Family Stories

Aliran Rasa Kelas Komunikasi Produktif

Gurat lelah tampak sekali di wajah suamiku akhir-akhir ini. Tak pernah bisa membantu dari segi materiil untuk keluarga, namun tekadku bulat untuk menjadi Full Time Mother. Ingin membersamai anak-anak di usia emas mereka.

Namun ternyata, itu bukan tugas yang mudah. Aku pun yang sudah berusia 30 tahun kerap dilanda perasaan mood-swing. Tidak bisa menerima kalau ada yang tidak beres di rumah.

Tidak.
Aku sama sekali tidak menuntut anak-anak harus segera membereskan mainan ketika rumah mirip kapal pecah. Atau keberatan memandikan mereka (lagi) saat pulang sekolah dan kudapati tubuh anak-anak penuh pasir.

Justru ujian itu datang ketika anak-anak sakit. Sehingga tengah malam, aku mesti bolak-balik mengganti seprai karena terkena muntahan, atau sekedar menggantikan baju yang kembali kuyup. Dan dengan wajah lelahnya, suami lebih memilih tidur di kamar terpisah denganku dan anak-anak.

Sedih, kesal dan perasaan berkecamuk lainnya kurasakan. Jadi apa yang mesti aku lakukan jika membereskan masalah diri sendiri saja tidak mampu?

Maka aku teringat akan segitiga berikut :

segitiga

Seketika aku merasa sudah keterlaluan dengan pasangan dan anak-anak, maka perlu cek kembali hubunganku dengan Allah. Sudah benarkah?

Dan jawaban ketika review Komunikasi Terhadap Pasangan yang disampaikan oleh Ibu Septi dalam kelas Bunda Sayang materi Komunikasi Produktif, memang mengingatkanku bahwa ada banyak hal yang mesti aku rapikan kembali selain hablumminallah.

Bahwa melihat masalah dari akarnya. Bukan hanya permukaannya. Hubungan sebab-akibat.

Maka sebelum menuntut pasangan harus begini dan begitu, maka diri sendiri dahulu yang mesti berubah.

For Things to CHANGE, i must CHANGE FIRST

Pelan-pelan ilmu kebatinan aku kurangi. Mungkin saat ini aku masih nyaman dengan keterbukaan via whatApp. Sehingga semua yang aku rasa bisa tumpah semua melalui bahasa tulisan. Alhamdulillah, meskipun dengan bahasa tulisan, kami sama-sama nyaman. Suami lebih terbuka, saat akan melakukan aktivitas di luar rumah dan aku pun (dalam perjalanan memahami) kesibukan suami.

Ada perasaan lega dan nyaman saat semua under control.

Pun ketika anak sakit seperti yang sedang ku alami saat ini. Aku kembali mengecek hubunganku dengan Allah. Belajar menerima bahwa ini bagian dari ujian yang harus dilewati pada masa anak-anak balita. Melayani dan menerima fitrah mereka apa adanya.

Anak-anak bukan robot.
Yang bisa di re-booth asal ada kesalahan.
Mereka sama seperti anak-anak pada umumnya, yang bisa sakit, rewel, tidak nyaman dengan suatu keadaan.

Anak-anak juga bukanlah peri.
Yang dengan keajaiban dan keindahannya bisa merubah segala kesedihan menjadi kebahagiaan.

Mereka hanyalah anak-anak yang punya perasaan dan hati. Mereka adalah anak-anak yang masih bisa dibentuk sedemikian rupa untuk menjadi insan mulia di dunia dan menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Mereka bisa sakit, marah, sedih, tertawa, bahagia ataupun kecewa. Hanya bagaimana kita sebagai orang tua membuatnya bijak saat mereka mengalami bermacam-macam perasaan.

Mashaallah
Kesalahanku sebagai seorang Ibu yang tidak bisa melihat itu semua dengan mata hati. Secara kasat mata, aku hanya melihat repotnya terjaga dimalam hari dan menenangkan anak yang sedang sakit. Namun di balik itu semua, aku belajar memahami bahwa sakit ini bisa saja menjadi sarana penggugur dosa bagiku.

Maka,
Menulis keseharian mengenai keluarga adalah sebuah proses perenungan. Tidak ada hal yang selalu benar dalam hidup. Namun yang terpenting adalah berani mengakui kesalahan dan belajar dari kesalahan tersebut.

 

aliran-rasa

Hikmah yang didapat setelah mengikuti #tantangan10hari Komunikasi Produktif dan menuangkannya dalam tulisan :

  1. Menjadi senantiasa berpikir, hikmah apa yang dapat diambil di tiap harinya dalam membersamai anak dan suami.
  2. Tidak hanya senang dengan keberhasilan namun juga merasakan pahitnya kegagalan dalam hal berkomunikasi, yang pada hari biasanya, tanpa menuliskannya pun akan terlewati begitu saja.
  3. Senantiasa menantikan momen apa yang istimewa di hari itu.
    Bila momen itu tidak terlihat, maka akan memunculkan ide kreatif. Sehingga bisa “Catch The Moment“.
  4. Berusaha senantiasa melompat lebih tinggi.
    Dengan target yang diberikan Bu Septi di Kelas Bunda Sayang ini untuk menuliskan selama #tantangan10hari, maka sejauh mana kami mampu bertahan untuk tetap konsisten menuliskan kisah Komunikasi Produktif.
  5. Membuat pola atau kebiasaan yang akan sering kita lakukan.
    Ini yang aku peroleh ketika bergabung di kelas Bunda Sayang dengan materi Komunikasi Produktif :

    “Apa yang sering kita lihat, akan kita pikirkan. Apa yang sering kita pikirkan, akan kita katakan dan apa yang sering kita katakan, maka akan sering kita lakukan.”

badge
Badge tanda keberhasilan  menyelesaikan #tantangan10hari Komunikasi Produktif

 

Sekian aliran rasa yang ku alami. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,

lendyagasshi

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “Aliran Rasa Kelas Komunikasi Produktif

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s