Bunda Sayang · Family Stories

Family Project #day11

Weekend ini, kami tidak berencana untuk pergi kemanapun. Alasannya ada beberapa dan salah satunya karena Abi ada kerjaan di hari libur begini. Tak apa….kami agendakan hari ini banyak mendengarkan ceramah saja yuuk, nak…

Adzan shubuh berkumandang. Dan Hana terbangun setelah Ai yang terbangun lebih dulu dan membersamai saya melaksanakan sholat tahajjud.

Alhamdulillah~~

Ai dan Hana bisa diajak bekerjasama. Mereka asik makan roti dan tidak saya paksakan untuk mendirikan sholat bersama saya. Cukup melihat mama sholat saja yaa, Nak...

Mereka berdua memang pasangan kaka-adik yang kompak dalam segala hal. Ketika Hana ingin menangis ((biasanya saat bangun tidur, ia selalu mencari seseorang yang ada di sampingnya…biasanya siih…saya)), tapi kalau ada sang kaka, ia tidak jadi menangis. Sungguh saya bersyukur memiliki 2 anak dengan jarak usia yang berdekatan. Dua tahun.

Seperti kata Bu Septi pada Cemilan Rabu, 29 Maret 2017 bahwa  :

POTENSI KECERDASAN ANAK UNTUK MERAIH KESUKSESAN HIDUP.
(Bagian 1)

Sebelum ditemukannya ragam kecerdasan (IQ, EI, SI, dan AI), seorang anak dikatakan cerdas jika memiliki IQ yang tinggi. Sebaliknya anak dikatakan bodoh jika ber-IQ rendah.

Kecerdasan Intelektual (IQ) adalah kecerdasan yang dimiliki oleh otak manusia untuk bisa melakukan beberapa kemampuan seperti, kemampuan menalar, merencanakan masalah, berpikir, memahami gagasan, dan belajar.

Menurut Conny Setiawan dalam buku “Perspektif Pendidikan Anak Berbakat” ada tiga komponen penting yang dianggap esensi intelegensi, yakni penilaian, pengertian, dan penalaran.

Berkat kecerdasan intelektualnya, manusia telah mampu menjelajah ke bulan dan luar angkasa, menciptakan teknologi informasi dan transportasi yang sangat membantu dan lain sebagainya. Namun, ketika IQ saja yang menjadi dasar seseorang bergerak, maka di samping ada kemajuan pesat buah dari kecerdasannya itu, terdapat pula banyak kerusakan muncul akibat dari ulah manusia.

Charles Spearmen, Thurstone, dan Gardner mengembangkan teori multiple intelligence (MI) yang mengukur kecerdasan tidak hanya dari satu aspek kemampuan. Teori MI ini lebih manusiawi karena intelegensi manusia diukur dari tujuh dimensi yang semi otonom.

Masing-masing adalah :

1) linguistik, 2) music, 3) Matematik Logis, 4) Visual-Spasial, 5) Kinestetik-Fisik, 6) Sosial Interpersonal, dan 7) Intra-Personal.

Seperti diungkapkan Suharsono dalam buku “Mencerdaskan Anak”, ketujuh macam kecerdasan ini merupakan fungsi dari dua belahan otak kiri dan otak kanan. Otak kiri memiliki kemampuan dan potensi memecahkan problem matematik, logis dan fenomenal. Otak kanan memiliki kemampuan merespon hal-hal yang sifatnya kualitatif, artistic dan abstrak.

❓Apakah dengan mengoptimalkan ketujuh kecerdasan ini akan menjadikan anak-anak sukses mengarungi hidup?

Jawabannya BELUM TENTU.

🖌Model kecerdasan intelektual benar-benar akan bergfungsi hanya dalam tahapan ketika anak harus menyelesaikan permasalahan. Bahkan sejauh yang dapat diamati, model kecerdasan ini belum mendorong anak menjadi kreatif bahkan inovatif.
Diperlukan upaya pendekatan yang berbeda agar anak menjadi lebih tertantang ide kreatif dan inovatifnya.

Daniel Goldman menawarkan pendekatan baru dalam memandang kecerdasan seseorang dengan mengenalkan Kecerdasan Emosi (emotional Intelligence) yakni kemampuan untuk mendeteksi dan mengenali emosi sendiri maupun orang lain.

Menurut Suharsono, Perbedaan nyata antara IQ dan EI terutama pada hal “apa” yang menjadi objek kecerdasan itu sendiri. IQ lebih memandang objek-objek di luar diri manusia (out-ward looking) sedangkan EI lebih memperhatikan fenomenal yang berada di dalam diri manusia (in-ward looking).

Khairul Ummah (2003) menyatakan bahwa kunci sukses yang sebenarnya tidak lain adalah kemampuan memahami emosi diri dan emosi orang lain serta memanfaatkan interaksi emosional ini semaksimal mungkin untuk tujuan positif yang hendak dicapai bersama.

Kecerdasan emosi penting untuk menangani situasi yang bermuatan emosi, suatu kondisi yang sering terjadi. Muatan dari emosi negatif serta dampak dari kepercayaan diri, keberanian dan kejujuran dapat diperoleh dengan baik melalui kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi merupakan faktor yang jelas mengatur pola kehidupan. Kecerdasan ini penting dalam pengelolaan emosi yang diperlukan hingga mampu membangun pola yang berhasil. Pengembangan kecerdasan emosi sangat penting bagi keberhasilan tingkah laku dan organisasi. Kecerdasan emosi menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan hubungan di masyarakat. Kecerdasan ini juga dapat menghilangkan perasaan takut, cemas, dan marah yang bisa menghambat proses pengendalian emosi.

📚Referensi:
Saifullah.A & Nine Adien MAulana, Melejitkan Potensi Kecerdasan Anak, 2005, Yogyakarta: Ar-Ruz Media

https://tisna2008.wordpress.com/2009/05/26/antara-iq-eq-dan-sq/amp/

💻Disusun oleh:
Tim Fasilitator Nasional Kelas Bunsay IIP

Jadi Mastermind Arief`s Family Project kali ini adalah

  • Dari 10 hari melakukan #onedayoneproject, saya merasa cukup memperkuat bonding kami sekeluarga. Karena itulah tujuan diadakan Family Project ini.
  • Memperkuat komunikasi produktif antara suami-istri, ayah-anak dan ibu-anak.
  • Tiap hari selalu ada hal yang kami nantikan untuk kami lakukan bersama sebagai quality time meskipun secara quantity, saya yakin anak-anak tidak merasa kekurangan.
  • Kami akan lebih konsisten menumbuhkan Fitrah Keimanan pada anak-anak. Dimulai dari diri sendiri.

    Misal : sholat tepat waktu, ditambah sunnah ((qobla dan ba`da, dhuha serta tahajjud)).
    Bersama anak-anak, saya bersama belajar bahasa Arab dan hadits.

Sekian Family Project keluarga kami. Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
lendyagasshi

Advertisements

2 thoughts on “Family Project #day11

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s