Family Stories

Aliran Rasa : Melatih Kemandirian Anak

Childhood is not a race to see how quickly a child can read, write, and count.
Childhood is a small windows of time to learn and develop at the pace which is right for each individual child.

~unknown~

Saya hanya bisa bersyukur dan berkali-kali ingin menangis rasanya.
Rasa bersalah saya terlambat mengajarkan anak-anak kemandirian sesuai usianya, terobati dengan adanya kalimat yang saya kutip dari buku Fitrah Based Education-nya Ust. Harry Santosa.

Tidak ada kata terlambat dalam melatih kemandirian pada anak dan pada pasangan.

Kuncinya adalah konsisten.
Dilakukan terus-menerus tanpa terputus selama (minimal) 10 hari, maka akan berubah menjadi sebuah kebiasaan. Kebiasaan ini yang akan kita latihkan terus menerus dengan ragam yang berbeda di tiap minggunya.

Maka dari itu perlu adanya checklist kemandirian yang sesuai dengan tahapan usianya.

Yang saya rasakan selama melakukan pendampingan dengan menerapkan gamification ini, anak-anak menjadi lebih bersemangat dan tertantang. Tidak lagi memikirkan bahwa ini adalah sesuatu yang membebani mereka seperti saat diawal sounding.

 

way

Ternyata ilmu di kelas #bundasayang ini memang bertahap. Masih segar dalam ingatan saya ketika diminta mengumpulkan #tantangan10hari mengenai Komunikasi Produktif. Dan masa berikutnya adalah Melatih Kemandirian. Dimana dalam melatihkan hal ini diperlukan kemantapan dalam menyampaikan pesan. Dan ilmu Komunikasi Produktif memang sangat diperlukan.

Untuk memantapkan pembelajaran, kami pun menuliskan setiap progressnya di blog. Dan ternyata kejadiannya tidak hanya progress yang menggembirakan, namun juga penuh drama dan air mata. Beberapa kali saya merasa gagal dalam berkomunikasi dan mengakibatkan anak menjadi menangis sedih. Dan sering juga tercetus 12 gaya populer, mengancam atau membandingkan.

Melelahkan?

Iya, melatih kemandirian ini lebih melelahkan daripada yang saya kira. Namun saat lelah ini melanda, saya kembali teringat kalimat Lebih baik lelah saat ini daripada lelah saat anak telah dewasa nanti. Saya pun kembali bangkit.

Ada perasaan lega saat #tantangan10hari berhasil dilewati. Namun yang jadi pertanyaan besar…Akankah saya kembali konsisten melatihkan kemandirian demi kemandirian kepada anak-anak ataukah saya akan berhenti sampai di sini?

Jawabannya adalah kembali kepada niat dan keinginan kami sebagai orang tua. Kami bertekad untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah. Baik secara fisik maupun mental. In syaa allah saya akan terus membantu membersamai anak dalam melangkahkan kaki mereka menapaki kehidupan ini.

This slideshow requires JavaScript.

 

Terima kasih, Ibu Septi untuk apresiasinya.

Ternyata begini rasanya diapresiasi. Meskipun sudah sebesar ini, rasanya saat kita mencapai sesuatu dan kemudian usaha kita diakui, menyenangkan sekali.

Mulai hari ini,
Saya akan lebih banyak mengapresiasi setiap kebaikan anak-anak serta suami.

Demikian aliran rasa yang saya tuliskan mengenai Melatih Kemandirian. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
lendyagasshi

 

#melatihkemandirian
#bundasayang
#iip
#institutibuprofesionalkoordi
#aliranrasa

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s