Family Stories

Melatih Kemandirian #day7

Hari ini adalah jadwal untuk ke sekolah kaka dalam rangka parenting. Lebih tepatnya, menguatkan pengasuhan di rumah dan menyeimbangkan dengan di sekolah. Tanggal 11 Februari 2017 lalu, kaka mengikuti tes kematangan dari salah satu Lembaga Psikologi yang bekerjasama dengan RA Permana Asih.

Oleh karena itu, selain mengadakan sesi parenting, juga diadakan sesi konsultasi atas hasil deteksi kematangan yang telah dilakukan ananda beberapa yang lalu.

This slideshow requires JavaScript.

 

Hasil dari tes tersebut membuat saya lega. Entah kenapa, ada perasaan deg-deg an melanda. Takut kalau Ai tidak sesuai harapan. Padahal saya tahu sekali seperti apa kaka Ai saya didik di dalam rumah.

Faktor menumpukan impian terbesar dan tuntutan terbesar memang terletak pada anak pertama. Saya tidak terlalu ambil pusing saat Hana. Karena saya selalu puas dengan apapun yang dicapai oleh Hana.

Akan berbeda dengan pencapaian kaka.

Mashaallah….

Sampai saat ini, saya masih menjadi orang tua yang seperti itu yaa…?
Apalagi kalau hasil yang tidak sesuai tersebut dibandingkan dengan teman-teman sepantarannya. Ada perasaan kecil hati.

Tapi saya tdak ingin menunjukkan kekecewaan saya terhadap pencapaian kaka. Apapun itu. Saya sudah berjanji akan selalu mendukung kaka dan Hana. Apapun dan bagaimana pun hasilnya. Sehingga, ketika kaka suatu hari pernah mengeluh bahwa ia tertinggal dalam hal membaca (latin) di kelasnya, saya berkata “Kaka hebat! Sudah bisa sampai jilid 3. Kalau kaka ngliat temen kaka sudah jilid 4 bahkan 5, itu karena mereka di les kan carlistung sama Ibunya setiap pulang sekolah. Kaka mau les?”

(Dalam hati kecil saya, semoga kaka tidak ingin…karena saya tahu sekali itu akan menambah beban kaka di usianya yang baru menginjak 6 tahun).

“Engga mau ahh…kalo les.”

(Alhamdulillah….^^)

“Kaka pelan-pelan Mama bantu belajar di rumah, lama-lama in syaa allah bisa. Gak akan kalah dengan teman-teman.”

 

Dan sekali lagi, fitrah anak itu terlihat. Kaka dengan kesadarannya ingat bahwa tiap malam paling tidak menyisihkan waktu untuk mereview pelajaran yang sudah dipelajari di sekolah dengan menambah ekstra pelajaran yang akan dipelajari.

Mungkin terkesan sepele untuk orang dewasa, karena materi yang dipelajari tidaklah berat. Namun bagi anak-anak, proses belajar inilah yang saya hargai. Bahwa untuk mendapatkan sesuatu (dalam hal ini adalah ilmu yang bermanfaat), ia harus bekerja keras.

 

Kemandirian belajar ini (belum) dimiliki Hana, sang adik. Dan saya tidak banyak menarget karena usianya yang masih terlalu dini. Sehingga saya lebih santai menyikapinya.

Dan saya baru sadar bahwa selama ini saya kurang sabar dalam melatih kemandirian anak-anak. Dan saya terlalu sabar untuk melatih kemandirian bagi diri saya sendiri.

Kok bisa?

Iya,
Sejujurnya sampai detik ini, saya belum melaksanakan apa yang saya rencanakan kemarin, yaitu mencatat segala jenis pengeluaran kerumah-tanggaan. Yang ada, saya malah sibuk dengan membeli beberapa barang yang sifatnya konsumtif.

Jadi teringat ketika kaka menangis saat menolak keinginan saya melatih kemandirian untuk bisa bersuci sendiri setelah buang air besar.

Dan tahukah anda, apa yang saya katakan pada kaka saat itu?

(Dengan nada mengancam) “Mau sampai kapan kaka di bantuin sama mama terus? Kalau Mama gak ada, kaka mau minta tolong sama siapa?”

Dan kaka yang dasarnya memang berhati senditif, langsung menurut sambil nangis tersedu-sedu sedih. Ia berkata kalau mama jangan tinggalin kaka…Mama jangan meninggal, dan lain sebagainya.

Ternyata begini yaa…ada di posisi kaka.
Semoga lain kali, saya tidak terburu-buru lagi dalam menyampaikan apa yang saya inginkan. Dan tidak melakukan judgement bahwa kaka begini dan adik begitu.

Saya mesti banyak-banyak menerima perasaan anak. Dan menjadi pendengar yang baik atas segala perasaan yang sedang mereka rasa.

Sekali lagi, terima kasih Bu Septi.
Di kelas matriks, kami ditempa untuk menjadi Ibu yang hebat di dalam dan di luar lingkungan. Sedangkan di kelas Bunda Sayang, kami mengokohkan tanaman yang sudah ditanam sebelumnya.

Semoga,
pondasi ini akan semakin kokoh. Sehingga menumbuhkan generasi Rabbani yang sehat fisik-jasmani, jiwa dan raga.

 

Salam hangat,
lendyagasshi

 

#tantangan10hari
#hari7
#bundasayang
#melatihkemandirian
#kemandiriananak
#kemandirianpasangan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s