Diskusi

Menghadapi Kecemburuan Pada Anak

Yang mempunyai anak lebih dari satu, pasti pernah mengalami hal ini. Saya sendiri mengalami masa-masa di mana pengasuhan terlihat tidak semudah yang saya bayangkan. Di saat saya menikmati kebersamaan saya bersama kaka yang saat itu berusia 16 bulan, kemudian saya dikejutkan dengan dua garis merah pada testpack yang saya pegang saat itu. Ya, saya punya banyak stock testpack di rumah, karena kami memutuskan untuk tidak menggunakan KB. Selain karena saya menyusui aktif, yang konon katanya bisa menjadi KB alami, dan saya merasa menstrusi saya sangat teratur jadwalnya.

Akhirnya, tepat ketika kaka berusia 2 tahun, selang seminggu setelah ulang tahunnya, saya melahirkan anak kedua kami, Hana. Apakah kaka terlihat cemburu saat itu?

Entahlah,
Karena saya sibuk dengan bayi baru. Dari mulai setelah melahirkan, saya hanya mengkhawatirkan “Apakah kaka bisa tanpa saya?”, nangis tidak saat bersama kakung dan uti, mau makan tidak, toilet trainingnya berjalan lancarkah dan sebagainya. Terpikir kaka sedih tidak ada saya saat itu…..

Larut dalam kisah yang saya alami dulu….

Bunda Elly kali ini membawakan materi diskusi yang bagus sekali. Mengenai kaka yang cemburu dengan adik.

Apakah cemburu itu wajar?
Wajar dan bahkan menjadi sunnah bila itu terjadi dalam hubungan suami-istri. Karena hakikatnya manusia dilahirkan dengan adanya perasaan cemburu.

Bagaimana mengubah cemburu itu menjadi cemburu yang sehat?
Biasanya kecemburuan pada anak karena apa?
Kasih sayang?
Perhatian?
Barang?

Itulah mengapa Bunda Elly sangat menyarankan beberapa hal untuk mempersiapkan psikologi si kaka untuk menyambut yang disebut “adik” di rumah. Di antara nya :

  • Usia kaka saat mempunyai adik.
  • Jarak usia kaka dan adik.
  • Bagaimana persiapan pada saat hamil? Memang direncanakan atau tidak?
    Kondisi emosi Ibu saat hamil bagaimana?
    Karena kondisi emosi Ibu saat hamil mempengaruhi kondisi anak saat lahir. Jadi anak memiliki riwayat psikologis masing-masing.
  • Bagaimana Ibu memperlakukan anak sebelum adik lahir.
  • Komunikasi.
    Pernahkah Ibu membanding-bandingkan anak?
    Kondisi Ibu bekerja atau tidak.
Crawling baby girl accost brother. He is envy.
Crawling baby girl accost brother. He is envy.

Yang sudah memiliki rasa cemburu itu adalah kaka, karena adik masih bayi.
Sehingga otaknya masih belum bersambungan.

Karena otak kaka yang sudah lebih dulu bersambungan, maka yang mengenali perasaan cemburu adalah kaka. Bukan adik yang masih bayi.

Bayangkan saja,
Ketika adik lahir, semua orang datang menjenguk adik bayi dan memberi kado untuk bayi sambil berkata “Lucu yaa….”atau “Cantiik yaa…”

Bagaimana perasaan kaka?
*bayi yang lemah itu lucu…? Gue?

Sehingga kita sebagai orang dewasa, jangan menuntut anak untuk memahami kita. tapi, pahamilah anak-anak dengan dunianya dan otaknya yang masih sedikit sambungannya tersebut.

Berpikirlah dari sudut pandang anak, Wahai Orangtua.

Ajak main kaka, ketika Ibu sedang tidak menyusui.
Karena kebutuhan bayi hanyalah susu. Ketika selesai menyusu dan si bayi kenyang, Ibu bisa berikan bayi tersebut untuk dijaga orang lain dalam rumah. Atau bisa di tidurkan. Dan Ibu perhatikan serta penuhi kebutuhan kaka.

Apalagi yang Ibu bekerja. Biasanya pulang langsung pegang bayi.
Mulai sekarang, biasakan untuk menyapa kaka duluan dan mengajaknya bercerita. Mengajak komunikasi, maka muncul kelengketan antara Ibu dengan kaka.

Karena hal ini tidak bisa dikerjakan oleh Ibu sendiri, maka peran ayah di sini sangatlah dibutuhkan. Karena ayah berbicaranya tidak pernah panjang-panjang. Cukup 15 kata.

Maka dicanangkan program :

Dalam 1 keluarga, jangan ada 2 balita.

Mengapa?
Dilihat dari sisi psikologis (kestabilan emosional) sang Ibu ketika anak yang lebih besar sudah bisa diajak berkomunikasi dan keadaan menjadi lebih mudah di manage.

 

Berikut TIPS dari Bunda untuk mengenalkan adik ketika masih dalam kandungan :

  • Persiapan harus dilakukan kedua orangtua dalam pengenalan “adik”.
    Kenapa orang tua jarang sekali melakukan ini?
    Salah satunya karena jarak usia kaka dan adik yang masih terlalu pendek.
  • Kata kuncinya : BICARA PRAKTIS. Bagaimana caranya?
    Tidak berbicara yang terlalu panjang pada anak sebagai kalimat pembuka.
    Hanya 10 kata.
    Contoh : “Adik akan lahir, kecil seperti kaka dulu”
    “Adik bayi itu lemah dan harus dilindungi”
  • Mengajak kaka ke rumah salah satu teman yang baru melahirkan agar kaka punya bayangan tentang “adik”.
    Otaknya yang masih sedikit sambungannya tersebut, dikuatkan dengan sesuatu yang kongkrit, bukan abstrak. Apalagi hanya dengan kata-kata “Nanti kalau adik lahir, kaka bakal punya teman main”. Kata-kata abstrak tersebut tidak akan dimengerti oleh anak, karena kenyataannya, ketika adik baru lahir, tidak bisa diajak main. Malah merebut perhatian semua orang yang ada di sekitanya. Maka katakanlah, “Adik bayi ini kecil, tidak berdaya, dan harus ditolong”.

baby

 

Tugas memberi pemahaman ada di Ayah dan Ibu. Bukan hanya Ibu. Karena kata-kata Ayah yang pendek-pendek itulah yang dibutuhkan anak.

(Yang jarang sekali para ayah lakukan adalah) Ayah memahami perasaan anak. Bisa dengan bertanya “Jadi, setelah kaka lihat bayi teman Ibu, kaka suka atau tidak suka (akan) punya adik?”

“Engga, Yah….”

“Kenapa?”

“Repot!”

“Repot apa?”

Gali terus perasaan anak dengan bertanya. Hal ini dinamakan mengurai perasaan anak.

Karena perasaan iri atau cemburu tidak boleh dihukum, namun disalurkan agar anak berpikir.

Masalah yang ada saat ini terkait dengan perasaan iri atau cemburu, hendaknya diselesaikan secepatnya, agar tidak berkepanjangan hingga anak-anak tumbuh besar. Karena bisa jadi, sifat ini muncul saat berbagi warisan dalam keluarga.

Memberi pengertian kepada anak bahwa rejeki berasal dari Allah dan tiap-tiap manusia diberi rejeki yang tidak sama. Dan lagi, bahwa rejeki tidak hanya berbentuk uang. Ada rejeki lain yang tidak bisa dinilai dengan uang, seperti keimanan, kesehatan, keluarga yang nyaman dan tenteram, dan nikmat lain yang niscaya tak terhitung jumlahnya.

Karena memberi pengertian ini, membutuhkan waktu berkomunikasi yang panjang dan intens. Maka sudah jelas bonding antara orangtua dan anak akan terbentuk. Penanaman pemahaman ini dapat dilakukan melalui media permainan, membacakan kisah-kisah dalam buku cerita, bahkan melalui nyanyian.

story telling
source : doc. pribadi (Drg. Elke dan kedua putranya)

Kenalilah beberapa tanda anak sedang (mengalami) cemburu, yaitu :

  • Sikapnya sangat mengganggu.
    Bisa mengganggu siapa saja. Orangtua ataupun adiknya yang masih bayi.
  • Rewel.
  • Regresi.
    Biasanya sudah bisa pipis di kamar mandi, jadi ngompol lagi.
    (Regresi : Perubahan sikap/kebiasaan yang terjadi pada anak)

Kalau mengalami tanda-tanda anak sedang cemburu, orangtua langsung tanggap membuatkan saluran emosinya, kemudian disalurkan. Dengan cara mengajak dialog,
“Gak enak yaa…kak, punya adik?”
“Perhatian mama jadi terbagi yaa, kak….karena ada adik?”

Teruslah mengajak kaka berdiskusi dan melakukan kegiatan bersama lainnya. Attachment. Itu yang diperlukan anak.

 

Q and A.

  1. Bunda Elly,
    Saya mempunyai anak 4 tahun dan 6 bulan.
    Saya selalu melibatkan kaka dalam merawat adik. Namun, si kaka sering mencubit adiknya di saat saya lengah. Apa yang kurang dari saya yaa, Bunda?

    Jawab.
    Ibu memang melibatkan kaka melakukan banyak hal dalam merawat adik, tapi apakah Ibu sudah menguraikan perasaannya?

    Tanya pada kaka…”Kaka mau punya adik, gak?”
    Kalau jawabannya,”Engga…”
    Ibu bisa tanya,”Kenapa engga mau punya adik?”
    “Soalnya adik cuma bisa nangis aja.”
    “Iyaa…ya, nyebelin yaa kak….apalagi kalau sudah nangis, nangisnya kenceng banget!”

    Kejar terus dengan peranyaan-pertanyaan seputar perasaan kaka saat itu. Uraikan. Karena perasaan kaka hanyalah saat ia menjadi kaka, tugasnya pun menjadi lebih banyak.

    Anak bisa menjadi anak yang pembangkang karena kurang kasih sayang orangtua dan kurangnya teknik pendisplinan.

 

Bunda Elly pun bercerita tentang sebuah kisah nyata yang terjadi di Amerika saat beliau sedang di sana. Bahwa ada sebuah keluarga dengan 3 anak. Ketiga anak dalam keluarga tersebut baik semua. Anak pertama, baik. Anak kedua pun baik. Namun memiliki sifat rendah diri karena kurangnya kepercayaan yang diberikan oleh kedua orangtuanya. Orangtuanya selalu mengatakan “Ya, sudahlah….nanti biar diselesaikan dengan adik”.

Lalu apa yang terjadi?

Ketika adiknya yang bungsu mengalami musibah, suaminya meninggal…maka adik ini minta tolong pada kaka yang kedua untuk memegang perusahaan mendiang suaminya. Namun yang terjadi malah perusahaan tersebut bangkrut.

Meninggallah orangtua yang laki karena terlampau sedih.

Bagaimana itu bisa terjadi?

Ternyata setelah diusut, sebenarnya yang terjadi adalah kaka yang kedua mengalami cemburu. Cemburu yang dialami sejak kecil dan tidak segera diselesaikan. Kaka selalu merasa bahwa dirinya tidak bisa apa-apa. Dan kalaupun terjadi sesuatu, maka akan diselesaikan oleh adik.

Maksud orangtua adalah melidungi kaka, namun malah membuat rusak jiwanya, yang jadi tidak bisa struggle dalam menghadapi masalah.

 

2. Bunda, saya memiliki 2 anak laki-laki.
Usia kaka 6 tahun dan adiknya baru berusia 4 bulan.
Seringkali kaka menguasai apa yang dimiliki adik.
Misalnya, adik dapat kado. Kaka selalu memilikinya. Belum lagi kalau adiknya sedang nangis, kaka langsung bekap mulut adik agar tidak berisik.

Saya sering berkata,”Jangan gitu, bang….adik masih kecil”.
Yang saya takutkan adalah kebiasaan suka memukul kaka pada adik ini.
Bagaimana mengatasinya yaa, Bunda Elly?

Jawab.
Yang perlu ditanyakan adalah Ada Apa Di Balik Suka Memukul dan Membekap?

Ada perasaan di sana.

Ayah ambil peran Ibu. Karena Ibu lelah, saat hamil dan melahirkan. Maka Ayah ambil peran dengan memberikan waktu bermain lebih banyak bersama Abang.

Left brain with the left brain.

Kuasai emosi kaka dahulu. Kembali lagi dengan kalimat tanya untuk membaca perasaan anak.
“Kaka sebel yaa…?”
“Adik berisik yaa…kalau nangis?”

Karena anak tidak bisa mengatakan “Mama perhatikan aku!”

Maka orang dewasa lah yang harus memahami dan mengerti perasaan anak. Bisa dari membaca gesture tubuh dan perbuatan yang dilakukan pada lingkungannya.
Perhatikan selama 5-10 menit.

Jangan pernah menggunakan kalimat nasihat yaa, Bu….seperti “Adik kan masih kecil.”

Beberapa pesan pada akhir sesi siaran Smart Parenting di Smart FM ini adalah

  1. Selesaikan masalah yang ada di dalam diri sendiri dahulu.
    Manage Your Anger.
  2. Memberi contoh hal-hal yang baik, anak akan meniru.
  3. Tunjukkan kemampuan anak, jangan melemahkan.
  4. Buktikan keberhasilannya bahwa dia bisa.

 

Keep Growing with Your Child…..^^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

One thought on “Menghadapi Kecemburuan Pada Anak

  1. Anak saya bedanya 2,5 tahun, dulu pas lahir, kakaknya kadang baik kadang iseng/cemburu hihihihi,, btw tapi emang perlu banget sih ya di jarak antar anak, jangan ada 2 balita di rumah. Skrg saya langsung KB 😀 takut bobol lagi 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s