My Seminary

Ngobras Serasi Materi 4 “Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak”

Berkenalan dengan Kak Idzma (nama beken beliau, nama aslinya Kang Idzma Mahayattika) lewat dongeng-dongeng nya yang diceritakan untuk membantu anak-anak lepas dari trauma dan tentang bagaimana menjadi ayah yang menyenangkan untuk anak-anak dengan segala aktivitasnya. Mari belajar dari beliau.

Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak makin meningkat tiap tahunnya. Dan inilah yang menjadi konsen Kak Idzma saat ini. Mengatasi anak-anak yang bermasalah dengan trauma dan menjadi konselor. Tidak mudah, tapi bukan berarti tidak mungkin.

Biasanya korban KSPA (Kekerasan Seksual Pada Anak) terjadi karena 2 hal, yakni :

  • Anak yang rapuh
    Bisa jadi berasal dari keluarga yang rapuh. Rapuh disini tidak hanya diartikan sebagai keluarga yang broken home alias kedua orangtua nya bercerai, namun juga bisa berarti dari keluarga dengan pengasuhan yang pincang (ber-ayah tapi tidak ber”ayah” aka. fatherless) atau ber-ibu tapi tidak ber”ibu”. Atau bahkan tidak dapat dari keduanya sekaligus.
  • Anak yang tidak tahu bagaimana harus bersikap
    Karena tidak mendapat ilmu mengenai seks dengan benar, sehingga apabila dipegang-pegang oleh orang asing, si anak tidak mengerti harus berbuat seperti apa. Pasrah.

Korban KSPA sama halnya seperti korban kecelakaan dan korban narkoba dalam hal menanganinya. Kebanyakan, para korban KSPA berasal dari anak yang tidak memiliki tempat untuk pulang. Karena fungsi rumah saat ini hanya sebagai HOUSE, yakni tempat berlindung. Seharusnya fungsi rumah adalah HOME, yaitu tempat untuk pulang dimana di situ terdapat kehangatan, perlindungan, dan tempat bercerita.

Kak Idzma memberi contoh kasus Emen, beberapa tahun yang lalu. Digambarkan Emen adalah seorang laki-laki dengan karakter ayah yang luar biasa. Ia begitu hangatnya memberi kasih sayang kepada anak laki-laki di bawah umur. Ada anak yang suka karate, maka Emen pun mengajari karate. Si anak lain suka mengaji, maka ia pun mengajari Emen. Jadi Emen mengajari sendiri anak-anak yang kesepian ini, sehingga ketika si anak-anak sudah merasa dekat, apapun yang diminta untuk dilakukan Emen ke anak-anak, mereka tak segan-segan untuk menuruti, karena adanya kedekatan yang ditemukan anak-anak pada diri Emen.

Bagaimana dan apa yang terjadi dengan anak-anak kita?
Apakah kita akan membiarkan anak-anak kita merasa lebih nyaman di luar sana…?
Ada banyak orang yang mau mengasihi anak-anak anda. Mereka menawarkan tempat yang nyaman untuk berbagi cerita dan surga.
Mereka memiliki komunikasi yang lebih baik daripada anda, orangtuanya sendiri.

Maka KSPA dapat disimpulkan dapat terjadi karena 2 hal : karena rayuan atau karena paksaan.

Ketika kejadian KSPA sudah terjadi, apa yang kak Idzma biasa lakukan…?

  • Bersikap tenang
  • Menggali informasi hingga mendapat informasi yang utuh
    Catatannya adalah : ketika menggali informasi ini harus dengan cara yang benar, diperlukan lingkungan yang terjaga privacy nya agar terhindar dari bullying. Perlakuan dengan cara menginterogasi akan membuat si anak menjadi trauma.
  • Mencari tahu apa yang anak maknai tentang kejadian itu
    Anak-anak Korban Kekerasan Seksual ini membutuhkan banyak kasih sayang. Jika kasih sayang kurang diperoleh dari orangtua, bisa digantikan oleh lingkungannya, seperti guru atau tetangga.
  • Memetakan kasus (mencapai level yang mana)

Karena level pada KSPA ada 3 macam yaitu :

  1. Innocent (hanya mencoba-coba karena penasaran)
  2. Intermediate (sudah pernah melakukan beberapa kali)
  3. Advanced (kegiatan yang sudah sangat terencana, karena pelaku memilih obyek sasarannya)

Salah satu modusnya yang saat ini biasa dilakukan adalah melalui social media yang sangat mudah diakses. Para pelaku akan dengan mudah membuat akun-akun palsu dengan foto yang menarik. Kemudian mereka memilih target dan sangat perhatian pada target. Anak-anak yang kurang kasih sayang dari orangtuanya, akan mudah sekali tertarik dan merespon rayuan pelaku. Kemudian pelaku biasanya meminta foto atau video yang bisa dikirim via messanger atau whatssup. Setelah itu apa yang terjadi….?
Foto atau video yang tersebar itu tentu tidak hanya dinikmati oleh satu atau dua orang saja. Tapi oleh ribuan orang karena diunggah di social media.
Setelah dinikmati banyak orang, bukan tidak mungkin kriminalitas terjadi. Bahkan ada yang langsung “dikerjain” oleh teman-teman pelaku.
*Naudzubillaah……

Korban Kekerasan Seksual Pada Anak bisa terjadi :

  • Antara anak kepada anak
    Bila hal ini terjadi, maka keduanya dianggap sebagai korban. Karena sebagian besar yang dilakukan anak adalah meniru dari apa yang dilihat.
    Masalah akan lebih cepat diselesaikan apabila lewat jalur kekeluargaan. Dan pasca kejadian, kedua anak mendapat konseling dari ahlinya (konselor, psikolog, atau psikoterapis)
  • Antara orang dewasa kepada anak
    Kalau ini sampai terjadi, maka pelaku harus melewati proses hukum yang tegas dan dijauhkan dari lingkungan anak-anak. Apabila diabaikan dan hanya diusir, maka akan makin banyak korban yang mengalami KSPA.
    Jalan keluarnya adalah melakukan konseling. Baik untuk korban maupun pelaku, tentunya.

DSC02552

Sekali lagi pesan kak Idzma dengan nada bercanda (*tapi tamparan buat semua orangtua…)

Bapak dan Ibu boleh-boleh saja tidak sayang anak-anak anda,
Namun……
Akan ada orang-orang seperti Emon yang sayang dengan anak-anak anda.

Astaghfirullaah….

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Ngobras Serasi Materi 4 “Kasus Kekerasan Seksual Pada Anak”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s