Diskusi · Family Stories

Komunikasi Produktif #day7

Hari Ahad, 29 Januari 2017.

Sudah ada beberapa rencana yang kami buat mengingat kemarin Abi pergi keluar kota. Sengaja saya tidak meminta tolong khadimat untuk memasakkan lauk. Salah satu tujuannya adalah agar anak-anak bisa makan apa adanya dan ada effort yang dikeluarkan sebelum menikmati makanan.

Senang sekali rasanya apabila ada suami di rumah dan beliau ikut turun mengatasi segala yang perlu dilakukan. Seperti menyiapkan susu untuk anak-anak, air mandi pagi hingga sarapan.

Abi akan dengan riangnya memanggil anak-anak.

Siapa yang mau bantu Abi masak telur?

Hiihi….menu telur dadar adalah menu andalan keluarga kami. Selain karena mudah membuatmya, anak akan dengan mudah juga ikut ambil bagian. Seperti Hana yang sudah bisa mengocok telur dan memasukkannya ke dalam wajan penggorengan. Sedangkan kaka, tentu yang lebih susah….memecahkan telur dengan rapi dan memberi garam.

20170129_000845_1

Ada rasa kagum untuk masalah komunikasi produktif ini. Saya memang banyak sekali belajar dari suami. Meskipun beliau tidak pernah ikut seminar parenting ke sana-ke mari seperti saya, namun sungguh prakteknya Abi jauuuh lebih jago daripada saya.

Terima kasih, Abi.

Dan hari ahad ini, kami isi dengan menjenguk sahabat IIP yang baru saja lahiran, teh Thasya Sugito. Namun sayangnya, aturan di Rumah Sakit tersebut tidak memperbolehkan anak kecil masuk ke ruangan. Sehingga untuk mengintip adik bayi di ruang bayi saja, tidak bisa.

Jadi solusinya, bayi teh Thasya saya foto. Kemudian selesai menjenguk, saya perlihatkan kepada Ai dan Hana. Mereka lalu ribut ingin memiliki juga. Haahha….anak-anak!

bayiSelama menjenguk Teh Thasya, alhamdulillah anak-anak bisa dikondisikan. Saya katakan pada anak-anak bahwa “Mama jenguk teman Mama dulu yaa…Ai dan Hana tunggu di sini. Nanti jangan mau kalau diajak pergi sama orang yang gak dikenal. In syaa allah mama gak lama jenguknya.

Dan kesalahan yang saya buat pada hari ini adalah

  • Saya tidak menepati janji untuk hanya sebentar saat menjenguk bayi. Sehingga anak-anak bosan saat menunggu.Seharusnya :

    Saya membuat kesepakatan untuk waktu berkunjung. Saya hanya boleh berapa menit di dalam ruangan dengan cara memperlihatkan jam tangan yang saya kenakan. Jarum pendek dan panjang menunjukkan angka berapa.

    Karena standar kata sebentar antara saya dan anak-anak tidaklah sama.
    Kalau seperti kemarin, anak-anak akan merasa saya tidak menepati janji dalam berkata sebentar. Termasuk masalah konsistensi dalam berucap dan bersikap.

  • Setelah saya merasa bersalah, saya ada kecenderungan untuk melindungi kesalahan saya. Dengan barkata,”Maafin mama yaa, kak…dek…Mama lama yaa…karena ada ini dan itu.“Dari kata-kata yang saya ucapkan…jelas sekali bahwa saya mencari pembenaran atas apa yang telah saya lakukan. Meskipun kalimat awalnya adalah “Maaf…”

    Semoga anak-anak bisa tulus memaafkan kesalahan saya dalam berkomunikasi.

Untuk komunikasi kepada suami, saya merasa hari weekend adalah waktu terbaik kami ngobrol lebih santai dan dapat berbagi banyak hal. Seperti menanyakan masalah dinas yang akhir-akhir ini jadwalnya semakin padat (alhamdulillah….semoga ikhtiarnya dilancarkan dan dimudahkan) lalu bagaimana pendapat Abi tentang anak-anak kalau mereka begini dan begitu.

Barakallah

Dengan menulis diary kelas #bundasayang ini, saya merasa banyak memori yang wajib dikenang. Karena suatu hari nanti, ini akan menjadi kisah yang dirindukan.

Haturnuhun, Bunda Septi dan keluarga.

Salam hangat,
-lendyagasshi-

 

#komunikasiproduktif
#hari7
#tantangan10hari
#kuliahbunsayiip

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s