Diskusi · My Pleasure · Rumah Belajar IIP Bandung

Sesi Tanya-Jawab Materi 2 Matrikulasi Koordinator IIP

Berikut rangkuman pertanyaan dan jawaban seputar Materi 2 Matrikulasi di kelas koordinator IIP.

1. Arin – IIP Bali
Assalamualaikum Bu Septi.
Kedua orang tua suami adalah guru. Salah satunya adalah guru TK. Terkadang ada perkataan seperti harapan “nanti si kakak sekolah di sini saja ya, di TK nya kakung seperti ayah (suami) dulu”.
Kami berdua sebagai orang tuanya sepakat tetap menyekolahkan kakak di tempat sekarang kami domisili.

Bagaimana penjelasan alasan yang pas dan tepat ya Bu, agar orang tua mengerti dan tidak kecewa jika harapannya tidak terpenuhi.
Terimakasih Ibu 😊

Jawab :

Mbak Aris,
yang pertama kita harus menghormati usul atau pendapat orang tua kita dengan “senyum” dulu, kemudian ajak anak untuk belajar memilih dari awal mana yang cocok dengan dirinya.
Latih untuk bicara langsung dengan kakungnya dengan cara anak tersebut. Setelah itu baru kita bicara antar orang dewasa, dengan memberikan berbagai penguat mengapa memilih sekolah yang sekarang, tanpa harus menjelekkan sekolah kakungnya. Ini urusan komunikasi saja.

2. Ratih – IIP Bandung
Bu, kalau kurikulumnya tidak berurutan (bunsay dulu baru buncek misalnya), bagaimana penyesuaiannya?
Ini juga yang saya hadapi di RB Bisnis. Permasalahan ibu-ibu di RB tersebut adalah manajemen waktu tapi disisi lain butuh memiliki penghasilan (salah satu poin di bunpro dan bunsha). Mohon masukannya.

Jawab :

Teh Ratih, karena ini adalah pijakan, maka idealnya memang berurutan. Untuk perempuan yang sudah berkeluarga maka, pijakannya adalah sebagai berikut :

Bunsay – Buncek – Bunpro – Bunshal

Sedangkan untuk perempuan yang belum berkeluarga atau sudah berkeluarga belum punya anak, maka bisa diubah ke :

Buncek – Bunpro – Bunshal – Bunsay

Bagaimana dengan para perempuan yang sudah berkeluarga tapi karena kondisi ekonomi harus masuk bunpro terlebih dahulu. Maka harus menginvestasikan waktu lebih banyak untuk menguatkan bunsay dan buncek. Karena Bunda Produktif yang tidak didasari ilmu bunda sayang dan bunda cekatan, biasanya akan timpang dan terjadi ketidakseimbangan dalam hidupnya. Maka penuhi dulu ilmunya, Allah-lah yang akan memahamkan kita, seiring berjalannya waktu.

3. Prima – IIP Malang 2
Bu Septi,
● Bagaimana langkah-langkah menemukan misi spesifik hidup?
● Apa saja pokok ilmu yang mendukung manajamen keluarga?

Jawab :

Mbak Prima,
bersabar ya, itu ada di materi matrikulasi berikutnya tentang proses menemukan misi spesifik hidup, dan Ibu sebagai Manager keluarga. Terus semangat mengikuti ilmu ini setahap demi setahap.

4. Dian K – IIP Surabaya Raya
Assalamualaikum Bu Septi..
Saya senang sekali bisa tergabung dalam komunitas ini. Materi kali ini banyak yang saya tanyakan :
*Berkaitan dengan bunda sayang : dalam kaitannya mendidik anak, ilmu apa saja yang seharusnya dimiliki seorang ibu?

Jawab :
Banyak.
Mulai dari komunikasi produktif, mendidik kemandirian anak, sampai dengan keluarga multimedia ( kurikulum bunda sayang).

**Berkaitan dengan bunda cekatan : seringkali saya masih keteteran dalam membereskan rumah, kadang kalau saya fokus ke rumah, anak-anak jadi terbengkalai. Ketika saya fokus ke anak, rumah jadi berantakan. Apa ini karena saya yang belum bisa me-manage waktu ya? Bagaimana solusinya?

Jawab:
Ada ilmunya bun, ilmu ini ada di kurikulum bunda cekatan. Bagaimana menata rumah dengan konsep 5 R.
Kemudian bagaimana menentukan prioritas dalam pekerjaan-pekerjaan rumah kita. Mulai dari mendidik anak dikuatkan prosesnya terlebih dahulu, kemudian baru tambah menata rumah, memasak makanan sehat atau yang lainnya. Prioritas ini beda antar ibu yang satu dengan ibu yang lain. Tidak ada benar dan salah, yang ada hanya beda prinsip hidup, dan itu sah-sah saja.

***Berkaitan dengan bunda produktif :
Sekarang ini saya selain menjadi ibu, juga bekerja sebagai guru freelance di lembaga bimbingan belajar, selain itu biasanya saya juga menjadi penulis lepas, tapi akhir-akhir ini sering tidak produktif dalam menghasilkan tulisan, bagaiman cara bisa tetap produktif dengan mengasuh dua balita.

Jawab :
Kuncinya hanya satu belajar MANAJEMEN WAKTU. Kemudian melatih diri untuk menentukan KOMITMEN sesuai kemampuan kita (jangan semuanya disanggupin) dan KONSISTEN dengan pilihan kita.

5. Asty – IIP Sulsel
Saya ingin menguatkan ranah bunda sayang karena dengan 4 anak umur masih sangat muda, 7 tahun – 5 tahun – 2 tahun – 3 bulan..
Bagaiman cara memotivasi dan mengarahkan kreatifitas mereka di usia mereka masing – masing?

Untuk kakak nomor 1 yang menyenangi melukis, apakah saya all out mendorong kesukaannya dan tidak perlu memperlihatkan hal lain?
Untuk kakak nomor 2 yang belum jelas kesukaannya, bagaimana saya menandai apa yang dia sukai?
Terimakasih untuk jawabannya bu.

Jawab :

Untuk anak-anak usia 2-7 tahun saatnya mereka meng-kayakan wawasannya, maka perbanyak dulu wawasan anak dengan berbagai aktivitas di semua bidang. Ijinkan mencicipi satu persatu. Bagaimana anak bisa bilang suka A dan tidak suka B, kalau sama-sama belum pernah merasakan aktivitas A dan B.

Setelah kaya wawasan, masuk tahap kaya aktivitas,
artinya anak merasakan satu persatu. di tahap ini ijinkan bergonta-ganti. karena itu artinya NORMAL. Kitalah yang harus pintar mensiasati hati agar tidak ikut mematikan keinginan anak-anak.

Tahap berikutnya kaya gagasan, beri ruang anak untuk memilih aktivitas yang dia suka dan bisa, kemudian beri tantangan untuk sampai selesai di setiap tahap belajarnya. jangan karena ada yang tidak dia sukai , langsung minta ganti lagi.

6. Fiena – IIP Bandung
Bu mau tanya ketika kita sudah mantap dengan menjadi Full Home mommy yang InsyaAlloh ingin menjadi profesional, namun terkadang masih suka terdengar nada-nada sumbang dari keluarga dan lingkungan sekitar mengenai ibu yang Full home.
Bagaimana cara meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang sudah dibuat dan kita bisa ajeg dengan pilihan kita?

Jawab :

Teh Fiena,
kalau saya dulu berusaha untuk menutup mata dan telinga sekenceng-kencengnya, kemudian mengafirmasi diri, bahwa ini pilihan terbaik, dan saya akan menghargai pilihan saya. Karena kadang kita minta orang lain menghargai profesi/ pilihan hidup yang kita ambil, diri kita sendiri justru tidak menghargainya. Apa contohnya?

Dulu saya selalu pakai daster all day, ini adalah bukti bahwa diri saya sendiri saja tidak menghargai pilihan profesi yang saya ambil.

Maka prinsipnya adalah

“For THINGS to CHANGE, I must CHANGE FIRST”

mulailah berubah dari diri kita sendiri, setelah itu saya gunakan prinsip selanjutnya. “Selama ALLAH dan RASULNYA” tidak MURKA, maka saya akan jalan terus”.

7. Nurhalita – IIP Tangerang
Untuk menjadi ibu profesional apakah tahapan-tahapan tersebut harus dilaksanakan fokus secara bertahap, bisakah untuk semua tahapan tersebut dilakukan secara bersamaan, terutama untuk tahapan ibu produktif bisakah sambil kita lakukan untuk aktualisasi diri dan membantu ekonomi keluarga?
Makasih bu

Jawab :

Mbak Nurhalita,
silakan lihat jawaban saya di pertanyaan teh Ratih di atas ya 👆, mirip soalnya.

8. Siti–IIP Cianjur
Bunda, saya punya 5 anak dan ayah mereka sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Saya mantan ibu guru pernah mengajar di TK dan SD. 3 anak saya sekolah formal sambil pesantren, alhamdulillah fitrah-fitrah sudah muncul dan saya lanjutkan untuk membimbingnya terus.
Dua putra saya usia 7 & 5 tahun hati kecil saya ingin meng HS kan mereka tapi mereka lebih suka masuk sekolah formal, selama masa sekolah ini banyak hal yang kontra dengan mindset saya, sehingga justru saya merasa khawatir terhadap mereka, saya jadi kurang percaya pada sekolah, mereka juga jadi sering bolos sekolah, saya harus bagaimana bun, mohon pencerahan terima kasih.

Jawab :

Mbak Siti,
ajak anak-anak untuk mengenal berbagai pilihan cara belajar sebanyak-banyaknya. Sekolah itu memang salah satu cara, dan HS itu juga salah satu cara. Keduanya tidak bisa dipaksakan, dan tidak bisa dinilai bahwa yang sekolah lebih baik dari HS atau sebaliknya. Yang ada hanyalah anak diberikan wawasan alternatif kemudian diberikan ruang untuk memilih. Seberapa galau orangtuanya, tetap tidak boleh menggiring anak untuk memilih salah satu cara belajar tersebut, apalagi mendiktekannya ke anak .

9. Lisa – IIP Kalteng-Kalbar
Bu, bagaimana untuk para ibu yang bekerja?
Saya terkadang suka galau sebagai ibu. Tapi saya bersyukur dengan pekerjaan saya selain membantu perekonomian keluarga, jam kerja saya tidak ada sehingga saya masih bisa urus rumah. Dalam sebulan saya keluar kota sekitar 3-8 hari tapi setelah itu saya full dirumah karena selebihnya pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Tapi kalau saya sudah keluar kota disitu perasaan saya mulai berkecamuk. Anak saya titipkan ke Mbahnya. Karna tidak memungkinkan membawa anak saya dalam perjalanan jauh. Dan saya juga tetap ingin menjadi sosok ibu profesional.
Bagaimana saran Ibu Septi?
Karena jujur saja, saya masih harus bekerja karena untuk membantu suami saya karna kami harus membiayai adik-adik dari kami berdua sekolah untuk membantu orang tua kami masing-masing.
Terimankasih.

Jawab :

Mbak Lisa di Ibu Profesional semua ibu adalah ibu bekerja, yaitu ibu yang bekerja di ranah publik dan ibu yang memilih bekerja di ranah domestik, dua-duanya harus dikerjakan dengan sungguh-sungguh.

Karena Allah tidak pernah pilih kasih dalam menitipkan anak-anak di rahim perempuan, semua perempuan berhak mendapatkan amanah tersebut baik yang bekerja di ranah publik maupun domestik.

Sehingga Allah sudah menempatkan masing-masing ujian dalam mendidik anak sesuai dengan kemampuannya.

Maka belajar dengan sungguh-sungguh, agar kita bisa menjadi orang yang dipercaya di mata Allah dalam mengemban amanahNya.

Saya berikan testimoni dari fasilitator matrikulasi yang memilih bekerja di ranah publik ya, biar pas, karena saya dari awal bekerja di ranah domestik.

Jawaban Nio – Depok:
Sedih itu sangat manusiawi dan wajar. Namun kemudian kita harus mengevaluasi, apakah niat dan misi kita bekerja di ranah publik?
Se-urgent apa bagi keluarga kita. Jawaban akan terpulang pada kondisi keluarga kita sendiri. Jika bekerja di luar merupakan ikhtiar dalam menjemput rizki bagi keluarga dan sifatnya sangat urgent maka bungkus keberangkatan kita bekerja dengan niat mencari rezeki mulia sekaligus meningkatkan jam terbang misi di ranah publik.
InsyaAllah kesedihan kita terarah menjadi lebih produktif dan doakan anak anak kita selalu dalam penjagaan Allah ketika kita tidak bersama mereka.

Satu hari 24 jam, bekerja di ranah publik 8-9 jam kerja maka pos waktu berikutnya adalah mengejar ketertinggalan waktu kualitas bersama anak. Pulang kerja harus diniatkan untuk mengisi energi baru membersamai anak anak sambut kegirangannya dengan senyum lebar dan pelukan sehangat mentari, obrolan seharian, dongeng dan sebagainya. Tentunya jika ibu butuh waktu untuk menyiapkan diri (mandi, makan) maka mintalah waktu pada anak anak untuk itu, kemudian kembali kepada mereka.

Dalam jelang tidurnya saat kondisi RASA maka bisikkan kalimat positif bahwa bunda mengajak anak anak untuk ikhlas dan berdoa untuk bunda supaya kualitas kerja bunda baik dan efisien sehingga bisa tepat waktu pulang, berikan penguatan kita akan bercengkrama lagi selepas bunda di rumah dan saat weekend adalah saat saat yang amat sangat dinanti. Paginya katakan kepadanya, Nak bersama Opung ya, semangat ya nak, maem yang baik main yang asik jangan lupa istirahat dan lain-lain. Nanti sore kita jumpa lagi… dengan lembut dan yakin ..Sehingga bila memungkinkan besok-besok jika sudah terbiasa anak anak akan mengantarkan bunda dengan salim hangat, senyuman dan lambaian tangan, bunda hati hati ya, semangat kerjanya, semoga sukses ya Bunda.

Terapkan walau anak masih balita dan belum bisa memberikan feedback melalui kalimat. Karena gesturenya dan binar matanya nanti yang akan berbicara. 

10. Watie – Bogor
Assalamu’alaykum warahmatullahi wabarakatuh, Bu Septi yang terhormat,
mohon maaf saya banyak mendapat pertanyaan dari luar IIP yang melihat bahwa IIP hanya program-program antara ibu dan anak, tetapi tidak melibatkan hubungan ibu dengan ayah dan ibu dengan mertua atau orangtua, mohon maaf sebelumnya, dan terimakasih.

Jawab :

Mbak Watie,
semua perlu tahapan mbak. Dan kita baru mulai langkah-langkah awal pembelajaran. Saat ini memperkuat diri kita sebagai ibu, istri dan perempuan dengan berbagai ilmu yang harus dipraktekkan. Setelah diri kita kuat, maka hubugan dengan pihak lain akan makin mudah.
Kalau IIP ini ibarat gajah, teman-teman di luar IIP baru lihat kakinya saja, dan itupun baru satu kaki, belum bisa melihat secara utuh. Ada grand designnya, maka koordinator kota yang harus bersabar mengamalkan ilmu setahap demi setahap di Ibu Profesional. 

11. Wayan – IIP Bekasi
Assalamualaikum Ibu…
* Bagaimana cara yang tepat mendidik anak dengan karakter pemimpin?
Anak saya tidak mau langsung ya kalau di panggil atau di mintain tolong….
Tapi ketika dia mengingin kan sesuatu itu harus, dan dominan dia mengatur.
Bagaimana baiknya ibu..

Jawab :

Berikan peran untuk mengatur dan menjadi decision maker.

Misal :
Kak kita mau jalan-jalan, kakak yang tentukan ya kita mau jalan kemana. Kak , menurutmu yang baik untuk ibu yang mana ya?
Intinya berikan peran sebanyak-banyaknya ke anak untuk memimpin.

** Bagaimana cara memotivasi diri sendiri untuk tetap bersungguh-sungguh, dan semangat dalam menuntut ilmu dan menjadi ibu profesional, karena terkadang suka ada perasaan ‘saya sendirian’ tidak ada teman, sedangkan teman seperjuangan sudah sukses dengan karirnya masing-masing di luar rumah.
Mohon pencerahan nya…

Jawab :

Mbak Wayan gunakan prinsip ini :

Andaikata ada seribu ibu yang bersemangat menuntut ilmu demi keluarganya, maka salah satunya itu adalah saya.

Andaikata ada seratus ibu yang bersemangat,maka ssalah satunya adalah saya

Andaikata hanya ada SATU saja ibu yang bersemangat di dunia ini, ITULAH SAYA

Jadilah bukti, jangan menunggu orang lain memberikan bukti.

12. Fitriyati–IIP Jepara
Bu Septi, apakah tahapan untuk menjadi ibu profesional itu harus urut dari bunda sayang, cekatan, produktif & sholeha? atau bisakah dilakukan bersamaan?
Terima kasih

Jawab :
Lihat jawaban-jawaban di atas ya mbak.

13. Bu septi yang terhormat mau tanya :
* Bagaimana melatih kemandirian anak umur 7 tahun dan 4 tahun?
** Bagaimana pola mendidik anak yang karakternya berbeda?

Jawab :

Mbak fitri,
untuk kemandirian, ibunya harus jadi RATU TEGA.
Di ilmu melatih kemandirian anak, saya sudah berikan tahapan-tahapannya. Silakan mbak Fitri buka lagi buku bunda sayang atau bersabar mengikuti tahapan belajar di Ibu Profesional.
Karena disana saya tuliskan, tahapan per-usia. kalau saya tulis disini jadi panjang sekali. Selamat belajar ya mbak.

Anak dengan karakter yang berbeda, maka kita perlu memahami dulu ciri-ciri karakter tersebut dan memberikan penangan yang tepat.

Misal :
anak dengan karakter pemimpin, maka harus diberi peran menjadi pemimpin yang baik. Anak dengan karakter follower juga harus diberi peran agar bisa menjadi follower yang baik. Semua ada porsinya dan ada perannya. Tidak pernah ada yang salah, hanya tidak pas ditempatkannya saja.

📚 NICE HOME WORK #2 📚

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅📝
a. Sebagai individu
b. Sebagai istri
c. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia. Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.
Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:
SPECIFIK (unik/detil)
MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)
ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)
REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)
TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

Link Tugas NHW 2 :
[Materi 1] : Overview Ibu Profesional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s