Diskusi

Sesi Tanya – Jawab Materi 4 Matrikulasi Koordinator IIP

1. Prima–IIP Malang
Assalamualaikum Bu Septi yang baik.
Saya menyadari sesuatu, bahwa sejak lahir anak memiliki fitrah yang sangat baik. Kemudian seiring bertambahnya usia, anak akan mengcopy apa yang orang sekitarnya lakukan, mengcopy habits yang dilakukan orang sekitarnya pula. Jika lingkungan luar yang kurang baik, mungkin kita bisa menghindarinya. Namun bagaimana jika yang kurang baik habits/sikap/sifatnya adalah lingkungan dalam rumah yang tidak mungkin kita hindari?

Jawaban-jawaban dari beberapa kulwap / materi letak yang harus di perbaiki adalah komunikasi produktif. Partner tinggal kami, bukan tipe pendengar yang baik, sulit menerima kritik/saran, dan kekeuh/fanatik dengan pemikiran yang di sukainya sekalipun itu kurang baik. Saya sudah kibar bendera putih untuk situasi ini…

Apakah memungkinkan jika saya membangun karakter si kecil tanpa komunikasi produktif dengan partner kami ini? Apa yang harus saya lakukan agar habits kurang baik tidak mencemari anak kami, dan kami tetap mendidik si kecil sesuai fitrah tanpa pengaruh habits kurang baik tersebut? Anak kami 15 bulan, kami ingin mencegah habits kurang baik sedini mungkin.

Jawab :

Wa’alaykumsalam wr.wb mbak Prima,
apabila yang anda sebut partner adalah suami kita sendiri, sebaiknya segera diselesaikan proses komunikasi dan karakter yang diinginkan. Apabila yang kita sebut partner adalah orang dewasa di luar keluarga inti ( kita dan suami) maka, silakan dipilih mana yang lebih rasional. Apakah kita melatih mereka untuk mengubah perilakunya atau justru kita yang harus berpindah jauh dari sisi geografis, sehingga anak-anak tidak akan terpengaruh.

2. Desty IIP Bekasi
Saya menjadwalkan waktu menemani anak belajar dan bermain dari pagi sampai siang (duhur). Siang untuk istirahat anak-anak. Tapi yang nomer 1 sudah jarang tidur siang usia 4.3 tahun. Dia meminta saya menemani belajar, bermain, keluar. Rasanya badan saya sudah capek. Akhirnya saya putar video yutub, sambil saya lipat-lipat atau selonjoran. Sambil kita berkomunikasi tentunya tentang video yang dilihat. Apakah di situasi tersebut saya tidak membersamai anak dengan full bu?
Kadang saya juga suka kebingungan mau belajar apa lagi ya besok…?
Terima kasih

Jawab :

Mbak Desty,
membersamai anak-anak itu adalah menghadirkan fisik, pikiran dan hati kita di satu lokasi. Sangat normal kalau kadang kita merasakan capek, tetapi capek fisik saja, hati dan pikiran kita tetap bersama anak-anak. Luangkan waktu sejenak mbak Desty, untuk menata kegiatan-kegiatan apa saja yang ingin kita kerjakan ke anak-anak dalam satu bulan ke depan, 2-3 bulan ke depan.

3. Chika K. Rachma – IIP Solo
Assalamualaikum..
Bu Septi bagaimana cara mengetahui minat bakat anak.. kan anak masih kecil..
Belum tahu semua dan ilmu yang ada..
Apakah dengan ini kita mengenalkan satu-satu dulu kemudian lihat ketertarik anak.. (misal kita ajak belajar atau melihat berkuda, musik, robot, dan lain-lain) kemuadian minta anak memilih) atau bagaimana?

Jawab :

Mbak Chika,
di saat anak-anak :
Usia 2 – 7 tahun maka ajaklah untuk “tour de talents” mengenal sebanyak-banyaknya aktivitas di muka bumi ini.
Usia 7-10 tahun anak-anak mulai mencoba satu persatu-satu dan boleh berganti-ganti. Usia 10-14 tahun latih anak untuk selesai akan pilihannya, jangan cepet-cepet ganti. Boleh diganti saat tahapannya selesai.
Usia 14 tahun ke atas, anak sudah mulai menemukan apa yang akan dia pelajari dengan fokus.

framework
Frame work Pendidikan Dengan Kekuatan Fitrah

4. Fitrah IIP Bogor
Cara memahami bawaan fitrah ilahiyah, fitrah belajar, fitrah bakat, fitrah perkembangan, fitrah seksualitas anak-anak itu bagaimana ya bu? Apakah ada tahapan sesuai umurnya?
Jika anak berumur 4 tahun dan 7 tahun bagaimana bu?
Mohon penjelasannya..

Jawab :

Mbak Fitrah,
bisa lihat tahapan yang saya kerjakan untuk anak-anak di atas ya. kalau ada yang belum paham silakan ditanyakan lagi.

5. Dwi Indah – IIP Bandung
Ibu Septi yang baik, saya ada beberapa pertanyaan.
1. Sebagai manusia, sangatlah mungkin terkadang hati kita ini “berdebu”, kurang bersih dan butuh dibersihkan. Salah satu caranya membersihkan adalah tentu saja dengan meminta pertolongan Allah yang Maha Penolong. Selanjutnya mungkin bisa dengan membaca buku-buku parenting maupun dari pengalaman orang lain. Pertanyaan saya, Seberapa jauhkah peranan teori-teori parenting dan pengalaman orang lain tersebut dapat mendukung kita dalam melihat fitrah anak kita?

2. Dijelaskan salah satu tahapan mendidik anak sesuai fitrah yaitu Mendidik sealamiah mungkin…apakah artinya setiap keluarga mempunyai standar pendidikan alamiah masing-masing sesuai keadaan keluarganya? Atau bagimana?

3. Untuk merancang program yang khas bersama anak…apakah ada periode waktu yang ideal menurut Ibu Septi untuk merancang program khas ini? Misalnya program khas dibuat setahun sekali, atau bagaimana?

Terima kasih atas penjelasan Ibu Septi.🙏🏻😊

Jawab :

Teh Dwi Indah
1. Peranan teori-teori parenting dan pengalaman orang lain jadikan “referensi ” saja tetapi tidak boleh dijadikan patokan. Karena setiap keluarga itu unik, tidak bisa disamakan. Kalau kita melihat orang-orang yang sudah berhasil mendidik anak-anaknya, maka pelajari apa “kunci keberhasilannya”, kemudian tetapkan sendiri pola keluarga kita, dan TIDAK HARUS SERAGAM.

2. Betul mbak, setiap keluarga akan menentukan indikator keberhasilan suksesnya masing-masing, begitu juga kadar alamiah atau tidaknya pendidikan yang dijalankan. Yang kita tidak boleh adalah menyalahkan cara keluarga tersebut hanya karena tidak sama dengan cara kita. maka cukup bandingkan keluarga kita sekarang dengan keluarga kita satu tahun yang lalu, BUKAN dibandingkan dengan keluarga yang lain.

3. Masing-masing keluarga boleh beda mbak, kalau yang kami lakukan memang setiap 1 tahun sekali di evaluasi, apakah mau tetap lanjut dengan program kemarin atau akan ganti dengan kekhasan yang ingin kita ajalankan tahun depan.

6. Ratna IIP Jogja
Assalamualaikum Bu Septi…
Memang tidak mudah ya bu menentukan prioritas ilmu yang harus dipelajari. Rasanya ingin semua dipelajari dan semua tahu.
Yang ingin saya tanyakan,
💟 Bagaimanakah caranya membuat proses ini menyenangkan?
💟Harus mulai dari manakah saya menentukan prioritas ilmu yang saya cari, mengingat corcern saya sekarang adalah menemani anak-anak dalam proses belajar di rumah (baca : HS). Apakah prioritas ilmu itu runtut terperinci atau secara garis besar saja?

Terimakasih

Jawab :

Mbak Ratna, wa’alaykumsalam wr.wb,
Proses menuntut ilmu ini harus kita sadari dengan sebuah kegairahan hidup. Ada hal-hal yang ingin kita tuju. Maka carilah ilmu yang memang berdasarkan rasa ingin tahu kita. nanti di NHW #4 mbak akan bisa lihat tahapannya seperti apa. Lama kelamaan mbak akan merasakan perlu seberapa dalam untuk menguasai ilmu tersebut. Selama rasa ingin tahu kita belum mati, biasanya akan muncul sebuah kedalaman ilmu.

7. Vita – IIP Jakarta
Assalamu’alaikum Ibu Septi, tentang ” Pendidikan Anak berbasis Fitrah” :

1. Bagaimana membaca fitrah anak yang sedang berkembang dilihat dari kesehariannya? Tanda-tanda seperti apakah contohnya?
2. Mohon contoh teknis ibu mendidik fitrah keimanan, fitrah belajar dan fitrah bakat anak-anak ibu diusia balita. Apakah antara laki-laki dan perempuan berbeda?

Terima kasih ibu atas jawabannya 🙏🏻

Jawab :

Mbak Vita,
tanda -tanda fitrah itu berkembang adalah munculnya sebuah keseimbangan hidup anak tersebut. Tidak ada yang timpang.

Contohnya adalah munculnya aqil dan baligh secara bersamaan. Selama ini kita lihat banyak anak secara fisik sudah baligh tetapi aqilnya belum berkembang, sehingga banyak anak-anak yang sudah aqil baligh justru bikin geregetan orangtuanya.

Contoh saya mendidik anak, bisa dilihat di bagan di atas, tidak ada yang harus saya bedakan dari sisi gender untuk pendidikan fitrah ini. Kecuali di bidang fitrah perkembangan dan seksualitas. Anak perempuan akan memahami fitrahnya sebagai ibu dan anak laki akan memamhi fitrahnya sebagai bapak/imam keluarga.

Untuk fitrah seksualitas, biasanya di saat usia anak 10-14 tahun, saya mendekatkan anak perempuan ke ayahnya, dan anak laki ke ibunya. Agar kebutuhan psikis untuk dekat dengan lawan jenis terpenuhi di diri orangtuanya. Sehingga hal ini membuat anak tidak lagi ingin pacaran di usia remajanya.

Kalau dulu saya dididik oleh ibu yang single parent, maka di usia tersebut, saya didekatkan ke kakak laki-laki ibu saya (pakdhe).

8. Lita Andini – IIP Bekasi
Bunda Septi bagimana mengamati tumbuh kembang anak di usia dibawah 2 tahun karena pada usia tersebut anak mayoritas sedang aktif namun seiring waktu jiwa pemberaninya bisa hilang..
Bagaimana cara efektif mengarahkan sesuai fitrahnya. Sekaligus meredam potensi negatif anak yang masih dominan misal sejak kecil terlihat tidak sabar dan suka berteriak teriak. Terimakasih masukannya.

Jawab :

Mbak Lita Andini,
sepertinya saya sudah pernah memberikan cara melihat tumbuh kembang anak dengan checklist-checklist ya, mohon dilihat lagi. Mengenalkan bahasa ibu dan bermain bersama alam adalah cara yang paling tepat untuk menumbuhkan semangat belajarnya. Anak-anak dengan usia 2 th itu masih bisa kita amati naik turunnya emosi, kitalah yang harus bisa mengendalikana nak-anak tersebut.

Contoh, kalau anak tersebut minta sesuatu dengan teriak-teriak dan menangis, maka kita tidak akan menurutinya. Kecuali bicara baik-baik.

9. Wayan IIP Bekasi
🙋🏼assalamualaikum Bu Septi maaf mau tanya :
Bagaimana cara kita umtuk bisa mensosialisasikan kepada lingkungan tetangga kita untuk cara mendidik anak yang sesuai fitrah, karena walaupun teknologi semakin maju, masih banyak ibu yang belum bisa mengakses program pembelajaran seperti ini apalagi harus membaca dari literatur buku bu, apakah akan ada pengaruh terhadap pola pikir orang tua dalam mendidik jika kita yang memfasilitasi tempat anaknya menuntut ilmu semisal les dengan pola yang sesuai fitrah, tapi terkadang tidak mudah ngajak mereka belajar bareng.
Saya bingung cara komunikasi nya bagaimana ya bu, agar tidak menyinggung perasaan mereka…saya bisanya cuma kasi contoh aja bu seperti managemant waktunya anak saya…

Trimakasih.

Jawab :

Mbak Wayan,
tidak perlu mensosialisasikan, tugas kita hanya satu MENJALANKANnya dengan sungguh-sungguh, sehingga orang lain akan tertarik dengan pola pendidikan anak-anak di keluarga kita. Jadilah BUKTI dan biarkan orang lain menunggu BUKTI dari kita.

Tugas kita tidak untuk membahagiakan banyak orang, karena nanti akan capek sendiri, dan keluarga kita akan terbengkalai. Bahagiakan amanah kita dengan cinta, maka orang lain akan merasakan sebaran cinta tersebut.

10. Fini – IIP Bogor
Assalamu’alaikum warahmatullah..
Bu Septi yang drahmati Allah, saya sebelumnya type ibu yang “memaksakan” kehendak 🙈😢 saya suka memaksa putri saya (sekarang 7 tahun) untuk shalat..
sekarang baru faham sebenernya sebelum di suruh shalat seharusnya dkuatkan dulu fitrah ilahiyahnya. Akhirnya sekarang kalau shalat seperti yang terpaksa, dan terburu-buru. Mohon pencerahannya ya bu..

Jawab :

Mbak Fini,
tugas awal kita adalah mengajak anak-anak untuk menumbuhkan rasa CINTA kepadaNya yang dulu pernah mereka persaksikan sebelum lahir. Orang yang sudah cinta, tidak perlu lagi dipaksa-paksa untuk menemui Dzat yang dicintainya. Bahkan akan menanti-nanti waktu untuk bisa senantiasa berduaan secara mesra denganNya. Buktikan dulu dengan diri kita mbak, baru kita bisa mengajak anak-anak ke hal tersebut.

11. Watie – IIP Bogor
Assalamu’alaykum ibu Septi Peni,
akhir2 ini banyak kita baca banyak perceraian terjadi di masyarakat kita, pertanyaan saya,bagaimana cara kita untuk memberikan support kepada sahabat kita yang tertimpa musibah tersebut dan bagaimana cara untuk mengembalikan kepercayaan diri mereka, juga bagaimana cara membangkitkan fitrah anak-anak hasil perceraian tersebut.
Mohon maaf dan terimakasih.

Jawab :

Mbak Watie,
yakinkan bahwa teman kita adalah perempuan kuat yang bisa menghadapi segala macam tantangan hidup secara simultan. Maka selesaikan luka batin terhadap mantan suaminya, tetapi tetap hormat dengan “bapaknya anak-anak”.

Ini yang harus dibedakan. Karena secara fitrah ada mantan suami, tetapi tidak ada mantan bapak. Dengan cara menghormati bapaknya anak-anak, maka sang ibu sedang berproses untuk menaikkan rasa percaya diri anak-anak. Dengan demikian rasa percaya diri ibu akan naik seiring makin mantapnya rasa percaya diri anak-anak tersebut.

12. Karina – IIP Babel
Bismillah..
ibu.. saya ingin menanyakan perihal sekolah dan home schooling.
1. Apakah anak anak ibu pernah merasakan fase sekolah dasar seperti pada umum nya anak anak?
2. Pendidikan seperti apa yang terbaik untuk anak kita? apakah sekolah seperti pada umumnya atau homeschooling?

Jawab :

1. Mbak Karina, anak-anak pernah SD untuk Ara dan Enes, tetapi untuk Elan hanya di bangku TK selama 1 bulan saja.

2. Pendidikan yang terbaik adalah yang paling cocok dengan karakter anak kita. Saya tidak pernah memaksakan anak-anak dengan pilihan pendidikan yang terbaik menurut kami berdua. Tetapi kami memberikan pilihan ke anak-anak, dengan cara memilih beberapa sekolah formal yang cocok dengan VALUES keluarga kami, dan memberikan pilihan ke anak-anak

Mau sekolah A, sekolah B, sekolah C atau Homeschooling bersama bapak ibu. Jadi apapun pilihan anak-anak akan kita terima, dan anak-anak beajar untuk menerima segala konsekuensinya pilihannya.

Yang penting kuatkan Home Based Education keluarga kita , Schooling dan HS itu hanya kendaraan yang bisa dipilih.

13. Heny – IIP Sulsel
Bismillah, Bu Septi mohon penjelasannya pada poin berikut :
“Semua riset tentang pendidikan ternyata menunjukkan bahwa semakin berobsesi mengendalikan, bernafsu mengintervensi, bersikukuh mendominasi dan sebagainya, hanya akan membuat proses pendidikan menjadi semakin tidak alamiah dan berpotensi membuat fitrah anak anak kita rusak.” Disini maksudnya kita gak usah terlalu mendominasi, terlalu berlebihan dalam proses pendidikan?

Jawab :

Betul mbak Henny,
ini penyakit orangtua, tidak mau MENEMANI perkembangan anaknya apalagi MENGAMATINYA. Tapi justru buru-buru mencekoki anak-anak kita dengan ilmu-ilmu yang kita anggap akan baik untuk anak-anak. Padahal belum tentu cocok dengan fitrah dan peran hidup anak-anak kita.

14. Ilva – IIP Semarang
Assalamualaikum
Bu Septi,selama kurang lebih setahun ini saya maraton mengikuti segala seminar dan workshop yg mana pembicaranya Bu Septi, Abah Rama, dan Ust. Harry Santosa. Sejak pertama kali ikut seminar ibu di awal tahun kemarin saya penasaran mengenai HS, HBE, CBE, dan FBE. Akhirnya saya menemukan titik terang mengenai kesemuanya itu. Yang mau saya tanyakan bagaimana jika dalam fitrah 0-7 tahun itu ada beberapa yang belum kami sebagai orangtua ajarkan kepada anak, mengingat usia anak kami saat ini sudah 8 tahun?

Kemudian jujur saya dan suami sudah memiliki pilihan untuk mencabut anak kami dr lembaga institusi formal. Namun, saya pribadi masih ‘galau’ dan tidak PD akan kemampuan saya dalam membersamai anak sebagai fasilitator juga katalisator. Saya merasa tidak kompeten di ranah pendidikan. Saya takut apa yang menjadi keputusan kami untuk mendidik anak kami dengan metode HS malah tidak berjalan dengan baik dan semestinya. Apakah yang pertama-tama harus kami lakukan untuk start memulainya? Bekal dan ilmu apa yg harus kami miliki dan kuasai?

Terimakasih ibu sebelumnya.

Jawab :

Tidak ada kata terlambat mbak Ilva, teruslah berjalan, yang tidak boleh adalah BERHENTI berproses.

Jangan pernah ragu, Allah sudah menginstalkan Kemampuan fitrah kita mendidik anak seiring dengan dititipkannya janin itu di rahim kita. Kalau anda tidak sanggup, pasti Allah akan menitipkan anak tersebut di rahim Ibu yang lain. Karena Allah sudah memilih kita, maka kitalah perempuan terpilih tersebut. Yang ada selama ini kita tidak mau bersungguh-sungguh menjalankan “kehormatan” kita sebagai perempuan terpilih. Sehingga selama ini perkaranya bukan BISA tau TIDAK BISA, melainkan MAU atau TIDAK MAU. Kalau kita sudah MAU belajar untuk anak kita, pasti Allah akan memberikan banyak kepahaman lewat laku kita.

15. Dila – IIP Pati
Bu septi yang saya hormati,
Apakah yang sebaiknya kami lakukan, jika kami terlambat membersamai fitrah anak kami?
Terutama untuk anak satu.

Jawab :

Mbak Dila,
mohon maaf ke anak pertama kita, kemudian minta ampunan ke Allah ya mbak, karena kita sudah menyia-nyiakan amanahNya selama ini dengan ilmu yang sekedarnya. Minta petunjukNya apa yang harus kita lakukan. Dan lihat tanda-tandanya mbak. Pasti akan terlihat dengan jelas. Ikuti kata hati itu ya mbak.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s