My Seminary

Ngobras Serasi Materi 2 “Mendampingi Anak Lepas Dari Pornografi”

Membaca pengalaman beliau dari flyer tersebut di atas, saya sempat bertanya-tanya…bagaimana cata Ibu menyampaikan permasalahan ini dihadapan publik?
Karena menurut saya ini bagaikan luka yang tersimpan dalam diri seorang ibu sebagai pendidik dan madrasah utama bagi anak.

Diawali dengan evaluasi diri dari Ibu Ida Nur’Aini bahwa kalau anak melakukan ketidakpatuhan, maka yang perlu di evaluasi adalah orang tuanya. Itu bisa terjadi dengan sengaja maupun tidak sengaja.

Maksudnya adalah anak selalu mengerti keadaan orang tuanya. Hanya orang tuanyalah yang sering ABAI.

Dikisahkan tentang anak pertama Ibu yang terpapar adiksi pornografi. Kok bisa? Padahal kala itu di sekolah belum nge-trend handphone dan internet dimana-mana seperti saat ini. Belum pula anak diberikan uang jajan yang berlebihan, kaena bersekolah di salah satu SD negeri di Bandung.

Ternyata kaka terpapar pornografi dari ajakan teman-teman di sekolahnya. Teman-temannya suka menyebut kata “jilat” dan “kocok”. Kaka mengaku tidak mengerti apa arti dari kata-kata tersebut. Yang kemudian, kaka dipaksa oleh beberapa teman laki-laki yang (kalau di karate sudah) bersabuk hitam. Jadi kaka pertama kali diajak sampai diseret dan di dudukkan di warnet sebelah sekolah, saat itu pada jam istirahat. Dengan penjagaan yang begitu ketat, sehingga kaka tak kuasa menolak. Awalnya benar merasa jijik, namun lama-lama akan menjadi sebuah kebutuhan yang makin meningkat. Itulah adiksi.

Tahapan adiksi pornografi bisa dilihat melalui video berikut. Klik disini.

Kejadian itu ternyata berlangsung selama 2 tahun. Terus-menerus dilakukan pada saat jam istirahat. Ibu Ida belu mengetahuinya, hingga suatu hari….Ibu pulang dari kerja dan mendapati perilaku anaknya tidak wajar dan mencurigakan. Bisa jadi kadang anak terlalu baik, namun kadang bisa juga anak terlalu kasar. Ibu masih menolak untuk mengakui bahwa anaknya sedang bermasalah, sehingga di abaikan. Namun kala itu, ibu melihat sang anak sedang menonton video porno di PC yang memang sengaja Ibu letakkan di ruang keluarga (tidak di dalam kamar) agar mudah terpantau. Kaka tidak sadar kalau Ibu sudah pulang, sehingga Ibu pun melihat semua adegan yang terjadi di sana.

Dengan tergagap, kaka bertanya, “Ibu sejak kapan pulang?”
Ibu menjawab, “Sejak tadi, nak…”

Ketika melihat kejadian itu, tentu saja Ibu shock. Namun langkah pertama yang Ibu lakukan adalah tetap tenang. Tidak menceramahi, mengomeli, memberi nasihat ataupun malah mencerca si anak.

Ibu bertanya, “Nonton apa tadi, nak?”
Kaka menjawab, “Lihat film”
Ibu : “Film apa itu, kak..?”
Anak : “Film porno”
Ibu : “Kaka sudah pernah praktek…?”
Anak : “Engga, Bu.”

Dan dialog pun bergulir, sehingga Ibu meminta maaf pada kaka karena kesalahan Ibu yang terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak mendampingi dan menemani kaka di saat kaka butuh. Karena kaka sendiri pun mengakui kalau “Seenarnya aku mau cerita, bu…tapi Ibu sibuk. Jadi aku engga pernah bisa cerita ke siapa-siapa”.

Ibu membuktikan sekali lagi bahwa fitrah anak itu, baik. Anak itu mengerti keadaan orangtuanya dan anak itu sebenarnya tahu kalau yang dilakukannya itu berdosa.
Setelah meminta maaf, Ibu lalu memeluk kaka.

Proses ini sebenarnya tidak mudah. Ada kalanya anak tidak mau bercerita. Maka bersabarlah. Ibu mengajak kaka bercerita kurang lebih membutuhkan waktu selama 3-6 bulan.

Beberapa point pertanyaan yang Ibu tanyakan saat itu adalah

  • Apa perasaanmu ketika melihat?
  • Kemudian melakukan apa setelah melihat?
  • Kapan pertama kali melihat dan bagaimana caranya?
  • Kapan terakhir melihat?
  • Memberi kepercayaan pada anak bahwa ketika ia ingin melihat lagi, anak dapat memberitahu orang tua sehingga orangtua bisa membantu mencarikan solusi

Jadi, pelajaran untuk para orangtua adalah ketika anak bertanya tentang seks pada kedua orangtua nya, maka cari tahu dulu seberapa jauh yang ia pahami dan menjelaskan dengan bahasa yang baik dan tidak vulgar.
Karena kebanyakan orangtua ketika ditanya malah marah, berbohong, dan tak jarang malah mengalihkan ke hal lain.

DSC02496
Ibu Ida yang saat memberikan materi sedang kurang enak badan, syafakallah….Ibu.

Ibu juga memberikan beberapa ciri anak yang sudah terpapar pornografi, yaitu :

  • Suka berlama-lama di kamar mandi
    Solusinya : Ibu memberi batasan pada anak bahwa di kamar mandi hanya boleh (paling lama) 15 menit dan itupun sudah termasuk BAB.
  • Suka diam bahkan melamun
  • Menjadi mudah lupa dan mudah berbohong
  • Tidak konsentrasi
  • Tidak sengaja memegang pantat sampai membuka celana orang lain (bisa adik atau kakaknya)
  • Mengunci pintu di kamar
  • Ketika membuka gadget (laptop atau handphone) tidak mau dilihat orang lain
  • Mencium adiknya di bibir dengan ciuman yang tidak wajar
  • Menatap ibunya secara tidak wajar apabila tidak sengaja ibu menggunakan pakaian seksi atau tersingkap sedikit

Pentingnya pendidikan seks oleh kedua orangtua nya adalah

  1. Waktu untuk menjelaskan tentang seks pada anak adalah ketika anak bertanya, ketika ada kejadian yang sedang happening (dijadikan bahan diskusi keluarga) di lingkungan terdekat (misal : teman atau saudara) dan isu di media.
  2. Yang mejelaskan HARUS kedua orangtuanya.
    Tidak boleh di sub-kontrakkan pada sekolah. Orangtua diharapkan peka terhadap hal ini.
  3. Biasakan menyebut alat kelamin dengan nama biologisnya.
    Seperti : penis untuk kemaluan laki-laki dan vagina untuk perempuan. Bukan titit, burung, memek, dll.
  4. Mengajarkan anak usia 4 tahun untuk membasuh kemaluannya sendiri.
    Apabila anak laki-laki, diajaran oleh ayah. Sedangkan anak perempuan diajarkan oleh ibu.

Karena anak-anak sekarang menjadi lebih cepat baligh dikarenakan gizi nya terpenuhi oleh makanan cepat saji, karena faktor genetik dan karena banyaknya rangsangan yang didapat dari lingkungan luar.

Hal-hal yang perlu diajarkan kepada anak sebelum baligh :

  • Toilet Training
    Mengajarkan kepada anak bahwa kalau akan membuka celana tidak di sembarang tempat. Lalu ajarkan prinsip thaharah (bersuci) yang benar. Pastikan tidak kena ke celana dan ajarkan juga memakai celana kembali di tempat yang tidak terlihat orang (di dalam kamar mandi, misalnya)
  • Disampaikan secara personal mengenai menjaga kebersihan alat kelamin.
    Anak laki-laki bersama ayah dan anak perempuan diajarkan oleh ibu.
    Seperti mencuci celana dalam sendiri, bagaimana mencuci pembalut.
    Bagaimana cara mandi besar, ketika anak mengalami mimpi basah atau mandi besar pada perempuan saat selesai masa haid.
  • Menjaga pandangan
  • Mengajarkan pada anak mengenai bagian-bagian tubuh mana saja yang boleh dan tidak boleh di sentuh. Bahkan oleh orang terdekat sekalipun. Kaka, adik, ayah, om, dll.
    Karena banyaknya kasus incest, biasakan anak juga dikenalkan dengan beberapa jenis orang yang ada di sekitarnya.
  • Mengajarkan pada anak tentang hijab.
    Hubungan antara laki-laki dengan perempuan dan hubungan sesama jenis (mencegah penyimpangan seksual)
  • Mengajarkan 3 waktu untuk masuk ke kamar orangtua.
    Dan jangan lupa untuk mengetuk pintu dahulu sebelum masuk ke kamar.
  • Memberi batasan pada anak mengenai tidur bersama.
    Untuk anak berbeda jenis kelamin, pisahkan sejak kecil. Kalau sejenis kelamin, pisahkan ranjangnya, mesipun sekamar.
    Pisah tidur dengan orangtua sejak usia 7 tahun, bisa diajarkan sejak usia 5 tahun.
  • Batasan menggunakan gadget
    Di bawah usia 3 tahun sebaiknya tidak dikenalkan pada gadget sama sekali. Kalaupun harus, hanya diberi waktu 15 menit sehari.
    Lebih dari 7 tahun   : 1 jam/hari
    Lebih dari 10 tahun : maksimal 2 jam/hari

Ketika anak sudah terpapar pornografi, selain berdialog dengan anak seperti yang sudah dijelaskan di atas, ada beberapa hal yang harus dilakukan orangtua, yakni :

  • Bantu anak untuk mendeskripsikan langkah-langkah untuk sembuh
  • Yakin.
    Bahwa anak akan sembuh
  • Memberi kepercayaan pada anak
  • Karena terapis terbaik adalah orangtua, maka orangtua wajib introspeksi.
    Proses penyembuhan tidak instan, jadi orangtua mesti sabar dan anak dibekali ilmu agama serta ilmiah.
    Bahwa kelak seluruh anggota tubuh kita akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat. Jika tidak ada orangtua yang melihat, tapi selalu cctv 24 jam di samping kita, yakni Allah.
    Jangan langsung menawarkan anak untuk ke terapis bahkan membuangnya ke pesantren.

Seminar ini ditutup oleh Ibu Ida dengan kata-kata

Ingat,
bahwa kitalah yang diberi amanah untuk menjaga dan merawat anak.

Jangan pernah berputus asa,
lakukan doa, doa dan doa.

Bahaya pornografi lebih parah daripada narkoba.

Terimakasih Ibu,
Sudah berbagi pengalaman dengan kami……

Advertisements

3 thoughts on “Ngobras Serasi Materi 2 “Mendampingi Anak Lepas Dari Pornografi”

  1. Bermanfaat sekali seminarnya. Sampai harus kubaca 2 kali.

    Len, gimana caranya bikin font jadi besar gitu? Aku diajari pakai Bahasa HTML sama mantan muridku:

    yang ingin kita besarkan

    Masalahnya, hurufnya jadi sangat besar, ngerusak tampilan. Fungsinya bukan untuk meng-highlight point tertentu dalam tulisan kita, tapi untuk dapat perhatian search engine. Biar keluar di top 10 search result.

    Liked by 1 person

  2. Miss Rin selalu pakai versi HTML….?
    pakai versi visual, miss…

    bisa di atur di toggle advanced miss…
    trus ada gambar tanda petik alias blockQuote.
    langsung nge blok tulisan yg ingin di jadikan Quote dan atur besar kecilnya pakai paragraph.
    pilihannya : Heading 1, heading 2, dst…….sampai 6, miss…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s