Family Stories

Melatih Kemandirian #day3

Mulai memasuki long-weekend yang terbayang adalah sederetan agenda berlibur yang seru bersama keluarga.

Mulai merutinkan mengajak anak-anak familiar dengan suasana masjid dengan mengikuti pengajian di Masjid Salman ITB hingga agenda belanja untuk kebutuhan sekolah dan sehari-hari, kerap kami khususkan di 2 hari terakhir tiap minggunya.

salman

Karena saya dan anak-anak harus mencocokkan jadwal kegiatan dengan Abi, maka untuk Sabtu ini, kami hanya mengikuti satu kegiatan saja. Yakni pengajian Sabtu Dhuha Salman.

Di saat begini, ada keinginan untuk mandiri. Karena saya sama sekali tidak merasa kesulitan dalam mengajak anak-anak berkegiatan. Selain jaraknya dekat dengan rumah, juga saya bisa mengendarai kedua kendaraan yang ada. Namun apa daya, Abi memberi instruksi untuk berangkat bersama saja, nanti setelah selesai acara, saya dipinta naik Ub*r atau gr*b taxi.

Alhamdulillah,
di masjid ramah anak ini, saya tetap dapat melatih kemandirian anak. Kaka dan adik bisa ke toilet sendiri (sedikit dengan bantuan agar celana dan rok yang dikenakan tidak basah) dan makan sendiri. Di sini, selain belajar mengenal lingkungan yang islami, anak tetap bisa bermain berlarian kesana kemari. Dan satu yang saya yakini, anak akan menyerap apa yang dilakukan kedua orang tuanya.

Saya aktif mendengarkan dan bertanya saat ada sesi tanya-jawab berlangsung. Dan perilaku saya yang seperti ini, perlahan mengubah sifat kaka yang tadinya pemalu,menjadi sedikit membuka diri apabila di ruang publik.
Alhamdulillah~~

Untuk acara pengajian ini, saya melatih diri saya untuk menginfakkan apa yang saya punya. Tidak lagi mencari-cari uang dengan nominal paling rendah. Agar terbiasa memberikan yang terbaik untuk Allah dan lingkungan.

Wallahu’alam bishowab.

Sepulangnya pengajian, kami pulang dan menikmati weekend bersama dengan bermain di depan rumah. Apa yang dilakukan?

Karena anak-anak usianya berdekatan, sehingga mereka berdua mampu meranang mainan terbaik mereka sendiri. Mulai dari memanjat pagar, hingga mengajak main kucing yang (kebetulan) lewat.

Untuk kemandirian sosial, alhamdulillah…saya merasa anak-anak tidak ada masalah. Karena baik kaka maupun adik mampu berteman dengan siapa saja dan dimana saja. Meskipun kalau ditanya, “Teman kaka yang baru tadi, namanya siapa, kak?”

Dan kaka dengan entengnya menjawab,“Oh iyaa, Ma…tadi lupa tanya. Siapa yaa…?”

Kalau sudah begitu, saya hanya meringis geli. Dan ini salah satu sifat anak-anak yang saya kagumi. Mereka tidak perduli dengan siapa berteman, yang mereka tahu hanyalah bermain bersama. “Seandainya orang dewasa pun bisa begini tulus…?”

Sekian memandu kemadirian anak hingga #hari3 ini. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
lendyagasshi

 

#tantangan10hari
#hari3
#bundasayang
#melatihkemandirian
#kemandiriananak
#kemandirianpasangan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s