Bunda Sayang · Family Stories

Mendidik Anak Cerdas Finansial #day1

MENDIDIK ANAK CERDAS FINANSIAL SEJAK DINI

Apa itu Cerdas Finansial?

Menurut para ahli cerdas finansial adalah kemampuan seseorang untuk mendapatkan dan mengelola keuangan.

Apabila disesuaikan dengan konsep di Ibu Profesional bahwa uang adalah bagian kecil dari rejeki, sehingga dengan belajar mengelola uang artinya kita belajar bertanggungjawab terhadap bagian rejeki yang kita dapatkan di dalam kehidupan ini.

Apa pentingnya cerdas finansial ini bagi anak-anak?

Di dalam Ibu Profesional kita memahami satu prinsip dasar dalam hal rejeki yaitu,

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari.

Ketika anak sudah paham konsep dirinya, maka kita perlu menstimulus kecerdasan finansialnya agar :

Kemuliaan Anak Meningkat

dengan cara :

a. Anak paham konsep harta, bagaimana memperolehnya dan memanfaatkannya sesuai dengan kewajiban agama atas harta tersebut.

b. Anak bertanggungjawab atas pengelolaan keuangan sendiri.

c. Anak terbiasa merencanakan (membuat budget) berdasarkan skala prioritas.

d. Anak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

e. Anak memiliki rasa percaya diri dengan pilihan “gaya hidup” sesuai dengan fitrahnya, tidak terpengaruh dengan gaya hidup orang lain.

f. Anak paham dan punya pilihan hidup untuk menjadi employee, self employee, bussiness owner atau investor.

.

.

Bagaimana Cara Menstimulus Cerdas Finansial pada Anak?

  1. Anak-anak perlu dipahamkan terlebih dahulu bahwa rejeki itu datang dari Sang Maha Pemberi Rejeki, sangat luas dan banyak, uang/gaji orangtua itu hanya sebagian kecil dari rejeki.

Sehingga jangan batasi mimpi anak, dengan kadar rejeki orangtuanya saat ini.

Karena sejatinya Anak-anak adalah milik Dia Yang Maha Kaya, bukan milik kita

Sehingga kalau akan minta sesuatu yang diperlukan anak, mimpi sesuatu, mintalah ke Dia Yang Maha Kaya, bukan ke manusia, meski itu orangtuanya.

      2. Ajak anak berdialog tentang arti KEBUTUHAN dan KEINGINAN

Kebutuhan adalah sesuatu yang tidak bisa ditunda

Keinginan adalah sesuatu yang bisa ditunda.

Bantu anak-anak membuat skala prioritas kebutuhan hidupnya berdasarkan dua hal tersebut di atas.

   3. Setelah paham dengan prioritas kebutuhan hidupnya, maka latih anak untuk membuat “mini budget“, sebagai bentuk latihan merencanakan berdasarkan skala prioriitas

Mini budget ini bisa dibuat 3 harian, 1 minggu atau 1 bulan bergantung pada kemampuan dan usia anak.

Dengan adanya mini budget ini anak akan berkomitmen untuk mematuhi apa yang sudah disepakati, kemudian bertanggung jawab menerima konsekuensi apapun atas kesepakatan yang sudah dibuatnya

   4. Anak dilatih mengelola pendapatan berdasarkan ketentuan yang diyakini oleh keluarga kita.

Contoh : Apabila mini budget sudah disetujui oleh orangtua, dana sudah keluar, anak-anak akan belajar memakai ketentuan yang sudah disepakati keluarga misal kita ambil contoh sebagai berikut :

Hak Allah : 2,5 – 10% pendapatan
Hak orang lain : max 30% pendapatan
Hak masa depan : min 20% pendapatan
Hak diri sendiri : 40-60% pendapatan

   5. Lakukan apresiasi setiap anak menceritakan bagaimana dia menjalankan mini budget sesuai kesepakatan.

Latih lagi anak-anak untuk membuat mini budget berikutnya dengan lebih baik.

Prinsipnya adalah : Latih – percayai – jalani – supervisi – latih lagi.

Ingat sekali lagi prinsip di Ibu Profesional :

For things to CHANGE, I MUST CHANGE FIRST

Apabila kita menginginkan perubahan maka mulailah dari diri kita terlebih dahulu.

Maka sejatinya materi ini adalah proses kita sebagai orangtua agar cerdas finansial dengan cara learning by teaching belajar mengajar bersama anak-anak. Jadi yang utama harus belajar tentang cerdas finansial ini adalah kita, orangtuanya, kemudian pandu kecerdasan finansial anak-anak kita sesuai tahapan umurnya.

 

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

 

📚 Sumber Bacaan :
Ahmad Gozali, Cashflow for muslim, 2016
Septi Peni Wulandani, Mendidik Anak Cerdas Finansial, bunda sayang, 2015
Eko P Pratomo, Cerdas Finansial, artikel Kontan, 2015

 

Kisah cerdas finansial di hari pertama kami adalah ketika saya sakit, saya sangat membutuhkan sekali jus sebagai suplemen tambahan. Jadi hari ini saya membeli jus bersama Ai dan Hana. Karena Ai Hana terbiasa memiliki porsi masing-masing satu untuk minuman ((tapi tidak untuk makanan – sigh)) maka kami membeli jus kesukaan kami masing-masing.

Sesampainya di rumah, Ai tidak segera menghabiskan jus yang dibelinya tadi, sehingga membuat saya bertanya padanya mengapa tidak segera dihabiskan. Dan Ai hanya menjawab bahwa ia sedang tidak ingin minum jus.

Lalu saya beri pengertian bahwa apa yang sudah dibeli, harus dihabiskan. Kalau tidak yakin mampu menghabiskan, lebih baik sharing bersama Hana.

Semoga pesan saya ini dipahami oleh Ai. Dan ini menjadi pelajaran untuk saya, bahwa berdiskusi mengenai apa saja yang mereka butuhkan itu penting. Tidak hanya mengikuti kebiasaan. Serta meyakinkan anak-anak bahwa apa yang sudah dibeli baik berupa makanan atau minuman harus dihabiskan sebagai bentuk rasa syukur dengan apa yang sudah diperoleh.

 

Semoga bermanfaat.

Salam hangat,
-lendyagasshi-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

22 thoughts on “Mendidik Anak Cerdas Finansial #day1

  1. Bener sekali anak harus diajarkan mengelola finansial secara cerdas, biar bisa ngebedain kebutuhan dan keinginan tentunya, apalagi kalau nanti udah masuk ke pergaulan sekolah atau bahkan kuliah biar nggak terpengaruh hidup hedon dan terbiasa menabung atau setidaknya mengelola dengan baik 😀

    Like

  2. Mbak Lendy, makasih ilmunya. Mau aku terapin ke diri sendiri yang….enggak bisa ngelola keuangan. Sepertinya ini cara mengenal finansial paling mudah buat aku. Suka banget. Ringan. masuk ke otak. Ah, mungkin aku memang jiwa anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa jangan-jangan ya?

    Like

  3. Wah Ibu Profesional juga mendukung literasi keuangan ya mbak? Jd keinget materi ttg ngajarin anak melek soal keuangahn juga. Hal tersebut penting supaya anak tau mengenai pentingnya hemat dan tau kapan waktunya membelanjakan uang. Kalau anak2ku krn masih balita palingan msh aku ajarin nyelengin duit atau saat terima angpao lebaran saya bilang mau dtabung bukan dijajanin :D, hehe. Bentar lg mau bikin tabungan buat mereka 😀

    TFS

    Like

  4. setuju banget lendy, seperti halnya mengajarkan konsep sex dan penjagaan diri sejak kecil, harusnya mengajarkan dan mengenalkan konsep uang dan finansial ke anak jg sejak dini.
    karena anak anak tidak boleh besar tanpa punya rasa tanggung jawab terhadap uang dan akibat dari uang itu sendiri

    Like

  5. Len kadang sayapun yang udah 20 tahun perlu diingatkan juga hal2 begini.. Anak sekarang agak2 gimana gitu kalau diajarin orangtua… Mereka merasa sudah dewasa tapi kalau diajarin ngelola keuangan ada aja alasannya.

    Like

  6. Wah, terima kasih ilmunya, Mbak. Ingin rasanya bisa jadi ibu profesional agar bisa mengajari anak untuk telaten mengelola keungannya dengan cara dan tujuan yang benar. Luar biasa! Duh, tapi belum punya krucil, nih. Hehehe. Buat persiapan dulu kali, ya. Btw, jangankan buat anak, buat aku sendiri aja masih butuh banget ilmu ini. Hahaha.

    Like

  7. Aku saat kecil tidak diajarkan ttg keuangan, mksudnya mungkin krna orgtua gk tau konsep ajarin anaknya ttg keuangan keluarga, jdi sampai sma aku tau beres aja. Pdhal tenyata penting ya ngajak anak berdiskusi bagaimana caranya bedain kebutuhan sm keinginan dan cara ngatur uang jajan.

    Like

Leave a Reply to Rinda Sukma Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s