesaikan kuliah dan bertemu bersama teman-teman se-visi untuk mengatasi adiksi gadget dengan membuat sebuah aplikasi yang dpat diinstal di gadget yang digunakan.

Jadilah KAKATU.

download (6)
kakatu

Kenapa siih anak bisa adiksi dengan games?

  • Karena orangtua menyediakan fasilitas
  • Terbiasa dengan fasilitas tersebut
  • Karena kesepian, engga ada orangtua atau saudara yang diajak ngobrol
  • Melepas stres
  • Menghilangkan kebosanan
  • Hiburan yang menyenangkan,
    karena bisa lari dari kehidupan nyata.
    Yang di kehidupan nyata dia payah, jelek, item, pendek dan engga berprestasi…tapi begitu main games, banyak pengakuan baik terhadap dirinya.
    “You are great!” – “Awesome” – “Good” – dll
    kalau kalah pun tetap disemangatin “If You Lost, Try Again”
  • Menjadi merasa paling jago dan berkuasa
    Karena beberapa game, kita dituntut untuk membuat karakter game yang sesuai dengan keinginan, misal : menjadi sang penolong, menjadi penyembuh, dll.

Intinya,
Di dunia game adalah dunia yang bisa menerima kita apa adanya. Merasa dihargai dan diperhatikan.

Karena rata-rata anak yang kecanduan games karena orangtuanya mengikuti 12 gaya populer dalam mendidik, yakni :

  1. Memerintah
  2. Menyalahkan
  3. Meremehkan
  4. Membandingkan
  5. Mencap atau Melabel
  6. Mengancam
  7. Menasehati
  8. Membohongi
  9. Menghibur
  10. Mengeritik
  11. Menyindir
  12. Menganalisa

This slideshow requires JavaScript.

Begini deeh…kira-kira potret keluarga jaman sekarang….
Semua terkoneksi dengan internet, HP di tangan, rumah ada wi-fi dan anak bisa main games sepuasnya. Menjelajah sejauh-jauhnya. Tanpa ada kontrol dari orangtuanya.

Jadi, gimana yaa…kita sebagai orangtua menyikapinya?
Salah satu cara nya adalah dengan memilihkan games yang sesuai rating usia anak. Jangan terpengaruh iklan yang dilihat anak, kadang iklan tersebut tidak sesuai.

Cek rating didepan box game yang menyatakan :

  1. Kepantasan usia
  2. Penjelasan isi
    Biasanya ada di belakang box mengenai indikasi elemen-elemen dalam games yang menyebabkan rating tersebut diberlakukan.
  3. Ketertarikan dan kekhawatiran
th (7)
ESRB rating
th (12)
Keterangan ESRB Rating USA
th (8)
contoh rating pada games

 

Karena beberapa games memang sengaja dibuat untuk menimbulkan adiksi, dengan ciri sebagai berikut :

  • Dimainkan secara berkelompok
  • Ada level challenge, quest, reward, dan experience point
  • Sampai ada ajang turnamen untuk games tersebut

    DSC02520
    Ajang main games se-dunia, di hall sebesar itu dengan reward uang senilai ratusan juta untuk pemenang paling buncit. Milyaran untuk pemenang utama.
  • Jika bertanya pada orang dan 70 % orang mengetahuinya, berarti itu games populer yang bikin ketagihan.
  • Games online yang sifatnya dinamis
    Karena kita engga akan tahu 1 menit ke depan apa yang terjadi dengan kita dalam games tersebut.
  • Ada plot ceritanya (story line) yang menarik, sehingga para gamers menjadi susah meninggalkannya (sampai-sampai jadi baper alias bawa perasaan)

Jalan keluar kedua untuk anak agar tidak adiksi terhadap games dan gadget adalah batasi waktu dan penggunaannya dengan menginstal parental control, seperti Kakatu.

th (14)th (13)

Aplikasi ini memiliki fitur lengkap untuk membatasi aplikasi apa saja yang bisa digunakan anak, dan seberapa lama anak dapat menggunakan aplikasi tersebut. Ketika batas penggunaannya telah habis, maka akan muncul pesan dari orangtua nya (bisa berbentuk video gambar ayah/ibu atau hanya lewat kata-kata). Sehingga anak akan berhenti main, dan hanya dapat diaktifkan kembali oleh orangtuanya (ada password untuk mengunci).

Pesan Kang Mumu di akhir sesi ini adalah

“Teknologi adalah penunjang masa depan dan dibuat untuk membantu memecahkan masalah setiap orang.
Tetapi PENGASUHAN orangtua tetap TIDAK DAPAT DIPINDAH TANGANKAN terhadap CANGGIHNYA TEKNOLOGI”

There Is Always A Hope………

Advertisements

5 thoughts on “Ngobras Serasi Materi 3 “Memahami Dan Melindungi Anak Dari Bahaya Kecanduan Games”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s