Diskusi

Sesi Tanya – Jawab Materi 3 Matrikulasi Koordinator IIP

1. Finny –  Bogor
Assalamu’alaikum wrwb.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “Misi Spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.

Maaf ibu, kalau pertanyaan saya ecek-ecek banget.
Bagaimana cara kita memahami kehendakNya?

Jawab :

Mbak Finny,
cara memahami kehendakNya adalah membaca tanda-tanda cintaNya yang diberikan ke kita selama ini. Apakah kita menyadarinya bahwa DIA sudah banyak memberikan banyak tanda-tanda cinta ke kita, sehingga kita paham maksud DIA menciptakan kita? atau kita menganggapnya biasa-biasa saja, sehingga tidak membuat berpikir banyak?

Point-point yang saya berikan di materi #3 ini adalah sedikit dari banyak clue yang bisa kita jawab bersama. perlahan-perlahan saya pandu di program matrikulasi ini.

2. Endah – Semarang
Mohon maaf ibu, saat ini saya sedang berjuang untuk meyakinkan saya bahwa tidak terpisah antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, sebagai marketing freelance yang biasa offline, sulit membawa anak-anak, saat saya memutuskan untuk stop, argo kebutuhan keluarga terus berjalan dan jadi problem baru, apakah reset lagi keputusan saya atau bagaimana bu?

Jawab :

Mbak Endah yang sedang berjuang, hal yang perlu kita yakini adalah

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari

kadang kita sibuk mengejar sesuatu yang sudah pasti, yaitu rejeki, dan melupakan hal-hal yang harus dicari yaitu kemuliaan.

Nah, coba sekarang mbak endah luangkan waktu sesaat untuk menjawab satu persatu pertanyaan di atas, untuk menemukan diri.

Jangan pernah takut akan rizqi mbak…
Karena setiap amanah yang dititipkan ke kita, sudah satu paket dengan rizqinya.

3. Dila – Pati
Assalamualaikum bu septi,yg saya rindukan..(kangen berat sama ibu)
* Saya blm begitu memahami tentang maksud dari “Adakah yang membuat anda sakit hati/dendam”sampai sekarang?
Apakah menceritakan kenangan sedih masa lalu kita saat kecil, itu termasuk dendam/luka masa kecil, yang tidak kita sadari? Walaupun cerita itu tanpa nada emosi, atau marah dan kita menceritakan hanya dengan orang terdekat kita, contoh pasangan kita.
** Jika masih ada luka masa kecil yang tidak kita sadari, terbawa saat mendidik anak-anak, bagaimana cara menanganinya? Apakah ada therapy khusus yang harus kita jalani, atau konseling khusus dengan ahlinya?
Terima kasih.. Sekian pertanyaan dari saya

Jawab :

Mbak Dila yang baik, cerita masa kecil yang menyedihkan, itu adalah proses mengalirkan rasa, selama dengan orang yang tepat.

Apakah ketika menceritakan hal tersebut ada emosi yang mengikutinya atau perasaan yang menyayat?

Kalau tidak, artinya mbak sudah menerima kondisi masa lalu tersebut.

Setelah itu lihat orangtua mbak Dila,

Apakah saat ini mbak Dila memaafkan segala salah dan khilaf orangtua saat mendidik kita waktu kecil?

Kalau semua mbak dila sdh jawab iya artinya mbak sudah selesai dengan masa lalu.

Tinggal sekarang memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita, tanpa membawa saat -saat sedih di masa kecil mbak dila ke dunia anak-anak.

4. Prima-IIP Malang
Assalamualaikum Bu Septi. Bagaimana membangun peradaban keluarga dalam kasus masih tinggal bersama orang tua/mertua?
Dengan tidak ada pilihan untuk tinggal terpisah. Adakalanya dalam mendidik, ibu seakan jadi monster dan mbah jadi power rangers.

Bagaimana agar kita tetap bebas membangun karakter anak tanpa tekanan, tanpa ba bi bu nya orang ketiga, tanpa statement negatif?

Jawab :

Mbak Prima,
wa’alaykumsalam wr.wb kunci utama ketika kita masih jadi satu dengan orangtua adalah komunikasi. Libatkan orangtua/mertua menjadi satu team dengan kita, berikan mereka peran khusus yang bisa dikerjakan.

Kemudian bicarakan dengan suami, bahwa ring 1 yang harus kita bangun adalah keluarga inti plus ortu kita.

Makin kreatif dengan solusi, mbak Prima akan makin menemukan peran peradaban mbak di muka bumi ini. Karena yg memiliki tantangan hidup seperti mbak prima itu banyak, tidak hanya mbak sendirian. Kalau mbak Prima bisa menyelesaikannya, maka memang peran mbak prima di ranah tersebut.

5. Tika – Karawang
Assalamualaikum Bu Septi,
dalam peran sebagai ibu bagaimana cara kita menerapkan prinsip keadilan pada anak, agar mereka selalu merasa orang tua memberikan kasih sayang yang sama? Sehingga saat dewasa nanti mereka selalu bisa akur dan tidak ada rasa iri karena ada yang lebih disayang?
(Putri saya usia 8 tahun dan 5 tahun)

Jawab :

Wa’alaykumsalam wr.wb.
Mbak Tika, adil itu tidak harus sama. Sehingga kalau ada hal-hal yang kita perlu memberi perhatian ke salah satunya, perlu dibicarakan terlebih dahulu ke salah satu anak kita.

Misal
“Kak, ini adik baru saja sakit, maka ibu ijin selama beberapa hari ini, fokus ke adik dulu ya”

Perlu hati-hati, agar sikap kita tidak jadi luka anak-anak kelak.

6. Dwi Indah – Bandung
Ibu Septi yang baik, sebelumnya terima kasih atas sharing ilmu-ilmunya.👍🏻😊

Setelah membaca materi #3 ini ada beberapa hal yang ingin saya diskusikan, yaitu:
1. Tentang Selesai dengan masa lalu, apakah artinya melupakan masa lalu?
Menurut saya, masa lalu itu tidak perlu dilupakan namun diterima. Dan selanjutnya berusaha/belajar untuk semakin baik di masa sekarang juga di masa akan datang.
Dengan perasaan menerima masa lalu, maka selanjutnya tidak akan timbul lagi dendam/sakit hati dengan masa lalu.
Justru rasa “menerima” inilah yang perlu ditumbuhkan.

2. “Berjalan di jalanNya maka peluang akan menghampiri..”
saya melihatnya..ini sangat luas cakupannya. Tentang berjalan dijalanNya,
Saya mengartikannya, setiap langkah kita di dunia ini didasarkan pada ibadah, apakah demikian ibu?
Mohon penjelasannya lebih spesifik tentang berjalan di jalanNya dan contohnya seperti apa (beserta peluang yang dimaksud)?

3.“…antara pekerjaan, berkarya, dan mendidik anak bukanlah sesuatu yang terpisahkan…”
Sangat setuju sekali Bu Septi…namun adakalanya kita dihadapkan dengan prioritas mana dulu yang didahulukan….adakah saran/trik ataupun kunci sukses agar kita bisa pas menentukan skala prioritasnya.

Terima kasih atas penjelasan dari Ibu Septi.💐😊

Jawab :

Teh Dwi Indah yang baik,

a. Air tidak pernah kembali ke hulu, peristiwa pun tidak, memaafkan hanyalah menutup agar ia tidak diingat kembali.

Harapannya dengan “memaafkan” masa lalu dengan setulus hati kita, kita bisa “menerima” segala kondisi tersebut. Tidak lagi mengungkit-ungkit, dan apabila disentil, tidak ada emosi yang menyertainya

b. Berjalan di jalanNya adalah dimana kita memahami maksud Allah menciptakan diri kita, menjalankan peran kita di muka bumi ini sesuai dengan kehendakNya.

Contoh :
Ketika saya memahami peran hidup saya adalah di ranah pendidikan keluarga dan komunitas, maka segala godaan peran lain tidak akan pernah saya ambil, misal di dunia politik, birokrasi dan lain-lain. Meskipun sangat menarik.

Selama ini saya rasakan dunia pendidikan keluarga dan komunitas tidak pernah membuat saya “lelah” meski urusannya tidak selalu mudah.

Dan rejeki ternyata selalu mengikuti kemanapun kita menjalankan peran tersebut dengan sungguh-sungguh.

7. Ibu Septi yang baik,

Ketika saya masih single, Ibu saya selalu berulang-ulang berpesan, wanita harus bisa mencari nafkah sendiri dan mandiri, jangan pernah bergantung kepada suami. Masalah Anak dan Rumah Tangga bisa mencari pembantu, dari kecil sampai mau menikah saya tidak pernah menyentuh pekerjaan rumah maupun dapur. Sehingga mind set mulai terbentuk dan mengarah kepada calon pasangan yang harusnya bisa melengkapi kekurangan diri dalam mencari Rezeki.
Alhamdulillah , Allah menemukan saya dengan pasangan hidup yang memang benar-benar melengkapi saya, dan sangat ideal ketika belum punya anak.

Challenge pun mulai muncul ketika punya anak, pasangan hidup saya tidak bisa melengkapi untuk kebutuhan yang berkaitan dengan anak dan Rumah Tangga. Sedangkan peran saya saya sangat dibutuhkan dalam kegiatan usaha kami, karena kelebihan saya adalah kekurangan suami. Seringkali kami mencoba me-non aktifkan saya dengan hire karyawaan dan hasilnya selalu tidak bagus.
Akhirnya saya aktif kembali dengan konsekuensi, kehidupan seperti roller coaster, semua berkejaran.

Butuh saran dan masukan Bu, di satu sisi saya selalu merasa bersalah karena tidak bisa sepenuh hati menunaikan kewajiban saya sebagai seorang wanita yang bertanggung jawab pada RT dan anak, 1 sisi saya juga bertanggung jawab terhadap amanah pekerjaan, dimana saya pikir ini jihad saya untuk keluarga dan membantu orang tua saya dan saya sangat bersyukur untuk hal ini.

Jawab :

Bunda, saya dulu juga mendapatkan pesan yang sama ketika masih gadis.

Ibu saya single parent sejak saya usia 8 tahun.

Sehingga ibu selalu berpesan “Harus jadi perempuan mandiri, berpenghasilan, tidak bergantung pada suami”

Mindset terbangun, tetapi di satu sisi saya selalu terngiang-ngiang masa kecil saya, sedih banget ketika pulang sekolah, ingin banget curhat dengan ibu, tapi harus nunggu malam, karena ibu baru pulang kerja dan kuliah malam hari.

Akhirnya hal itulah yang memicu saya bahwa saya harus mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak-anak saya.

Maka sebisa mungkin sebelum anak-anak memasuki usia 12 tahun. Ajaklah selalu bersama ibu atau ayahnya. Libatkan mereka, sehingga kebutuhan kasih sayang terhadap kehadiran diri kita terpenuhi.

Apalagi kalau kita buka usaha sendiri, pasti kita bisa mengaturnya.

Kalau harus bekerja dengan orang lain, maka didiklah asisten rumah tangga yang bisa mendampingi anak dengan baik, dengan segala konsekuensi yang akan bunda terima.

8. Wayan – Bekasi.
Assalamualaikum.
Maaf pertanyaan yang sama, bagaimana cara kita memahami kehendak Nya?

** Bagaimana berdamai dengan masa lalu dengan baik? Ada beberapa cara mendidik orang tua saya yang kadang masih membekas sampai sekarang. Saya sudah berusaha berdamai. Dan saya berusaha memahami bahwa bukan maksud orang tua untuk menyakiti hati saya waktu itu. Tapi jika suasana hati saya sedang tidak enak, kemarahan dan kejengkelan masa lalu masih terbawa. Saya takut, cara itu terbawa ketika saya mendidik anak..

Jawab :

Mbak Wayan pertanyaan pertama sudah saya jawab ya di atas.

Pertanyaan kedua, datanglah ke orangtua anda apabila masih ada, peluk beliau berdua, sebagai visualisasi bahwa kita benar-benar sudah menerima segala kondisi masa lalu.

Seringlah berbuat baik untuk mereka, untuk mengganti rasa sakit/dendam masa lalu yang pernah ada.

Kemudian hindari masa-masa dimana kita dalam posisi marah yang memuncak ke anak.

Karena kalau kita belum selesai dengan masa lalu, dalam kondisi tertekan, pasti kita akan melakukan perbuatan yang pernah dilakukan orangtua kita ke kita jaman kecil dulu, meskipun diri kita sendiri sangat tidak menyukainya.

Maka ujilah, kalau dalam kondisi tertekan kita bisa mengendalikan diri kita, insya Allah masa lalu sudah bisa kita terima dengan baik.

9. Assalammu’alaikum, Bu Septi.
Saya memiliki kenangan masa kecil yang kurang membahagiakan dengan ibu. Kami 2 bersaudara. Saya dan adik laki-laki dengan jarak usia sekitar 6 tahun. Ibu memperlakukan kami dengan berbeda. Dan saya berada di perlakuan yang tidak saya harapkan. 2-3 tahun belakangan, saya sudah mulai memaafkan & menganggapnya sebagai ketidak tahuan beliau, bukan karena sengaja. Saya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan itu kepada anak-anak kami.
Namun, mengapa ketika saya berkaca ada beberapa sifat ibu yang tidak saya suka, ada pada diri saya..? Baik secara sadar atau tidak. Kadang sifat itu muncul. Apakah ini berarti saya belum ‘memaafkan’ beliau? Apa yang harus saya lakukan bu?
Mohon sarannya. Terima kasih.

Jawab :

Wa’alaykumsalam,
apabila dalam keseharian mendidik anak masih muncul sifat/sikap ibu yang dulu tidak kita sukai muncul, berarti kita memang belum selesai dengan masa lalu kita.

Banyaklah bersedekah untuk ibu mbak, dan sering-seringlah mendoakan beliau,

Terima kondisi masa lalu mbak, kemudian maafkan ibu dan perbanyak perbuatan baik untuk beliau.

10. Putri – Malang
Assalamualaikum.
Bu Septi,
Pernikahan saya memasuki tahun ke 4, dari beberapa informasi yang saya dapat tahun ke 3-5 pernikahan masuk dalam babak yang penuh ujian. Bagaimana kiat menjaga komunikasi agar tetap efektif dan produktif dengan pasangan dan tidak menjadikan anak sebagai korban?

Jika keluarga sudah memiliki bisi dan.misi, bagaimana agar tetap dalam koridor yang sudah kami gambarkan? Mengingat tantangan semakin besar dan khawatir idealisme kami luntur. Terimakasih banyak Bu.

Jawab :

Mbak putri yang baik, wa’alaykumsalam wr.wb.
Masing -masing keluarga punya masa badai, maka perlu diamati periodiknya apakah 3 tahun-an, 5 tahun -an atau 7 tahun-an, masing-masing beda.

Kalau sudah kita pahami akan datangnya masa badai, maka kita perlu bersiap-siap.

Amati lagi siapa yg sedang diuji, misal suami yang tahun ini selalu uring-uringan tanpa suatu kejelasan, maka kita yang sadar harus bisa menjadi penyejuk hari, bukan justru menjadi bahan bakarnya.

Perbanyak ngobrol bersama agar FoR ( Frame of Reference) dan FoE (Frame of Experience) kita dan suami sama.

11. Shofi – Bandung
Sblm menikah, saya merasa tidak ada luka yang begitu serius di hati saya. Saya rasa bisa memaafkan smua kekhilafan orgtua saya. Tapi setelah menikah dan punya anak, saya merasa ada yang belum selesai pada masa lalu saya. Serngkali saya melakukan sesuatu yang saya tidak sukai dari Ibu saya, terhadap anak saya.

Contohnya: saya tidak suka dibilang jangan lelet/ lamban oleh ibu saya dulu. Terkadang scara tidak sadar saya suka mengungkapkan hal yang sma pada anak saya. Padahal saya tahu, anak saya tidak akan suka diburu-buru. Seperti saya tidak suka diburu-buru oleh ibu saya dulu.

Bagaimana caranya agar saya bisa sepenuhnya “sembuh” dari “luka” itu Bu?
Terima kasih.

Jawab :

Teh Shofi, pertanyaan teteh hampir sama dengan pertanyaan di atas ya..

12. Heny – Bekasi
Bu Septi yang baik, dalam materi yang ibu sampaikan ada pernyataan “Orang yang belum selesai dengan masa lalu nya, akan menyisakan banyak luka ketika mendidik anak nya kelak.
Yang ingin saya tanyakn, jika kita memang memiliki unfinished bisnis, dan sudah terlanjur dipilih dan diberi kepercayaan oleh sang Maha pemberi amanah, apa yang sebaik nya dilakukan? Harus kah kita menemui ahli untuk membantu kita lepas dari masa lalu?
Hatur nuhun pisan ibu Septi 😊😊

Jawab :

Yang bisa menyelesaikan masa lalu kita hanyalah diri kita dan Allah. Maka saran saya jangan pernah curhat sama manusia, curhatlah dengan Allah, karena DIA-lah yang paling paham dengan diri kita.

13. Artik – IIP Bekasi
Bagaimana cara untuk mengetahui & menggali potensi unik diri kita?
Terimakasih

Jawab :

Mbak Atik, untuk menemukan potensi unik kita, silakan amati aktivitas apa saja yang membuat kita Enjoy, Easy dan Excellent
Maka silakan di list kemudian uritkan prioritasnya.

14. Wiwik W – IIP Bandung
Setiap kita sebagian besar mungkin pernah mengalami trauma akibat pengasuhan orangtua. Bagaimana cara ibu untuk menyembuhkan trauma tersebut agar tidak diulangi ke anak?

Tugas orangtua adalah menjaga fitrah anak. Bagaimana jika fitrah si orangtua sendiri yang rusak, apakah bisa diperbaiki, bagamana caranya?

Jawab :

Teh Wik, hanya dengan menerima kondisi dan memaafkan orangtua kita, trauma itu akan hilang

Kembalikan fitrah kita sebagai orangtua, maka fitrah anak akan terjaga insya Allah.

15. Vaya – Bandung
Assalamualaikum wr wb
Bu Septi ….

1. Bagaimana cara membantu pasangan agar lebih mudah mengungkapkan harapan atau perasaan dalam bentuk verbal? Biasanya sering mewakilkan/ mengambilnya dari link-link tulisan seseorang.
2. Karena kurang terbiasa diskusi, mengungkapkan pendapat dan dialog diantara anggota keluarga, apa saja yang bisa kita usahakan untuk mencairkannya?

Terimakasih

Jawab :

Mbak Vaya, carilah suasana seperti apa yng semua anggora keluarga kita merasa enjoy, maka ciptakan family forum dengan cara yang disukai seluruh anggota keluarga.

Insya Allah suami-pun makin terbuka cara mengalurkan rasanya.

16. Nurul – IIP Bandung
Ibu Septi sholehah..
Jika pemahaman istri dan suami dalam hal mendidik anak belum sejalan, bagaimana menyamakan pemahamannya? Ada di tahapan mana penyamaan faham tersebut [Bunda sayang, dan seterusnya] dan bagaimana aplikasinya?

Jazaakillaah..

Jawab :

Teh Nurul, kita dan suami dibesarkan dengan orangtua yang berbeda dan cara yang berbeda. Sehingga perbedaan cara pandang dalam mendidik anak itu pasti adanya dan itu NORMAL

Setiap anggota keluarga itu memiliki karakter ada

PERFORMANCE CHARACTER dan MORAL CHARACTER

Maka yang perlu kita samakan pertama kali adalah di moral karakternya terlebih dahulu. Untuk performance character bisa berbeda saling bersinergi.

Samakan dulu value-value keluarga yg akan diperjuangakan antara kita dan suami.

Setelah itu harus memperbanyak “Family Forum” sarana kita untuk ngobrol bareng, berinteraksi satu sama lain, agar makin sepaham.

Materi ini nanti ada di kelas Bunda Sayang.

17. Maya – IIP Malang
Assalamualaikum Bu Septi, mulai usia berapakah anak-anak mulai bisa ditinggal untuk menapaki tangga bunda produktif atau bunda shaliha?
Dan apakah idealnya memang harus tuntas dulu bunda sayang dan bunda cekatan sebelum kita menapaki tangga selanjutnya?

Jawab :

Mbak Maya, Wa’alaykumsalam wr.wb .
Sebenarnya tidak ada istilah anak akan ditinggal ketika kita memasuki ranah produktif. Mereka tetap dilibatkan dengan cara yang akan mereka pilih sendiri.

Berdasarkan pengalaman saya, saya full menemani anak-anak dari mereka lahir – usia 8 tahun (anak pertama), kemudian mengajak mereka bertiga terlibat di aktivitas produktif kami.

Prinsip saya dan Pak Dodik saat itu, tidak akan pernah meninggalkan anak-anak tanpa kehadiran salah satu diantara kami sampai usia mereka 12 tahun. Kemana pun kami pergi untuk urusan produktif, maka anak-anak selalu ada disamping kami. Andaikata saya dan Pak Dodik berpisah kota, maka kami tawarkan ke anak-anak, ikut ibu atau ikut bapak.

Setelah anak-anak memasuki usia 12 tahun, selalu kami berikan pilihan. Mau ikut ibu belajar bla..bla…, atau ikut bapak belajar bla…bla.., atau mau menentukan lokasi belajar sendiri?

Dan ternyata 12 tahun ke atas mereka sudah memiliki dunia sendiri. Sekarang kami tinggal berdua menapaki tangga-tangga produktivitas.

18. Aris – IIP Bekasi
Karena satu dan yang lain hal saya sekarang harus tinggal bersama orang tua maka dari itu kadang pola pengasuhan anak  disetir/ada campurtangan orangtua karna merasa lebih berpengalaman dan lebih tau.
Bagaimana cara kita menegaskan dan memberitahu ke orangtua bahwa kita punya pola pengasuhan sendiri untuk anak kita.
Dengan tanpa mengurangi rasa hormat kita terhadap orangtua, kadang sebelum dikasih tau dan diarahkan orangtua sudah marah lebih dulu..
Terima kasih.

Jawab :

Mbak Aris,
yang sabar ya mbak. Kita perlu memahami bahwa orangtua kita melakukan hal tersebut atas dasar kasih sayang. Maka kita terima rasa itu terlebih dahulu.

Selanjutnya lakukan komunikasi dengan orangtua, sampaikan rencana pola pendidikan mbak dan suami ke orangtua. Kemudian berbagilah peran. Jadikan orangtua kita salah satu fasilitator bagi pendidikan anak-anak kita. Berikan satu jurusan khusus yang orangtua kita punya pengalaman di bidang tersebut.

Insya Allah dengan cara ini orangtua kita masih merasa diperlukan keberadaannya.

19.  Farida Ariyani – IIP Depok
Assalamu’alaykum Bu Septi, saya ingin bertanya apakah yang hal utama yang harus diperhatikan dalam mendidik anak usia remaja terutama jika dalam fase sebelumnya kita belum meletakkan pondasi yang benar? Masih bisakah dilakukan perbaikan dalam mendidik? Dan benarkah pendapat cara menyikapi anak remaja adalah dengan menjadikan mereka seperti teman?

Jawab :

Mbak Farida, wa’alaykumsalam wr.wb.
Tidak ada kata terlambat mbak. Karena mendidik anak itu bukan “sprint” (lari jarak pendek) melainkan “marathon” (lari jarak jauh). Jadi bukan cepat-cepatan sampai garis finish, melainkan ketahanan kita untuk selalu berproses menuju garis finish.

Kalau saya tidak pernah memasukkan anak-anak ke fase remaja. Fase mereka hanya ada dua. Pre aqil baligh dan aqil baligh.

Ketika memasuki aqil baligh, saatnya anak-anak menjadi partner hidup kita. Sudah tidak lagi di wejangi, di atur dan lain-lain. Mereka harus diberi kebebasan unt menjadi decision maker untuk hidupnya.

Apabila pra syarat kemampuan ini belum terpenuhi, berikan peran sebanyak-banyaknya. Dari hal-hal kecil.

Misal:
Kak, ayo kita makan diluar, kakak yang menentukan ya kita makan dimana dan lain-lain

Jadilah sahabat mereka yang baik.

18. Lida – Bandung
1. Apakah tahapan-tahapan untuk menjadi ibu profesional itu harus baku seperti itu? Bagaimana jika saat ini kita sedang menjalankan passion kita yang berarti sedang ada pada tahap bunda produktif sedangkan masih banyak yang harus diperbaiki pada tahap bunda sayang dan bunda cekatan, apa yang sebaiknya dilakukan? Apakah kembali dulu dari awal dan meninggalkan produktivitas kita?

Jawab :

Teh Lida, tidak harus ditinggalkan, tapi dilengkapi. Maka berikan waktu lebih unt uk bersungguh-sungguh mengejar ilmu kita yang masih kurang di ranah bunda sayang dan bunda cekatan.

2. Bagaimana jika minat kita dalam produktivitas mengharuskan kita lebih banyak keluar rumah misal menjadi pembicara dan berdakwah, apa yang sebaiknya dilakukan dengan kondisi anak yang masih berusia balita?

Jawab :

Kalau saya dalam posisi teh Lida, maka selama anak balita, saya akan ambil prioritas seminar/event yang mengijinkan saya bawa anak/atau ada kids cornernya.

Setelah itu membawa asisten dari rumah yang khusus menemani anak-anak kita.

19. Yani – IIP Yogya
Bu Septi untuk menapaki jalan ikhtiar menjadi ibu profesional ada 4 tahapan tersebut.
Seorang ibu baru belajar bunSay dan BunCek itupun baru tahap belajar ketika akan mengaplikasikan, Allah beri cobaan suami sakit berat dan harus mendampingi keluar masuk RS, merawat dan lain-lain, sementara 2 balita belum mendapat aplikasi secara utuh dari materi bunsay tersebut.
Disisi lain ibu ini juga dituntut untuk mengambil alih peran mencari nafkah.
apa yang harus dilakukan sementara ibu ini ingin bertanggung jawab sepenuhnya pada pendidikan kedua balitanya?

Jawab :

Mbak Yani, yakinlah bahwa sejatinya antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak itu adalah tiga hal yang saling berkaitan dan sejalan. Tidak ada yang harus dikorbankan.

Maka sebaiknya ambil yang utama kemudian breakdownkan

Mendidik anak –> karya-karya apa saja yang bisa kita hadirkan —> mandiri finansial tanpa harus meninggalkan anak.

20. Sevira – Tangerang
1. Bu Septi, bagaimana jika misalnya seorang ibu dengan anak usia 0-3 tahun yang seharusnya masih tahap bunda sayang, full perhatian ke anak, tapi ternyata bisa mendapatkan pekerjaan sesuai passion sehingga mampu mandiri secara finansial? Bisakah kedua pilar tersebut berjalan bersama? Dengan catatan pekerjaan tersebut tidak menyita banyak waktu dan kalaupun harus keluar rumah hanya seminggu sekali.

Jawab :

Selama tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya ada di tangan kita. Dan selama menjalankan aktivitas produktivitas ada proses pendelegasian yang jelas. Tidak asal pasrah.

Berproseslah terus sampai menemukan formula yang paling tepat.

Rejeki itu pasti, kemuliaanlah yang harus dicari. Kemuliaan ibu ada pada anak dan keluarganya.

2. Bagaimana dengan ibu bekerja di luar yang mempunyai anak usia 0-12 tahun karena tuntutan kondisi ekonomi keluarga? Dimana pekerjaannya menyita waktu dari pagi sampai petang dan sang anak diasuh oleh pembantu? Apakah ibu tersebut masih bisa dikatakan  memberikan perhatian penuh kepada anak dengan tetap ASI dan tetap sayang sekali kepada anaknya?

Jawab :

Mbak Savira, membiarkan anak diasuh oleh pembantu tanpa pendidikan intensif kita ke pembantu, ini namanya pembiaran.

Maka luangkan waktu mbak untuk melatih orang dewasa di sekitar anak-anak, kalau terpaksa memang harus meninggalkan mereka dari pagi-petang.

21. Ratna – IIP Jogja
Assalamualaikum Bu Septi.. Semoga ibu selalu diberikan kesehatan, membimbing kami di kelas matrikulasi.
Yang ingin saya tanyakan, apakah indikator jika kita boleh berlajut ke pilar ilmu selanjutnya? (misal : dari bunsay ke buncel, dan seterusnya)
Bagaimana efeknya jika satu pilar ilmu belum sepenuhnya ‘lulus’ tapi beralih ke tahapan pilar ilmu selanjutnya?
Terimakasih bu Septi.

Jawab :

Mbak Ratna, di IIP ini indikatornya adalah PEDE. Kita punya keyakinan dalam mendidik anak-anak, mengelola rumah tangga dengan menerapkan ilmu-ilmu yang ada di bunsay dan buncek.

Karena ini pijakan, maka idealnya memang setiap tahap harus kuat pijakannya, karena tangga berikutnya masih tinggi.

Kalau belum kuat di pijakan awal sudah pindah ke pijakan berikutnya, biasanya terjadi ketidakseimbangan. Minimal dengan masuk di Ibu Profesional kita akan makin paham road map kita. Sehingga bisa mengatakan ON TRACK atau OFF TRACK.

22. Rini – Karawang
Bu septi selama ini saya merasa sudah produktif dengan passion saya yaitu berdagang, tapi kenapa yaa setelah tipe kepribadian saya muncul dan tersalurkan, jadi tidak produktif?
Misal : passion kita berdagang dan kita sudah merasa enjoy, easy, excelent, tapi suatu waktu kita diberi kepercayaan untuk bergabung di kegiatan sosial sebagai koordinator dan kita popular☺, dan ternyata sangat menyita waktu & pikiran sehingga membuat kita tidak produktif lagi😔 (gak sempat promosi produk 😀), jadi saya malah ngejar target dari kegiatan sosial tersebut dan meninggalkan passion saya. Bagaimana biar keduanya bisa bersinergi?

Jawab :

Kuncinya adalah cari aktivitas sosial yang menambah jam terbang ranah passion kita.

👉indikatornya apa ya bu anak senang dan bangga di didik sama ibunya?

Jawab :

Indikatornya anak akan mencontoh banyak perilaku baik dari kita

Karena anak-anak mungkin bisa salah memahami perkataan kita, tapi mereka tidak pernah salah mencopy.

👉management pengelolaan rumah tangga, point-point nya apa saja bu?
Terima Kasih

Jawab :

Manajemen waktu, manajemen menu, manajemen keuangan, manajemen pendidikan, manajemen resiko, manajemen mengelola rutinitas, manajemen menata rumah dan lain-lain.

23. Hani Rosfandhila – Cirebon
1. Sejak usia berapakah anak mulai diajarkan untuk masuk sekolah entah itu PAUD/TK/Sekolah agama (TPA) baik itu supaya anak bisa belajar bersosialisasi atau mendapatkan pelajaran lain dikarenakan keterbatasan ilmu atau fasilitas atau media pembelajaran di rumahnya?

Jawab :

Lihat kesiapan anak, kalau mereka sudah minta segera kenalkan, maka saran saya perkuat ilmu kita agar “home based education” (pendidikan berbasis keluarga) bisa mewarnai kehidupan anak-anak, sehingga masuk sekolah itu hanya pelengkap pendidikan kita di rumah, bukan yang utama.

2. Adakah tips mengenai pembagian waktu antara untuk mengasuh anak dan mengerjakan pekerjaan lainnya supaya tidak keteteran jika tidak ada ART di rumah?

Jawab :

Kalau saya dari subuh-jam 07.00 (mengerjakan pekerjaan rumah tangga) –
jam 7-14 full bersama anak –
jam 14-17 menyelesaikan aktivitas sosial masyarakat dan komunitas –
jam 17-20 bersama anak-anak,
20 ke atas menyelesaikan pekerjaan rumah yang belum selesai-istirahat.

24. Dwi Indah – Bandung
Pengertian anak menurut undang-undang sebagai berikut:
1. Menurut UU No.25 tahun 1997 tentang ketenaga kerjaan
Pasal 1 angka 20
“Anak adalah orang laki-laki atau wanita yang berumur kurang dari 15 tahun”
2. Menurut UU RI No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
Pasal 1 angka 1
“Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.”

Berdasarkan sifat fitrah anak yang dipaparkan Ibu Septi, bahwasannya anak mempunyai sifat dasar yang senang belajar dan juga mempunyai sifat dasar yang senang  bermain serta permainan. Dari dua hal tersebut, saya melihat bahwasannya belajar dan bemain bisa berjalan beriringan tanpa harus bertentangan. namun.kenyataannya tidak jarang saya menemui bahwa anak menganggap kegiatan belajar sebagai beban, biasanya terjadi pada anak usia diatas 13 tahun.

Pertanyaan saya, adakah tips/saran ataupun cara yang efektif sehingga anak pada usia diatas 13 tahun menganggap belajar bukan sebagai beban?
mengingat pada usia tersebut pendampingan orang tua terhadap anak bekaitan dengan belajar tidak seintensif pada anak usia dibawah 12 tahun.

Jawab :

Teh Dwi indah,
manusia itu sebenarnya homoludens, makhluk yang senang bermain. Maka yang paling tepat adalah kita belajar melalui bermain, bukan dengan bermain.

Anak-anak berapapun usianya, selama belajar sesuatu yang dipaksakan atau yang bukan kebutuhan mereka pasti akan malas, karena sistem limbik di otaknya menolak hal tersebut.

Maka masuklah lewat materi-materi yang memang diperlukan anak. Sehingga antara belajar dan bermain ini satu paket, demikian juga antara bekerja dan refreshing

Dalam dunia kerja ada istilah gamification, silakan dipelajari lebih lanjut semoga membantu

25. Wiwik – Bandung
Ibu, saya ingat ibu pernah berkata, sebelum mendidik anak, kita selesaikan urusan dengan diri sendiri dulu, ini maksudnya bagaimana bu, bagaimana jika kita melewati step ini?

Jawab :

Teh Wik, hanya orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri yang bisa melakukan sesuatu untuk orang lain.

Berdamai dengan masa lalu kita, menerima kondisi yang ada saat ini dengan sepenuh hati, dan bersihkan jiwa dari segala ambisi keduniawian.

Kalau kita melewati step ini biasanya ada yang jadi korban dan ada yang luka, bisa jadi anak kita. Bisa jadi pernikahan kita.

26. Vaya – Bandung
Assalamualaikum wr wb.
Saya menyadari bahwa beberapa poin tahapan awal menjadi ibu profesional, telah terlewat sedang anak sudah beranjak besar.
Langkah/strategi apa yang harus kami tempuh untuk mengejar ketinggalan tersebut? Misal : membangun ikatan yang kuat dalam keluarga belum menemukan solusinya, sekalipun telah banyak upaya dilakukan….
Terimakasih bu Septi.

Jawab :

Mbak Vaya, perbanyak family forum ya mbak. Sesering mungkin beraktivitas bersama. Belajar mendengarkan suara anak.

27. Minhatul Maula – Jakarta
“Terkait dengan ‘anak adalah mahluk pembelajar’, bagaimana kalau ada kasus, anak2-anak kita sudah terlanjur tidak hobi belajar, lebih memilih bermain daripada belajar. (misalnya saja belajar rutin untuk pelajaran sekolahnya). Bagaimana kita mengubah kebiasaan tersebut ya bu? Dan bagaimana menciptakan suasana belajar yang menyenangkan?

Jawab :

Mbak Minhatul maula,
mulailah dari bidang yang disukai anak, bukan dari kewajiban-kewajiban pelajaran yang harus diselesaikan.

28. Sukma – Pekanbaru
Bagaimana menjadi Ibu Produktif di saat kita memiliki balita? Saat ini saya memiliki anak kembar usia 3 tahun. Rasanya kalau sedang mengerjakan pekerjaan rumah tangga saja terkadang saya merasa kurang fokus karena anak-anak yang masih belum bisa mandiri. Ditambah lagi kalau saya ingin membuka bisnis di luar. Mohon masukannya Bu Septi. Terima kasih😊

Jawab :

Mbak Sukma, fokus satu-satu. Pakai manajemen waktu yang baik. Latih deep habit, dan ubah shallow works menjadi deep works.

Produktif itu tidak selalu diukur dengan uang.

29. Iis Rahmawati – Bandung
Mau tanya bu, bagaimana dengan kurikulum Bunda sayang yang harus saya jalankan sedangkan saya belum mempunyai anak, jadi dari mana saya harus mulai?

Jawab :

Teh Iis,
anak itu ada dua, anak biologis dan anak ideologis.
Anak biologis adalah anak yang lahir dari rahim kita, sedangkan anak ideologis adalah anak-anak yang hadir karena kesamaan values dan chemistry yang kita miliki.  Bisa murid kita, anak-anak yang berada dibawah pengasuhan kita dan lain-lain. Setelah dapat ilmu bunda sayang, segeralah mencari anak-anak ideologis sebanyak-banyaknya.

Materi Tambahan

Untuk para bunda yang beragama Islam, ada panduan di Alqur’an sebenarnya untuk “berdamai dengan masa lalu” yang disebut tazkiyatunnafs sebagai berikut:

Tazkiyatunnafs adalah bahasa al-Quran untuk mentherapy secara alamiah dan fitriyah apa apa yang menyebabkan kita berperilaku buruk. Tiada cara yang baik dan mengakar kecuali memperbaiki jiwa sebelum memperbaiki fikiran dan amal.
Belum pernah ada surat di dalam al-Quran dimana Allah bersumpah begitu banyak, sampai 11 kali, kecuali untuk pensucian jiwa “sungguh beruntung mereka yang mensucikan jiwanya” (surat asSyams).

Warisan pengasuhan masa lalu dalam dunia psikolog sering disebut Inner Child, kadang sehebat apapun ilmu parenting atau psikologi yang kita pahami, tetap saja di tataran praktis yang kita pakai adalah apa yang pernah kita alami ketika kecil. Misalnya, kita tahu membentak dan menjewer itu buruk, namun ketika kekesalan memuncak maka hilang semua pemahaman, yang ada lagi lagi membentak dan menjewer.

Ada terapinya untuk ini, namun sebaiknya kita menggunakan jalur alamiah dan syar’i yaitu Tazkiyatunnafs, atau pensucian jiwa. Ini perlu waktu, perlu momen, perlu keberanian utk keluar dari zona nyaman dan instan.

Al-Quran juga mengingatkan bahwa sebelum ta’lim maka penting untuk tazkiyah lebih dulu. Dalam prakteknya paralel saja, karena begitu kita berniat sungguh-sungguh mendidik anak sesuai fitrahnya maka sesungguhnya kita sedang tanpa sadar mengembalikan fitrah kita atau sedang tazkiyatunnafs

Dalam buku tarbiyah Ruhiyah, pensucian jiwa itu bisa dilakukan dengan 5 M :
1. Mu’ahadah – mengingat ingat kembali perjanjian kita kepada Allah. Baik syahadah, maksud penciptaan, misi pernikahan, doa doa ketika ingin dikaruniai anak, menyadari potensi-potensi fitrah dan seterusnya

2. Muroqobah – mendekat kepada Allah agar diberikan qoulan sadida, yaitu ucapan dan tutur yang indah berkesan mendalam, ide dan gagasan yang bernas dalam mendidik, sikap dan tindakan yang pantas diteladani. Allahlah pada hakekatnya Murobby anak anak kita, karena Allahlah yang memahami fitrah anak anak kita. Maka kedekatan dengan Allah adalah agar hikmah hikmah mendidik langsung diberikan Allah untuk anak anak kita melalui diri kita.

3. Muhasabah – mengevaluasi terus menerus agar semakin sempurna dan sejalan dengan fitrah dan kitabullah, bukan obsesi nafsu dan orientasi materialisme.

4. Mu’aqobah – menghukum diri jika tidak konsisten dengan hukuman yang membuat semakin bersemangat dan semakin konsisten untuk tidak melalaikan amanah.

5. Mujahadah – sungguh sungguh menempuh jalan sukses (fitrah) dengan konsisten, membuat perencanaan dan ukuran-ukuran nya

(Hasil Diskusi dengan Ustadz Harry Santosa dan Ustdz Aad seputar “tazkiyatunnafs”)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s