Diskusi

Ketika Berantem Dengan Pasangan

Materi dengan pasangan selalu jadi materi yang saya tunggu, karena pembicaranya yang seorang Trainer di Yayasan Kita dan Buah Hati, Bunda Diah Karim, S.E, M.Si ini keren sekali dalam menjelaskan konflik apa saja yang biasanya membuat pasangan bisa berantem? Padahal saat pacaran dulu, engga begitu deh….kenapa sekarang saat sudah berumah tangga menjadi berbeda seratus delapan puluh derajat? Apa yang salah? Siapa yang salah? Dan begitu banyak perbedaan yang dialami ketika sudah menikah memicu permasalahan yang tadinya biasa-biasa saja menjadi konflik yang makin besar dan kian memanas. Pernikahan yang terkadang baru seumur jagung pun berpotensi memiliki masalah apabila tidak mampu menyelesaikan masalah yang muncul.

Apa sih konflik itu?
Bisa diartikan sebagai kemarahan, berbeda pendapat, yang berbahaya kalau levelnya sudah sampai menghina, labelling sampai berteriak dan merusak barang.

Potensi munculnya konflik dari mana?
Bisa dari mana saja, dari pendapatan yang berbeda, keuangan, orangtua, mertua, ipar, skala prioritas hubungan suami dan istri, sampai kehamilan pun bisa memicu konflik dalam rumah tangga.

Bayangannya niih….kalau sudah ada konflik, pasangan tersebut memang berada dalam satu rumah yang sama, namun ada di planet yang berbeda. *waaa…

Dan tak jarang salah satu pihak dengan mudahnya berkata “Yaa…sudah deh, kita pisah aja….sepertinya kita uda engga cocok lagi”. Seleb bangeett gitu looh….*uups maaf…
Kok gampang banget yaa…bilang pisah dengan pasangan? Dulu ingetnya apa saat mau memulai komitmen rumah tangga? Apa saja yang dipersiapkan saat ingin memulai komitmen tersebut? Pelaminan…catering…undangan…costume…?

Kita seringkali lupa mempersiapkan mental dalam berumah tangga. Hanya sekedar membicarakan siapa saya dan kamu, visi misi yang akan digunakan dalam berumah tangga, apalagi kalau yang wanita nya bekerja, dan lain-lain. Dan setiap keputusan yang diambil, pasti mengandung resiko. Jadi bijaksanalah dalam memutuskan sesuatu.

Jadi, kalau sudah menikah terus berantem boleh engga siih…?
Karena definisi berantem seseorang itu berbeda, maka perlu diluruskan kembali. Apa definisi dari berantem itu sendiri. Hanya berbeda prinsipkah? Atau sampai kepada kekerasan fisik?

“Kalau hanya berbeda pendapat, boleh berantem”, jelas Bunda Diah.
Karena itu sesuatu yang normal dan hanya terjadi sesaat. Bagaimana caranya?
Hadapi, jangan dihindari dan kalau hanya berbeda pendapat, itu bisa dibicarakan baik-baik.

Namun berantem yang dilarang adalah ketika sudah menggunakan kekerasan fisik, kekerasan verbal, dan sampai ada piring terbang di rumah.
Contoh kekerasan verbal itu adalah keluarnya kata-kata kasar dan cenderung labelling.
Misal :
“Aku benci sama kamu.”
“Kamu tuuh kok bodo banget siih…”
“Aku nyesel nikah sama kamu.”

Ingat, bahwa 2 orang menikah itu tidak hanya menyatukan diri. Tapi juga mengabungkan dua keluarga. Bayangkan bahwa kita yang sedari kecil dididik oleh kedua orangtua kita, dan suami pun begitu, memiliki latar belakang keluarga yang tidak sama, dan tiba-tiba dipersatukan dan berada dalam satu atap.
Perbedaan itu pasti selalu ada.
Hanya saja, jangan diperuncing dengan ego masing-masing.

Kasus perceraian rata-rata dialami karena iklim rumah tangga yang tidak nyaman dan itu tidak sehat, karena biasanya saling menyalahkan. Padahal kalau mau disadari, itu adalah salah kedua belah pihak. Baik pihak istri maupun suami.

e8f562cfb2f47e449c77adab91f11bc1

Bagaimana cara menyelesaikan masalah terhadap pasangan?

  • Tentukan skala prioritas konflik
    Skala prioritas masalah ada beberapa,
    Misal :
    ♦ Masalah yang bisa ditunda,
    ♦ Masalah yang bisa dihadapi dengan legowo, dan
    ♦ Masalah yang harus dibicarakan segera.
  • Setelah menentukan skala prioritas, maka konflik seperti apa contohnya yang harus diselesaikan segera?
    ♦ Cemburu
    Cemburu adalah masalah yang kerap menghinggapi pasangan. Dan cemburu bisa pula terjadi pada teman sekantor suami yang sejenis (tidak hanya dengan yang berlainan jenis kelamin). Karena suami lebih dekat dengan teman-teman sekantor, padahal ada istri di sampingnya, atau terlalu mementingkan teman daripada urusan keluarga, dan lain-lain.
    Hal ini jangan didiamkan dan dipendam, tapi bicarakan atas ketidak nyamanan kita terhadap sikap suami.Dan yang perlu diperhatikan kemudian adalah cara membicarakan masalah.
    Bukan dengan kalimat menyerang, tapi kalimat yang spesifik.
    Dan jangan pernah mengatakan kata-kata “Selalu” atau “Tidak pernah”.Contoh :
    “Papa itu kenapa siih….selalu engga pernah mau bantu pekerjaan di rumah”

    Kata-kata seperti itu sebaiknya diganti dengan “PESAN SAYA” namanya, seperti :
    “Mama kesal, papa kok gak mau bantu anak-anak belajar”

    Berbeda lagi kalau masalahnya suami pulang kerja terlalu larut. Jadi waktu yang dihabiskan dalam keluarga sedikit.
    Sampaikan menggunakan teknik PESAN SAYA.
    Caranya :
    “Aduuuh Pa….mama khawatir kalau papa pulang kerja malam terus begini…bikin anak-anak jadi engga dekat dengan Papanya”

    Karena pentingnya figur Ayah dalam sebuah keluarga. Dan interaksi antara ayah-anak tidak dibangun seketika, namun dimulai dari sejak anak masih kecil. Jangan mencari uang yang banyak untuk keluarga menjadi dalih untuk tidak bisa dekat dengan keluarga, karena sesungguhnya rejeki itu tidak hanya uang. Ada macam-macam bentuk rejeki. Termasuk anak-anak yang tumbuh sehat baik fisik maupun mentalnya.

Jadi inti dari komunikasi adalah

Menyampaikan masalahnya,
bukan menyerang, menghakimi ataupun mengkritik.

Karena sikap-sikap tersebut cenderung membuat seseorang menjadi pribadi yang defensif. Tidak mau dan tidak bisa enerima kritikan.

Maka sampaikanlah dengan sopan dan tidak menyerang.
Hindari judgement dan fokus pada masalah dengan menyampaikan langsung, tidak berbelit-belit.

 

  • Tetap pada 1 masalah, tidak mengungkit-ungkit masala lalu.
    Pesan yang salah :
    “Mas tuh egois….tadi kok nyuekin aku siih…Aku kesepian. Mas selalu begitu kalau sudah bersama teman-teman”Lebih baik disampaikan “Mas…aku sedih. Tadi waktu kumpul-kumpul dengan teman, mas nyuekin aku.”

    Konfrontasi yang baik adalah yang disampaikan secara pribadi, tidak dihadapan orang banyak atau di depan publik.
    Yang terpenting dalam menyelesaikan masalah adalah mempertahankan hubungan suami-istri, bukan memenangkan masalah.

    Kalau merasa masalah yang dihadapi terlalu berat, ada baiknya meminta bantuan pada ahlinya yaitu psikolog. Dan apabila ada masa lalu yang belum terselesaikan, maka selesaikanlah.
    Jangan pernah dibawa ke masa depan.

Jadi, memang benar bahwa laki-laki dan perempuan itu berbeda. Pengaruh hormonal yang dominan dan kinerja otak mempengaruhi karakter masing-masing.

th

Ada berbagai cara untuk dealing perbedaan pendapat antar pasangan, diantaranya :

  1. Pasangan yang selalu setuju dengan pendapat pasangan.
    Tanpa marah, tanpa menang sendiri.
  2. Jangan selalu menaruh masalah di dalam hati.
  3. Apabila pasangan melakukan kesalahan, maafkan.
    Dengan pasangan mengaku bahwa merasa bersalah, maka bukalah diri dan jadikan masalah yang sudah lalu sebagai bahan candaan untuk sesekali.
  4. Belajar dengan cara melihat pada pasangan lain.
    Bukan bermaksud untuk membandingkan atau berkompetisi, namun untuk menjadi jalan dalam menyelesaikan masalah.

Sesi Q and A.

  1. Bunda,
    Saya sedang ta’aruf dengan seorang laki-laki. Dari segi agama, akademik dan apapun sudah oke, bunda. Hanya sifatnya mirip ayah saya. Saya agak trauma dengan sifat ayah saya yang tempramental dan keras.
    Bagaimana yaa Bunda?

    Bunda Diah menjawab,
    Sebaik-baik memilih pasangan adalah dari imannya.

    Tapi memang masing-masing orang memiliki kriteria dalam memilih jodoh sendiri. Dan itu tanyakan kembali ke diri. Apa saja kriteria tersebut.
    Misal : Pertama, pendidikan. Kedua, Bekerja dimana. Ketiga, Wajah…dan seterusnya.

    Kalau sifatnya yang mirip ayah…ada baiknya diceritakan dulu dengan sang calon. Bagaimana keadaan keluarga, apakah dari keluarga yang broken home…tanpa figur ayah yang melindungi, dan lain-lain. Agar bisa saling memahami latar belakang masing-masing pribadi.

  2. Bunda,
    Saya baru menikah 5 tahun. Selama ini setiap ada masalah selalu beres, namun saya takut kalau ada masalah lagi ke depannya. Bagaimana cara menghilangkan ketakutan tersebut?

    Jawaban dari Bunda Diah,
    Jangan pernah takut sama sesuatu yang belum terjadi, itu sama saja mengundang “masalah”. Konflik dalam rumah tangga itu pasti ada, dan itu bisa jadi bumbu penyedap.

    Yang penting harus dilakukan adalah istri tahu hak dan kewajiban sebagai istri, dan suami pun begitu, sadar dengan hak dan kewajibannya sebagai seorang suami.

    Jadi,
    Apapun persoalan yang sedang dihadapi, tetaplah berlaku manis dan mesra kepada pasangan.

  3. Saya sewaktu kecil pernah melihat KDRT yang terjadi dalam rumah tangga kedua orangtua saya, dan saya merasa trauma. Jadi saya sekarang merasa takut untuk menikah.
    Apa yang harus saya lakukan untuk menghilangkan trauma tersebut?

    Jawab Bunda Diah,
    Trauma karena masa lalu bisa disembuhkan dengan cara meminta pertolongan pada psikolog. Mereka punya metode untuk konseling, misalnya dengan menggunakan teknik hypnotherapy atau melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda.

    Tidak perlu takut atau khawatir akan masa depan.

Pesan dari Bunda Diah Karim,

Konflik adalah warna dalam rumah tangga.
Kebahagiaan itu harus diciptakan, bukan dicari di luar.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s