Diskusi

Pola Asuh Anak Yang Ibunya Bekerja

Pembahasan mengenai bagaimana dilematisnya seorang ibu yang bekerja selalu menjadi bahan pembicaraan yang hangat. Bahkan jadi panas kalau kita tidak bijak menyikapinya. selalu ada pro dan kontra, tergantung dari sudut mana kita melihatnya.

Bisa jadi kalau saya yang melihatnya, (menurut saya niih yaa….) ibu yang bekerja adalah penyiksaan. Secara, seorang ibu juga bekerja (lagi) di rumah setelah pulang kerja. Oke, katakanlah punya khadimat untuk menyelesaikan pekerjaan harian rumah tangga, tapi ada 1 hal yang tidak bisa digantikan oleh khadimat, melayani suami. Bukan berarti kalau sama anak bisa digantikan, tapi nyatanya, kita kalau sama anak suka aja menggampangkan urusannya.

“Kan ada daycare….”
“Kan ada nenenya, ada kakenya, ada siapalah apalah…”

Naah….Bunda Elly kali ini memberi banyaaakk pencerahan mengenai polemik ini.

Menurut Bunda Elly, Ibu bukannya tidak boleh kerja. Tapi kerja apa dan bagaimana yang dilakukan. Sehingga dari situ, kita bisa mengukur “Seperti apa pengasuhan yang sudah ibu lakukan?”
Pola asuh ini sangat penting. Karena jaman sekarang berbagai bahaya mengancam anak-anak kita. Bukan hanya lingkungannya, tapi juga ancaman itu bisa ada dari dalam rumah kita sendiri. Bagaimana tidak?
Ibu dan ayah menyediakan gadget di tangan, wi-fi di rumah, dan games.
Belum lagi saat ini banyak kasus yang diberitakan mengenai KSA (Kekerasan Seksual pada Anak), dan banyak lagi.

Jadi bagaimana Bunda kita mengambil keputusan?

Tanya pada diri sendiri. “Untuk apa kita bekerja….?”
Apakah adanya pengaruh dari luar (tuntutan dari ibu, ayah, bahkan suami)….?
Atau murni alasan itu datang dari dalam diri sendiri (ada wiring dari pengasuhan orangtua dahulu)…?

Kalau alasan Ibu bekerja dengan alasan untuk membantu suami dalam mencari rejeki, itu keputusan yang salah. Karena sesungguhnya rejeki itu datangnya dari Allah. Jadi percaya apa yang sudah diberikanNya melalui suami Ibu. Dan bentuk rejeki itu tidak hanya uang, bisa kesehatan, waktu, dan lain-lain.
Melihat anak tumbuh dan berkembang, itu juga rejeki.
Saat anak jatuh, lalu menangis, itu juga rejeki.

Jangan pernah merasa kekurangan jika Ibu tidak bekerja.

Apabila itu datangnya dari pengaruh keluarga, terutama suami, maka wanita bekerja itu harus sadar bahwa hukumnya wanita bekerja adalah mubah. Jadi tidak meninggalkan tugas utamanya, yakni mendidik anak-anak. Dan bahwa mencari nafkah lahir batin adalah tugas utama dari seorang suami. Bekerja tidak menjadikan alasan untuk meninggalkan anak selama 24 jam.

Bagaimana bisa menganalogikan kerja selama 24 jam?
Bunda Elly menjawab, Ibu masuk kerja jam 8 pagi. Jadi ibu bangun pagi jam 4, katakanlah. Lalu bersiap-siap dan jam 6 sudah berangkat kerja. Anak belum tentu sudah bangun jam segitu. Kemudian ibu pulang jam 4 sore. Perjalanan dan sampai di rumah sudah jam 6 sore. Waktu yang sudah dipakai bekerja 8 jam. Lalu istirahat tidur, kita ambil waktu paling sedikit aja yaa…6 jam. Jadi dari waktu 24 jam, yang sudah terpakai 14 jam tidak bersama anak. Sisa 10 jam, belum porsi tidur anak yang lebih banyak. Sebenarnya waktu yang dihabiskan ibu bersama anak hanya 4 jam. Itu sudah cranky banget. Saat badan ibu lelah bekerja, yang ada hanya tinggal marah-marahnya setiba di rumah saat menghadapi anak yang mendadak tantrum, rewel, dan tidak bisa sesuai dengan apa yang kita mau.

Maka apa yang kurang dari anak yang orangtua nya bekerja ?

  1. Attachment (kelengketan)
    Kelengketan di sini adalah keberadaan ibu di saat anak membutuhkan. Kapan saja. Bukan hanya dari segi fisik, namun juga jiwanya. Maka dalam buku “Bicara Bahasa Anak” Bunda Rani Razak Noe’man (penulis buku, ex-trainer YKBH) bahwa adanya penelitian mengenai pengaruh perasaan terhadap menerima informasi pada otak anak.
    Semua orangtua menginginkan anaknya cerdas, pintar, dapat ranking bagus dan masuk sekolah favorit. Berbagai upaya yang terbaik pun dilakukan orangtua. Namun upaya-upaya tersebut tak berarti apabila Ayah dan Bunda tidak memahami perasaan anak. Parasaan anak yang terabaikan akan mempengaruhi kerja otak dalam menerima informasi, terutama saat anak sedang merasakan perasaan negatif, seperti kesal atau marah. Sehingga apapun informasi yang masuk hanya bertahan di sistem limbik dan akan segera terlupakan.
    Sehingga mereka akan merasa kesepian, dan akhirnya pelariannya ke games dan pornografi. Anak-anak menjadi berperilaku buruk dan menyebalkan.
    Tapi rata-rata orangtua tidak sadar akan hal itu.
  2. Komunikasi Yang Miskin.
    Ketika kita lelah dengan pekerjaan, mana sempat kita melakukan beberapa hal berikut :
    ♥ Membaca bahasa tubuh
    ♥ Menebak perasaan
    ♥ Menamai perasaan
    ♥ dan Menerima apa yang dirasakan anak

Karena sebenarnya anak yang di tinggal Bunda bekerja akan mengalami kecemasan. Cemas berpisah dan cemas dengan wajah asing. Tapi kebanyakan dari kita (lagi-lagi) abai terhadap hal ini.
Anak akan merasa tidak dihargai dan hubungan dengan orangtua menjadi tidak baik, dan kebanyakan karena kelelahan, orangtua cenderung menggunakan 12 gaya populer dalam mendidik. Baca di tulisan saya berikut ini….klik disini.
Anak-anak yang tidak tercukupi kebutuhannya akan mudah sekali melakukan kegiatan-kegiatan negatif, seperti adiksi pornografi dan berujung pada ingin meniru karena dengan pornografi, ia merasa kebutuhannya terpenuhi. Otak senang, sedih dan kesepian pun hilang.

** Tapi, ada kok anaknya teman yang orangtuanya bekerja, tapi mereka baik-baik saja….
Kemudian Bunda Elly menjawab dengan singkat dan jelas. “Ukurannya apa? Apa yang dilihat mata, tidak bisa menggambarkan apa yang anak rasakan.”

 

3. Kebutuhan Anak Tidak Terpenuhi
Mereka akan memiliki ruang yang bolong-bolong. Siapa yang bisa mengisinya? Gadget? NO.
Ruang kosong itu haruslah kembali lagi pada Ayah dan Bunda yang mengisi. Hutang orangtua pada anak.

 

Ada kake, nene, om dan tante?
Mereka semua tidak se-Qualified anda, orangtuanya sendiri.

Jadi,
Bagaimana kalau yang sudah terlanjur bekerja, Bu Elly?
♥ Bikin list apa yang hilang dari pengasuhan Ibu kepada anak.
Setelah itu, sadari bahwa ayah juga diperlukan dalam sosok pengasuhan. Bukan hanya Ibu. Jadi mencari rejeki adalah tanggung jawab ayah. Pendidikan anak juga tanggung jawab ayah. Karena sosok ayah bukan hanya diperlukan sebagai figur untuk anak laki-laki namun juga untuk anak perempuan.

Maka apa yang dilakukan Ayah atau Ibu…?
Sebelum sampai di rumah, kira-kira 10-15 menit, silahkan BC ke beberapa grup dan teman yang biasanya diajak what’s up-an atau bbm-an. Bilang “Saya tidak bisa menjawab messages selama 1 jam ke depan, karena akan bertemu anak di rumah. Kalau anda tidak keberatan, tinggalkan messages dan akan saya balas nanti yaa…”

Setelah di rumah bertemu anak, tanyakan pada anak….Apa yang anak rasakan saat ini? Tadi saat sekolah?

Dan jangan pernah berpikir bahwa ANAKKU BAIK-BAIK SAJA.

Selama 1 jam ke depan, lakukan kegiatan bersama anak dan anggota keluarga yang lain. Misal : Menata meja makan.
Semua anak terlibat dan ajak komunikasi anak satu per-satu.
Ingat,
Kegiatan ini NO GADGET.

73c7453731d1f746b5528044d32c4176

Bagaimana siih…Bunda Elly menanyakan perasaan anak?

Misal bertanya pada anak. Bukan “Gimana tadi di skolah, nak?”
“Tadi belajar apa?”
“Ada Peer apa hari ini?”
Karena itu semua di luar diri anak.

Tanyakan yang ada dalam diri anak, misal :
“Kaka sedang kesal?”
“Kesal kenapa, sayang..? Capek?”
(biarkan anak menjawab, “Capek, Ma”)

Ibu tanya lagi, “Yang capek apanya, nak…? Badannya? Perasaannya?”
(Dijawab dengan anak “Otaknya, Ma….yang capek.”)

“Mama boleh tau capeknya otak itu gimana, nak?”

Terus gali perasaan anak, tanya dan Tebak Perasaan Anak.

Setelah menebak perasaan, selanjutnya kita bisa belajar Baca Bahasa Tubuh.
Karena kata-kata yang keluar dari mulut disebut bahasa verbal dan bahasa verbal sangat mungkin dimanipulasi. Namun apabila membaca bahasa tubuh, yang lebih nyaring dari bahasa verbal, selama 5 – 10 menit saja….maka anak yang tadinya bersedih, bisa menjadi gembira, karena merasa orang tuanya fokus pada dirinya.

Jadi bagaimana kalau hal tersebut dilakukan oleh seorang Ayah kepada anak?
Anak akan merasa “Tumben niih….bokap gue nanya-nanya apa yang gue rasain…”
Kira-kira baik engga perubahan seperti itu?

Ibu sebaiknya pun jangan pernah bilang “Kalau engga mau nurut, mama kasih tau ayah yaaa…”
Jadi seolah-olah sosok Ayah adalah algojo yang sukanya marah-marah.

Bunda Elly, bagaimana kalau kita menggunakan jasa asisten rumah tangga?
Boleh,
Namun cek beberapa hal sebelum merekrut asisten. Diantaranya :

  • Cek pengasuhannya
    Dia berasal dari keluarga utuh atau pecah.
    Kalau bisa ditanyakan kenapa pecahnya.
  • Hatinya lembut atau keras
    Kelihatan dari sikapnya terhadap anak-anak. Ini tidak bisa dibuat-buat. Biasanya yang berhati lembut, akan lembut juga pada anak.
  • Agamanya bagaimana
    Sholat atau engga. Takut sama Allah engga.
  • Bisa diajak bekerjasama
    Kalau memang dapat cutinya sedikit dari kantor, jangan langsung tinggalkan anak dengan pengasuhnya. Perhatikan dulu selama seminggu sampai 10 hari. Get along!
  • Selalu melibatkan orangtua dan mertua dalam mengambil keputusan
    Karena anak anda, bukan satu-satunya milik anda. Ada orangtua dan mertua yang memilikinya juga.
  • Cek history di handphone nya
    Bagaimana caranya? Bisa pinjam dulu HP yang digunakan si pengasuh.
    Lihat,
    Ada konten pornografinya tidak dalam history HP nya.

Jadi solusi bagi Ibu yang bekerja bagaimana?
Bekerja di saat anak yang paling kecil sudah berusia 8 tahun. Apabila puya 3 anak, yaa…berarti anak ke 3 yang berusia 8 tahun.
Jangan pernah membedakan pengasuhan tiap anak, karena mereka memiliki hak yang sama. Tidak ada yang boleh menjadi “korban” saat orangtua nya bekerja.

57f0b95bab95ec148f0ef68059447677

Semua anak berhak mendapat kasih sayang orang tua nya

Advertisements

5 thoughts on “Pola Asuh Anak Yang Ibunya Bekerja

    1. waaahhh….ada mama Rotuuun….
      karena beberapa waktu lalu di “protes” sama para mastah….jadilah saya kembali merombak rumah dan furniture nya (kata teh Shanty).

      Alhamdulillah kalau lebih engga bikin cape mata, mamaaa….
      *kisskiss

      Like

    1. hiihii…..ini acara diskusi rutin sama Bunda Elly Risman di radio Smart fm, teh…
      saya hanya sebagai fans beliau….ilmunya psikolog bangeettt….
      pake data dan fakta…bukan dari pengalaman aja.

      Haturnuhun yaa teh…uda mampir…
      *kisskiss

      Like

    2. hiihii…..ini acara diskusi rutin sama Bunda Elly Risman di radio Smart fm, teh…
      saya hanya sebagai fans beliau….ilmunya psikolog bangeettt….
      pake data dan fakta…bukan dari pengalaman aja.

      Haturnuhun yaa teh…uda mampir…
      *kisskiss

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s