Rumah Belajar IIP Bandung

[Bunda.Cekatan] Bunda, Manager Handal Keluarga

Cita-cita awal saya (memang) tidak ingin menunda pernikahan dan menjadi Ibu seperti Ibu saya. Hanya bekerja di ranah domestik. Tidak ada impian lebih dari ini. Dan qodarulloh dipertemukan dengan keluarga yang background nya sama dengan saya. Mertua juga bekerja di ranah domestik. Dan curhatan kami saat saling telpon, selalu sama.

Jadi saya berpikir, apakah saya, Ibu dan mertua (pernah) merasa jenuh menjalani profesi ini?

Pas banget dengan materi Matrikulasi #4 pada hari Senin, 6 Juni 2016 untuk me-refresh kembali peran Ibu dalam Rumah tangga dan menguatkan pondasi tersebut.

MOTIVASI BEKERJA IBU

Ibu rumah tangga.
Sebutan yang biasa kita dengar untuk ibu yang bekerja di ranah domestik.

Ibu Bekerja.
Untuk ibu yang bekerja di ranah publik.

Maka melihat definisi di atas, sejatinya semua ibu adalah ibu bekerja, yang wajib professional menjalankan aktivitas di kedua ranah tersebut, baik domestik maupun publik.
Apapun ranah bekerja yang ibu pilih, memerlukan satu syarat yang sama, yaitu kita harus SELESAI dengan management rumah tangga kita, kita harus merasakan rumah kita itu lebih nyaman dibandingkan aktivitas dimanapun. Sehingga anda yang memilih sebagai ibu rumah tangga, akan lebih professional mengerjakan pekerjaan di rumah bersama anak-anak. Anda yang Ibu Bekerja, tidak akan menjadikan bekerja di publik itu sebagai pelarian ketidakmampuan kita di ranah domestik.

Mari kita tanyakan pada diri sendiri, apakah motivasi kita bekerja di rumah?
a. Apakah masih ASAL KERJA, menggugurkan kewajiban saja?
b. Apakah didasari sebuah KOMPETISI, sehingga selalu ingin bersaing dengan keluarga lain?
c. Apakah karena PANGGILAN HATI, sehingga anda merasa ini bagian dari peran anda sebagai Khalifah?
Dasar motivasi tersebut akan sangat menentukan action kita dalam menangani urusan rumah tangga.
a. Kalau anda masih ASAL KERJA, maka yang terjadi akan mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, anda menganggap pekerjaan ini sebagai beban, dan ingin segera lari dari kenyataan.
b. Kalau anda didasari KOMPETISI, maka yang terjadi anda stress, tidak suka melihat keluarga lain sukses.
c. Kalau anda bekerja karena PANGGILAN HATI, maka yang terjadi anda sangat bergairah menjalankan tahap demi tahap pekerjaan yang ada. Setiap kali selesai satu tugas, akan mencari tugas berikutnya, tanpa MENGELUH.

Masih ingat satu quote di Ibu Profesional kan,

“The only reality is YOUR PERCEPTION”

Peran Ibu sejatinya adalah seorang manager keluarga, maka masukkan dulu di pikiran kita
“Saya Manager Keluarga”, kemudian bersikaplah, berpikirlah selayaknya seorang manager.,
a. Hargai diri anda sebagai manager keluarga.
Pakailah pakaian yang layak (rapi dan chic) saat menjalankan aktivitas anda sebagai manager keluarga.
Kalau saya memakai istilah 7 to 7, dari jam 7 pagi – 7 malam, menggantung daster, memakai pakaian yang rapi, layak, nyaman.

b.Rencanakan segala aktivitas yang akan anda kejakan baik di rumah maupun di ranah publik, patuhi.

c.Buatlah skala prioritas

d.Bangun komitmen dan konsistensi anda dalam menjalankannya.

planner2
Source : pinthemall.net

MENANGANI KOMPLEKSITAS TANTANGAN

Semua ibu, pasti akan mengalami kompleksitas tantangan, baik di rumah maupun di tempat kerja/organisasi, maka ada beberapa hal yang perlu kita praktekkan yaitu :

a. PUT FIRST THINGS FIRST
Letakkan sesuatu yang utama menjadi yang pertama. Kalau buat kita yang utama dan pertama tentulah anak dan suami.

Buatlah perencanaan sesuai skala prioritas anda hari ini – aktifkan fitur gadget anda sebagai organizer dan reminder kegiatan kita.

b.ONE BITE AT A TIME
Apakah itu one bite at a time?

Lakukan setahap demi setahap – Lakukan sekarang -Pantang menunda dan menumpuk pekerjaan.

c. DELEGATING
Delegasikan tugas yang bisa didelegasikan, entah itu ke anak-anak yang lebih besar atau ke asisten rumah tangga kita.
Ingat anda adalah manager, bukan menyerahkan begitu saja tugas anda ke orang lain, tapi anda buat panduannya, anda latih, dan biarkan orang lain patuh pada aturan anda.

Latih – Percayakan – Kerjakan – Ditingkatkan – Latih lagi – Percayakan lagi – Ditingkatkan lagi begitu seterusnya.

Karena pendidikan anak adalah dasar utama aktivitas seorang ibu, maka kalau anda memiliki pilihan untuk urusan delegasi pekerjaan ibu ini, usahakan pilihan untuk mendelegasikan pendidikan anak ke orang lain adalah pilihan paling akhir.

PERKEMBANGAN PERAN

Kadang ada pertanyaan, sudah berapa lama jadi ibu?
Kalau sudah melewati 10.000 jam terbang seharusnya kita sudah menjadi seorang ahli di bidang manajemen kerumah-tanggaan.

Tetapi mengapa tidak?
Karena selama ini kita masih SEKEDAR MENJADI IBU. Ada beberapa hal yang saya lakukan ketika ingin meningkatkan kualitas saya agar tidak sekedar menjadi ibu lagi, antara lain:

a. Dulu saya adalah kasir keluarga.
Setiap suami gajian, terima uang, mencatat pengeluaran, dan pusing kalau uang sudah habis, tapi gajian bulan berikutnya masih panjang.
Maka saya tingkatkan ilmu saya di bidang perencanaan keuangan, sehingga sekarang bisa menjadi manager keuangan keluarga.

b. Dulu saya adalah seorang koki keluarga.
Tugasnya memasak keperluan makan keluarga. Dan masih sekedar menggugurkan kewajiban saja. Bahwa ibu itu ya sudah seharusnya masak.Sudah itu saja, hal ini membuat saya jenuh di dapur.
Akhirnya saya cari ilmu tentang manajer gizi keluarga, dan terjadilah perubahan peran.

c. Saat anak-anak memasuki dunia sekolah, saya adalah tukang antar jemput anak sekolah.
Hal ini membuat saya tidak bertambah pintar di urusan pendidikan anak, karena ternyata aktivitas rutinnya justru banyak ngobrol tidak jelas sesama ibu –ibu yang seprofesi antar jemput anak sekolah.
Akhirnya saya cari ilmu tentang pendidikan anak, sehingga meningkatkan peran saya menjadi manajer pendidikan anak. Anak-anakpun semakin bahagia karena mereka bisa memilih berbagai jalur pendidikan tidak harus selalu di jalur formal.

d. Cari peran apalagi, tingkatkan lagi…..dan seterusnya.

Sharing materi sudah disampaikan oleh Bunda Septi, maka untuk menguatkannya, diadakan sesi Tanya – Jawab. Berikut beberapa tanya-jawab yang berkaitan dengan materi Bunda Cekatan :
1. Andita_Malang.

“Because women are ummun wa robbatul bait”
Karena perempuan adalah ibu & manager rumah tangga.

Dari dulu saya sudah suka dengan caption itu, Bu.
Yang ingin saya tanyakan di point B. One Bite at a Time, lakukan setahap demi setahap.
Misalnya dalam mendapatkan ilmu dan mempraktekkannya.
Bagaimana caranya agar kita tidak menjejali diri dengan berbagai ilmu dan belum “selesai” dalam praktek dan menjadikannya habits Bu?

huhuhu..kadang point X baru separo jalan uda kepincut pingin njalani point Y, dan seterusnya.

Jawab :

Mbak Andita,
Situasi yang mbak andita katakan tadi, pasti akan terjadi kalau sang ibu belum tahu peran hidupnya apa dan bidang yang akan ditekuninya apa.
Sehingga masuk kategori galau, semua ingin dipelajari, tetapi belum tentu semua bisa dijalani. Sehingga hal ini akan membuat kita makin galau.

Kalau teman-teman menjalankan dengan sungguh-sungguh tahapan matrikulasi ini, pasti akan lebih mudah menemukan Prioritas Hidup.

Ilmu -ilmu mana yang memang sifatnya WAJIB kita amalkan, dan ilmu-ilmu mana yang sifatnya hanya menjadi referensi untuk menguatkan ilmu utama.

Prinsip selanjutnya adalah “tumbuh bersama” anak.
Jangan sampai gara-gara merasa masih kurang dan belum selesai dengan diri kita, justru mengabaikan pendidikan anak. Belajar bersama, tumbuh bersama.

Pastikan di keluarga kitalah, anak-anak dan diri kita bisa tumbuh dengan optimal, karena semua bisa menjadi guru, dan semua bisa menjadi murid. 

2. Yessy_Sumut

Bu, bagaimana caranya agar saat kita berusaha menSWITCH pikiran dengan hal yang positif dapat bertahan lama?
Tantangan saya adalah saya dan suami masih belum mampu menemukan cara komunikasi yang tepat dengan orangtua dalam hal mendidik anak kami.
Hal ini membuat saya lebih banyak memilih mengajak anak beraktifitas di luar rumah.
Karena sering keluar rumah, saya menjadi kelelahan menyiapkan urusan domestik sebelumnya.

Jawab :

Sekali lagi,

The Only Reality is Your Perception.

Maka buatlah persepsi positif terlebih dahulu dengan diri kita, setelah yakin, masukkan persepsi positif tentang orang-orang di sekitar kita.

Jangan perhatikan sisi buruknya, selalu panggil sisi baik orang-orang di lingkaran pertama kita, meski saya akui itu berat. Kalau LOLOS berarti naik kelasnya tinggi.

Kemudian ketika kita belum selesai berkomunikasi dengan orang-orang di lingkaran pertama seperti orangtua kita, maka kuncinya TIDAK BOLEH PUTUS ASA.
Berikan stimulus porsi kecil tapi sering. Nah selama proses tersebut, mengajak anak beraktivitas keluar rumah adalah cara yang tepat.

Saya dulu juga mengerjakan hal tersebut :). Kemudian aktivitas luar rumah bersama anak ini saya maknai sebagai jam kerja saya yang utama yaitu mendidik anak. Maka urusan domestik lainnya, harus bisa selesai sebelum jam kerja tersebut. Kalau tetap tidak memungkinkan menyelesaikannya maka DELEGASIKAN ke orang lain untuk urusan non pendidikan anak.

3. Nia nio nidia_Depok.

Karena misi masa depan, saat ini saya masih harus bekerja di ranah publik, sehingga masih mendelegasikan pendidikan anak ke eyang putrinya, mama saya, untuk senin-jum’at 06.00-19.00.
a. Apa dan bagaimana strategi paling jitu agar mama saya sepemahaman dengan kurikulum mendidik yang telah kami buat?
b. Mama saya sejak awal menikah menjadi ibu rumah tangga, namun yang saya rasakan juga bukan termasuk yang profesional. Karena banyak hal yang menurut saya kurang, ilmu mama baik agama maupun keuangan dan kecekatan kurang.
Sejak sebelum menikah saya punya niat..saya gak mau seperti mama saya. Saya ingin jadi lebih baik. Begitu ikut matrikulasi saya seoptimal mungkin shift mode di rumah jadi ibu. Kadang karena mama saya dulu tidak begitu dia memandang apa yang saya lakukan berlebihan. Dia tidak suka melihat anaknya repot dan membandingkan dengan suami saya yang tidak melakukan pekerjaan domestik sehingga menyalahkan suami saya.
Padahal saya sampaikan saya bahagia melakukan ini dan saya ingin meraih pahala dari Allah. Sampai ketika saya sampaikan saya punya cita-cita resign 5 tahun lagi untuk full di rumah dan home education anak saya pun, mama saya nampak gak sependapat. Yang saya takut mama, saya gak ridlo dan niat saya terhambat.

Bagaimana ini ya…menjembataninya Bu?

Jawab :

Mbak Nia,
Kalau kondisi saat ini menurut mbak dan suami adalah kondisi pilihan yang terbaik untuk anak-anak, maka terima dengan sepenuh hati. Kuncinya hanya satu, kita harus siap menanggung resiko yang terjadi, dan jangan pernah menyalahkan mama, apapun kondisinya.
Maka kalau tipe mama adalah seseorang yang mau belajar, bantu mama dengan ilmu. Apa yang mbak nia baca, mama juga ikut baca. Ajak ngobrol mama setiap saat seputar ilmu pendidikan terkini. Berikan hal-hal praktis yang membuat mama bisa menerapkannya dalam mendampingi anak-anak kita selama kita bekerja.

Kalau hal tersebut tidak bisa dilakukan, maka cari asisten rumah tangga yang bisa anda didik dengan baik, kemudian minta mama berperan sebagai supervisornya. Sebagai manajer keluarga, anda harus latih ilmu-ilmu apa saja yang harus dikuasai oleh seorang pelaksana pendidikan dan seorang supervisor.

Andaikata tetap tidak bisa lagi, maka memang diri kita orang yang paling tepat. Segera ambil peran tersebut sebelum terlambat. Kalau ibu tidak meridhoi karena urusan duniawi, maka yakinkan bahwa ini akan baik untuk urusan akherat.
Karena orang yang memikirkan akherat, maka dunia akan ikut. Setelah itu buktikan bahwa kita bisa. Pengalaman saya, mulai dari ibu tidak ridho, sampai sekarang sangat mendukung aktivitas saya sebagai ibu manajer keluarga . Dan itu, saya perlu proses 4 tahun untuk menyakinkan beliau.

4. Novita_tangsel.

Bagaimana cara menyeimbangkan tantangan kerja dan urusan domestik yang seringkali berkejaran satu sama lain dan bagaimana cara mendelegasikan pemahaman kita pada ART terkait cara mendidik anak?

Jawab :

Mbak Novita,
Kuncinya pada KESUNGGUHAN dan MANAJEMEN WAKTU.

Kalau kalimat yang selalu pak Dodik sampaikan ke saya sejak dulu ketika galau antara pekerjaan domestik dengan pekerjaan publik adalah seperti ini:

“Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka kamu akan keluar dengan kesungguhan itu”

Dalam saya maknai sebagai urusan domestik, luar saya maknai sebagai urusan publik.

Maka mulailah mengerjakan hal-hal profesional yang mbak sering lakukan di tempat kerja, terapkan di rumah terlebih dahulu, misal:

a. Di tempat kerja, kita malu kalau tidak tepat waktu.
Maka di rumah kita harus lebih malu lagi kalau tidak tepat waktu.
b. Di tempat kerja kita tampil cantik.
Maka di rumah harus lebih cantik.
c. Di tempat kerja kita sabar dengan anak orang lain/rekan sekerja kita.
Maka di rumah harus lebih sabar lagi dengan anak dan suami.
d. Di tempat kerja ada perencanaan yang bagus.
Maka di rumah harus lebih bagus lagi.

Sehingga luangkan waktu khusus ke ART mbak untuk magang cara mendidik anak, ketika mbak Novita di rumah dan mendidik anak. Suruh duduk, lihat dan catat, kemudian berikan menu pendidikan anak dengan rotasi 10 hari-an, ke ART kita, siapkan alat dan bahannya, kemudian latih lagi sampai ART kita mahir melakukannya.

Hal tersebut di atas yang saya lakukan untuk ART saya, sehingga 5 tahun bersama saya, ART saya sekarang sudah bisa menjadi guru TK dan sekarang membina rumah tangganya sendiri dengan kondisi lebih baik dari saya ketika ssaya di awal menikah. Bahkan sekarang bisa jadi pengusaha. Seorang perempuan desa yang tadinya minder karena hanya lulusan SMP sekarang jadi Pede.

There is no try, DO or DO NOT

Segera lakukan yang terbaik, karena tidak ada yang sia-sia di muka bumi ini.

 

quest

Segera setelah meresapi materi dan permasalahan seputar materi yang diwakilkan oleh pertanyaan Bunda-bunda hebat, maka tiada arti kalau tanpa aplikasi di kehidupan masing-masing individu peserta matrikulasi. Nah, berikut tugas Matrikulasi #4 . . .

NICE HOMEWORK #4

BELAJAR MENJADI MANAJER KELUARGA YANG BAIK

Bunda,
sekarang saatnya kita masuk dalam tahap Belajar menjadi manajer keluarga yang baik.

Mengapa?
Karena hal ini akan mempermudah bunda untuk menemukan peran hidup dan menemukan peran hidup anak-anak.

Ada hal-hal yang kadang menggangu proses kita menemukan peran hidup yaitu RUTINITAS. Menjalankan pekerjaan rutin yang tidak selesai, membuat kita Merasa Sibuk, sehingga kadang tidak ada waktu lagi untuk proses menemukan diri.

Maka ikutilah tahapan-tahapan sebagai berikut :

a. Tuliskan 3 aktivitas yang paling penting dan 3 aktivitas yang paling tidak penting.
b. Waktu anda selama ini habis untuk kegiatan yang mana?
c. Jadikan 3 aktivitas penting menjadi aktivitas dinamis sehari-hari untuk memperbanyak jam terbang peran hidup.
d. Kemudian kumpulkan aktivitas rutin menjadi satu waktu, berikan “kandang waktu”, dan patuhi cut off time.
(misal : anda sudah menuliskan bahwa bersih-bersih rumah itu dari jam 05.00-06.00, maka patuhi waktu tersebut)
e. Jangan ijinkan agenda yang tidak terencana memenuhi jadwal waktu harian anda.
f. Setelah tahap di atas selesai anda tentukan. Buatlah jadwal harian yang paling mudah anda kerjakan.
(Contoh : kalau saya membuat jadwal rutin saya masukkan di subuh-jam 07.00 – jadwal dinamis (memperbanyak jam terbang dari jam 7 pagi- 7 malam, setelah jam 7 malam kembali ke aktivitas rutin yang belum selesai. Sehingga muncul program 7 to 7)
g. Amati selama satu minggu pertama, apakah terlaksana dengan baik?
h. Kalau tidak segera revisi, kalau baik, lanjutkan sampai dengan 3 bulan.

SELAMAT MENGERJAKAN

urgensi
Petunjuk Pengerjaan NHW #4

Pekerjaan di ranah domestik yang dilakukan oleh Ibu Rumah Tangga memang terkesan tak ada habisnya, bagi si Ibu namun bagi yang melihatnya, justru sebaliknya. Seperti tidak mengerjakan apapun. Jadi sebenarnya saya masih dalam tahap merubah persepsi. Langkah awal yang sungguh berat untuk dilakukan adalah membiasakan dengan persepsi baru tersebut dan bersikap profesional dalam menjalankannya.

Alhamdulillah,
dalam perjalanannya, kami dianugerahi amanah 2 orang anak. Sehingga kami memutuskan untuk mendelegasikan beberapa urusan domestik rumah tangga kepada Asisten. Dan saya hanya diminta suami untuk fokus mengurus keperluan suami dan anak-anak yang bersifat personal. Maka saya membuat daftar berikut :

urgensi
Tabel versi lendyagasshi

Untuk lebih detail kegiatan saya, adalah sebagai berikut :

Bangun dini hari, jam 02.00 : Beribadah.
03.00 : Membaca buku.
03.30 : Menulis (terkadang terdistraksi dengan menonton drama Korea)
04.30 : (mandi) lalu mendirikan sholat Shubuh jamaah dengan Abi.
Tilawah dan hapalan Qur’an.

05.00 : Pillow talk dengan Abi.
06.00 : Mulai menyiapkan keperluan suami dan anak.

07.00 : Menyiapkan kaka mandi dan makan.
08.00 : Suami dan kaka berangkat bersama.
dan saya pun bersiap untuk aktivitas saya (berangkat ngaji atau zumba).
Dan atas saran teh Dita Wulandani, sekarang saya tidak ragu lagi untuk mengajak (adik) Hana zumba atau nge-gym bareng.
Awalnya ragu, karena akan melihat teman zumba mama yang (ada beberapa) memakai baju khas olahraga.

10.50 : Pulang dari Jayakarta (tempat zumba) dan menjemput kaka (sembari menunggu setengah jam kepulangan kaka).

12.00 : (sudah) di rumah (ganti baju, sholat berjamaah dengan anak-anak dan makan siang).
13.30 : Tidur siang.
15.30 : Bangun tidur, membersihkan diri dan sholat ashar (mengaji).
16.00 : Anak bangun tidur dan mendampingi anak-anak beraktvitas.

18.00 : Sholat maghrib berjamaah dengan anak-anak.
18.30 : Makan malam bersama.

20.00 : Bersiap mengakhiri aktivitas malam.
21.00 : Bed time stories.

Sekian jadwal harian saya. Doakan saya istiqomah dalam menjalankannya yaa…

Wassalamu’alaykum.
Salam hangat, lendyagasshi – fasilisitator IIP – Bandung.

Lampiran.

Screenshot_2016-06-09-06-08-20_1[1]
Mind-mapping materi Matrikulasi #4, doc. Mesa Dewi (griyariset)
Advertisements

5 thoughts on “[Bunda.Cekatan] Bunda, Manager Handal Keluarga

  1. Teh Lendy ganti tema ya? Hehehe *komen gpenting banget*
    Ijin reblog ya Teh materi matrikulasinya. Biar ga kelupaan dan gampang nyarinya.
    Sukaaa banget ngikutin resume Teh Lendy, super lengkap serasa ikutan matrikulasinya juga nih.

    Like

  2. Teeeeh.. Jadi perempuan tugasnya banyak beuuudh ya
    aku izin download materi nya ya, masih buanyak banget yang mesti dipelajari soal menjadi manager handal keluarga 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s