Family Stories

Kisah Kami Di Hari Itu . . .

Niat hati ingin menghadiri acara Dongeng bersama para pendongeng ternama, namun apa daya…kami tidak dapat memasuki ruangan karena kesiangan mendaftar dan beberapa panitia acara, saat kami tanya, menjawabnya sungguh di luar dugaan.

“Maaf, Bu…kami panitia lapangan. Bukan panitia acara”

“Ooh…jadi kalau acara sebesar ini (dan sudah rutin diadakan tiap tahun) engga ada briefing untuk seluruh panitia yaa…??”. Gerutu batin saya kesal.

Yaa, sudahlah…saya berjalan-jalan berkeliling halaman depan Museum Geologi yang sudah tidak asing lagi bagi saya dan anak-anak. Toh masih ada booth-booth pameran yang menampilkan banyak hal baru untuk anak-anak.

Booth pertama yang kami kunjungi adalah komunitas pecinta burung hantu, yang diberi nama Bang-Bung.

Di booth ini, semua yang berkunjung boleh memegang, mengelus bahkan diijinkan berfoto bersama sang burung hantu yang terlihat garang, namun (garing dan) lembut di dalam. Heehhe…kaya salah satu icon wafer yaa…?

Sungguh,
Saya pikir burung hantu itu galak. Ternyata sangat ramah, dan bisa melek juga di siang hari. Menurut para kaka yang menjaga booth, karena burung hantu yang berada di komunitas ini sudah dilatih untuk ikut pameran. Jadi bisa tidak tidur saat siang.

Tatapan tajam para burung hantu memang membuat Ai dan Hana gemetar, sehingga kaka dan adik hanya mencoba berfoto dengan 1 jenis burung hantu mungil. Sayangnya, saat saya tanya nama latinnya apa, mereka menjawabnya kurang fasih. Heehhe…kepo deh si mamah!

owl
ooh….so cute! (source : pinterest)

 

Setelah puas anak-anak membelai si owl, kami pun beranjak ke booth lain. Ehhm…ada yang menggoda mama, karena salah seorang penjaja majalah menawarkan barangnya dengan harga yang dibawah normal seraya berseru “Dapet bonus, Bu…” Laaah, emak-emak macam saya ini langsung kalap.

Dengan berdalih untuk anak…sebenarnya saya yang ingin bernostalgia dengan majalah semasa anak-anak dulu.

coverbobo
Cover Majalah Bobo

 

Isinya tak banyak berubah, tetap kaya akan ilmu pengetahuan umum dengan rubrik pengayaan yang makin berbobot. Hanya, jaman dulu ada kolom sahabat pena (seingat saya), tapi karena jaman sekarang sudah tidak ada lagi anak-anak yang gemar surat-menyurat, jadilah saya kehilangan rubrik itu.

Yang membuat saya kagum, tetap ada kolom puisi, kolom menggambar dan mewarnai kiriman pembaca setia, dan kolom berbagi pengalaman. Ada juga curhat dengan kak Mala. Heuu….kangen masa-masa itu.

Tokoh yang ada di tabloid ini tetap menampilkan kisah-kisah syarat makna dari Bobo, Paman Kikuk, hingga Bona.

 

Perjalanan kami berlanjut ke booth ke tiga yaitu booth dari Planet Sains. Tentu sudah tidak asing lagi bagi warga Bandung mendengar nama Planet Sains. Fasilitator yang menyediakan ragam percobaan sains dari mulai yang sederhana hingga rumit dan mengenalkannya pada masyarakat dengan cara seru dan mengasyikkan.

Saat acara ini, Planet Sains membawa percobaan roket air, sepeda bertenaga kinetik, koin melayang dalam air dan seperangkat permainan ular tangga yang besaaarr sekali, sehingga kita yang berperan menjadi pionnya.

*Seru sekaliii…apalagi kalau mainnya bersama teman-teman.

 

Terakhir, saya dan anak-anak memantapkan hati ke booth Origami. Heehe…karena awalnya saya takut, sudah lama sekali tidak berlatih Origami. Semenjak Sensei Deris tidak mengajar lagi di Rumah Belajar – Cikutra, kira-kira.

Setelah asik melihat-lihat hasil origami yang luar biasa kece, saya pun ingin membeli kelincingan untuk dipasang di mobil. Namun, saya iseng-iseng bertanya…”Ini bikinnya susah gak, teh?”

“Ibu mau belajar? Mari Bu, saya ajarkan caranya…mudah sekali.”

Oke laah…dalam hati saya. Siapa tau ilmu hari ini bermanfaat untuk bermain dengan anak-anak. Ternyata memang mudah sekali…hanya perlu satu bentuk, dan untuk menjadi sebuah bola atau bunga, tinggal membuat beberapa temannya yang sejenis, lalu direkatkan.

origami

 

Setelah belajar membuat origami bunga dan bintang (3 D), Ai mengambil kertas lipat mini-mini. Saya bingung karena tidak tahu cara membuatnya (meskipun ada instruksinya, namun menurut saya, origami itu tetap harus ada sensei yang mengajari. Umm…apa karena saya lemah dalam melihat instruksi dalam bentuk gambar yaa…??).

Akhirnya si kertas origami mini-mini tersebut jadilah boneka jari yang kiyut. Hiihii..

Ai

 

Origami boneka jari berbentuk hewan. Kelinci, anjing, dan kucing.

Semenjak ada boneka ini, kaka dan adik asik story telling ala pendongeng. Saya?
Mendengarkan dengan seksama…^^

** Jangan gagal fokus sama yang di belakangnya yaah…heehe…itu mah galeri lukisan rumah kami.

 

 

Alhamdulillah,
Setelah booth terakhir yang kami kunjungi itu, usailah sudah perjalanan kami hari ini. Tidak banyak yang dapat saya ceritakan, tapi banyak ilmu yang dapat dipelajari anak-anak hari ini.

Happy Learning, Kiddos!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s