Bunda Sayang · Family Stories

Mengisi Hari Libur Bersama Bintang #day2

🌊 Kemampuan Anak Kita Seluas Samudra🌊

 

Dengan meyakini anak kita adalah bintang, maka kita pun yakin kemampuan anak itu seluas samudra. Sayangnya, orangtua, guru sekolah, atau sistem pendidikan-lah yang mereduksi atau menyempitkan kemampuan anak hingga samudra itu berubah menjadi selokan-selokan kecil.

Menurut psikologi perkembangan, kemampuan anak yang sangat luas terbagi menjadi tiga bagian besar, yaitu psikoefektif, psikomotorik, dan psikokognitif.

Prof. Dr. Nasution, M.A menjelaskan bahwa kemampuan belajar anak atau peserta didik dikatakan sempurna jika memenuhi tiga aspek kemampuan berikut ini :

1⃣ Aspek kemampuan afektif
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan nilai dan sikap. Penilaian pada aspek ini dapat terlihat antara lain pada kedisiplinan atau sikap hormat terhadap guru. Aspek afektif ini berkaitan erat dengan kecerdasan emosi (EQ) anak.

2⃣ Aspek kemampuan psikomotorik
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan gerak fisik yang mempengaruhi sikap mental. Aspek ini menunjukan kemampuan atau keterampilan ( skill) anak setelah menerima sebuah pengetahuan.

3⃣ Aspek kemampuan kognitif
Aspek kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan berpikir. Aspek ini sangat berkaitan dengan intelegensia (IQ) atau kemampuan berpikir anak. Sejak dahulu,aspek kognitif selalu menjadi perhatian utama dalam sistem pendidikan formal. Ini dapat dilihat dari metode penilaian pada sekolah- sekolah di negeri kita dewasa ini yang sangat mengedepankan kesempurnaan aspek kognitif.

 

Mestinya, orang tua memandang kemampuan anak dengan landasan paradigma bahwa kemampuan anak kita seluas samudra. Artinya, anak memiliki tiga aspek kemampuan, yaitu afektif, psikomotorik,  dan kognitif.

Jika anak memiliki kekuatan pada salah satu aspek kemampuan tersebut, sudah cukup untuk dikatakan sebagai anak yang MAMPU, PANDAI, PINTAR, atau CERDAS.

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

 

🔸Sumber Bacaan :
Munif Chatib, Orangtuanya Manusia: Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak

 

Anak-anak hari ini sedang berlibur di rumah, namun saya tidak pernah mengkhawatirkan mereka bakalan mati gaya. Karena Ai dan Hana, anak-anak yang cukup kreatif.

Tidak ada mainan baru, mereka tidak pernah mempermasalahkan. Salah satu cara bermain mereka adalah bermain bersama teman di luar rumah. Ada kalanya bermain mengumpulkan batu dan mereka susun hingga tinggiii…sekali. Dan Ai menceritakan kalau yang ia lakukan adalah membangun gedung, seperti Abi. Adakalanya pula, Ai dan Hana serta teman-temannya main di gang, hanya untuk mengamati lumut serta hewan-hewan yang hidup di sekitarnya. Seperti kepik kecil, misalnya.

Uniknya cara bermain anak-anak ini membuatku sadar. Sebenarnya yang mereka perlukan hanyalah ruang. Mereka memerlukan ruang untuk bermain, bercerita serta mengekspresikan apa yang mereka inginkan.

Seperti hari ini, Ai dan Hana mengundang teman-teman untuk bermain ke rumah. Hanya untuk bermain layaknya seorang pedagang dan pembeli.

20170125_194021

 

Kesenangan Ai dan Hana akan bermain bersama membuat saya berpikir, mereka sedang mengembangkan bakal sosialisasinya. Meskipun tak jarang Ai bercerita dengan saya kalau temannya meninggalkannya karena sudah mendapat teman lain. Saya berusaha menjadi pendengar yang baik dan tidak memberi saran kecuali ia minta. Karena sesungguhnya, ia sedang merasakan nikmatnya kekecewaan.

Semoga Allah senantiasa melindungi langkah-langkah kecilmu, nak…

 

Happy Holiday.

Salam hangat,

lendyagasshi

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Mengisi Hari Libur Bersama Bintang #day2

  1. Aku dulu paling betah di rumah main bongkar pasang, Mbak. Nikmat sekali berimajinasi sampai akhirnya jadi cerita-cerita fiksi yang tidak tertuliskan.
    Senang ya kalau betah di rumah itu. Tapi jangan lupa tetep diajak jalan-jalan ya, Mbak.

    Like

  2. Masa anak2 seharusnya memang masa2 nya eksplorasi2 sambil bermain ya. Suka kasihan sebenarnya melihat anak di perkotaan yang kesehariannya padat oleh sekolah, les, dll. Tanpa pernah tahu sosialisasi dg anak tetangga, kawan sebaya, apalagi main ucing2an atau emahemahan jaman anak jadul kaya angkatan saya hehehe

    Salam anak jadul
    Okti Li

    Like

  3. Aku sedang mencoba mengamati anak2 ini jg lebih kuat kemana. Baguiku anak2 gk perlu pinter di semua bidang, cukup satu tapi oke dan bisa berkembang dengan baik kelak.
    TFS mbk 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s