Rumah Belajar IIP Bandung

Sharing Teh Ai Tentang Home Education For Facilitator

Sejatinya anak-anak adalah pembelajar sejati.

Kata-kata itu yang terus terngiang-ngiang dalam benak saya ketika berniat menghadiri acara sharing ini. Berbekal nekat, ehh…engga doonk…sebelumnya saya sudah membaca resume yang dibuat teh Ai Santiani di blognya yang terbagi menjadi 2 tulisan :

Banyak hal yang (sudah) saya lakukan dalam pengasuhan, karena selama ini saya masih berfokus pada sikap saya sendiri dulu terhadap anak-anak, hingga lupa bahwa saya membesarkan anak-anak tidak hanya memberi makan dan pakaian yang layak, tapi saya juga mesti menumbuhkan bakat, minat, dan kekuatan mereka.

Dalam buku Ust. Harry juga sudah dijelaskan bahwa anak tumbuh sesuai fitrahnya. Tugas kita sebagai orangtuanya hanyalah menumbuhkan fitrah tersebut, bukan mematikan. Jadi orangtua perlu membuat peta untuk mengetahui apakah sistem yang kita buat sudah on track atau off track.

Teh Ai menekankan bahwa yang terpenting dalam proses awal ini adalah komunikasi dengan pasangan. Mau dibawa kemana keluarga ini dan buat tema. Tema ini bertujuan agar kita tahu Ingin Jadi Apa Anak Kita Nanti.

Misalnya dalam keluarga ingin bertemakan “Keluarga Arief Lendy AiHana Cerdas dan Berakhlak Mulia“.

Maka mulailah menyusun kurikulum yang berhubungan dengan tema tersebut.

Tanamkan basic pembelajarannya adalah Iman dan Takwa. Dengan mengajarkan anak untuk sholat tepat waktu, kalau bisa ditambah amalan lain, seperti sholatnya dilakukan di masjid bersama-sama sekeluarga. Dengan memberi teladan yang baik sebenarnya kita telah mendidik diri sekaligus generasi yang baik pula.

Kemudian untuk proses yang sudah kita lakukan, kita bikin list untuk hasil yang kita harapkan. Sebagai orangtua, kita boleh (banget) kok…berharap anak kita menjadi sholeha, mandiri, kreatif, dan in syaa allah bermanfaat untuk banyak orang.

Jadi, kriteria seperti apa yang anda harapkan dari anak-anak anda?

Untuk mencapai apa yang kita harapan dari anak-anak kita, tentulah kita sebagai fasilitator perlu membekali diri terlebih dahulu.

“Karena mendidik anak bagaikan mendidik diri sendiri”
-Bu Septi Peni Wulandani-

Jadi POINT yang perlu ditetapkan keluarga adalah

  • Input (titik awal)
    Faktor yang menentukan adalah lingkungan (bisa dari Ibu, Ayah bahkan helper yang bisa diajak bekerja sama dalam menciptakan lingkungan belajar untuk anak) dan dari komunitas yang memang fokus dengan Home Education dan Home Schooling.
  • Menjalani proses belajar anak
  • Tetapkan output (titik akhir)
    “Mau jadi apa anak saya?”
    “Keluarga saya?”, dll
  • Setelah menjalani proses dan melihat output, lakukan feedback (evaluasi)
    Anak-anak masi on-track atau sudah off-track.

Belajarlah tanpa mengenal ruang dan waktu.

give

 

 

Fasilitator yang senantiasa belajar akan berfilosofi GIVE and GIVEN.
Yang berarti memberi dan memberi lebih banyak.

 

 

Dijelaskan juga oleh teh Ai beberapa gaya pembelajaran yang selama ini sudah dilakukan :

  • Pedagogi
    Yakni pendidikan untuk anak dengan metode yang jaman kita dulu.duduk di dalam kelas, sibuk mencatat dari papan tulis dan mengerjakan soal setelahnya.
  • Androgogi
    Adalah pendidikan untuk orang dewasa.
  • Heutagogi
    Naah….yang terakhir ini, teh Ai sendiri mengaku baru mendengar istilah pembelajaran dengan sistem ini. Apa itu Heutagogi?
    Heutagogi adalah sistem pembelajaran yang menyerahkan pada anak. Mau belajar apa dan mencari sendiri sebanyak-banyaknya mengenai apa yang ingin dipelajarinya tersebut.Setelah si anak tahu, maka akan dipresentasikan dan pengajar hanya bertugas memfasilitasi dan berdiskusi saat anak telah selesai dengan project dan presentasinya tersebut.Jadi istilahnya I Know, You Know Better. Let’s Hear….

“Didiklah anak-anakmu sesuai dengan zamannya”

Jadi untuk mengarahkan anak baiknya mengikuti jenis pembelajaran yang seperti apa dan bagaimana, itu kembali lagi ke pola yang digambar dalam keluarga tersebut. Maka sekali lagi, teh Ai menekankan bahwa pentingnya KOMUNIKASI dengan PASANGAN terkait masalah pendidikan anak ini.

Karena temanya membuat peta untuk yang berniat menjalankan HE ataupun HS, maka diperlukan petunjuk (arah) untuk menuntun membuta peta yang baik dan benar. Ini beberapa point yang disampaikan teh Ai :

  1. Core Value
    Apa yang ingin menjadi pondasi dalam pendidikan keluarga?
    Mencontoh keluarga Pak Dodik yang mengusung tema Iman dan Kehormatan.Yang dajarkan pada anak hal-hal yang berkaitan dengan Iman :
    * Sholat tepat waktu
    * Menutup aurat, dan lain-lainPerihal Kehormatan :
    * Menjaga kejujuran
    * Berbagi ilmu, dan lain-lain

    Diskusikan dengan pasangan apabila anak belum mampu diajak berdiskusi karena usinya masih terlalu kecil. Namun bila usia nya sudah dapat diajak berdiskusi (biasanya usia 7 tahun ke atas), maka bisa melibatkan anak untuk mengambil keputusan.

  2. Learning Model
    Apa yang menjadi dasar pembelajaran untuk anak? Bisa menggunakan :Intelectual Coriousity.
    Karena anak biasanya memiliki rasa penasaran yang tinggi, maka tanamkan 6 W 1 H.
    (pakai gesture, agar anak terbiasa bertanya jika melihat hal baru), misal :
    ♥ Jempol – (HOW)
    ♥ Telunjuk – (WHERE)
    ♥ Jari tengah (ditutup karena dianggap tidak sopan) – (WHAT)
    ♥ Jari manis – (WHEN)
    ♥ Jari kecil – (WHO)
    dan yang terakhir untuk (WHY).Misalnya melihat sepeda.
    Bagaimana sepeda itu dapat berjalan, ada apanya, siapa yang menemukan, kapan dan bagaimana bisa muncul ide membuat kendaraan tersebut?

    Dengan coriousity yang terus diasah, maka akan banyak diskusi yang berjalan sehingga memungkinkan adanya ide-ide baru. Ini adalah tahapan pebelajaran berikutnya, yakni Creative Imaginaton.
    Bagaimana bisa begini…? Kok tidak begitu?
    Kalau misalnya begitu, bisa engga?

    Asah dan perbanyak pertanyaan dan ide.

    Art of Discovery and Invention.
    Dari pertanyaan dan ide yang sudah dibayangkan lalu dikembangkanlah model yang sudah ada sebelumnya menjadi inovasi baru.

    Cerita teh Ai mengenai Elan (bungsu dari keluarga Pak Dodik dan Ibu Septi). Karena penasaran dengan alat toaster (pemanggang roti), maka Elan pun mencoba memanggang roti menggunakan setrika.

    Malalui beberapa kali percobaan, akhirnya Elan berhasil menemukan metode memanggang roti yang nikmat. Yaitu dengan membungkus roti tersebut menggunakan aluminium foil, kemudian menyetrikanya.

    Enak…..

    If you want it….Let’s try at home ^^….

    Nilai terakhir adalah Noble Attitude, yakni kemauan untuk sharing apa yang telah ditemukannya tersebut.

  3. Learning Steps
    Mempelajari fitrah anak sesuai usianya. Tidak menuntut anak untuk bisa lebih cepat. Berikut panduan mengembangkan fitrah anak sesuai usianya :

    framework
    Framework Pengembangan Fitrah Anak Oleh Ust. Harry

     

  4. Learning Method
    Inquiry Based Learning : Memancing dan membiasakan anak untuk terus memunculkan pertanyaan dari apa yang dilihatnya.
    Project Best Learning : Ini unik sekali. Membiasakan anak-anak untuk menyelesaikan hal-hal sederhana di rumah. Agar tidak terlihat bossy kitanya, maka dapat dibuat project.Yang perlu dilakukan hanyalah menunjuk siapa ketua project ini. Lalu beri nama yang menarik.

    Contoh yang diberikan teh Ai adalah Project “Mak-Cling”
    Apa itu? Dari judulnya ternyata itu adalah project anak-anak dalam rangka untuk membersihkan rumah.

    Kaka kebagian jadi ketua project yang berhak menunjuk anggotanya untuk menyapu, membereskan rumah dan mencuci pakaian. Sesuaikan tugas dengan jumlah anggota keluarga di rumah. Menurut Ibu Septi, project seperti ini sangat cocok untuk yang berkeluarga besar. Hiihii…

    Dalam melaksanakan sebuah project, anak akan belajar berbagai hal, seperti :
    ♦ Meningkatkan critical thinking (yang seiring bertambahnya usia akan meningkat pula beban dan tanggung jawabnya)
    ♦ Melatih kerja sama
    ♦ Melatih problem solving

    Membuat portofolio
    Setelah anak melaksanakan project yang telah disepakati, Ibu atau Ayah mendokumentasikan kegiatan tersebut. Agar dapat diamati oleh orangtua, kekuatan dan kelemahan anak dimana.

    Yang terakhir, melakukan Evaluasi dan Penilaian.

  5. Menyusun Kurikulum
    Jika usia anak di bawah 7 tahun, Ibu dan Ayah bisa merancang Lesson Plan.
    Namun apabila Lesson Plan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, jangan terlalu kecewa yaa….karena sejatinya anak akan belajar dengan apa saja yang diinginkan setiap hari.

    Usia ideal menyusun kurikulum adalah saat anak berusia di atas 7 tahun.
    Mereka sudah bisa mengutarakan apa yang disukai dan diminati. Namun tetap ada pelajaran yang wajib untuk dipelajari, yaitu Matematika dan Bahasa.

    Kenapa?
    Ini berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, yang tak lepas dari dasar-dasar berhitung dan berkomunikasi.

 
Catatan Parenting yang HARUS dilakukan orangtua ketika melakukan pendidikan :

Segera apresiasi apa yang telah dilakukan anak dengan memuji kebaikan dan keberhasilannya.

Apabila melakukan kesalahan, hanya perlu diingatkan namun JANGAN pernah mengingatkan apalagi mencatatnya.

Berikan surprise pada anak, jika telah melakukan keberhasilan. 
Tidak harus sesuatu yang besar, namun bagaimana cara orangtua memberikannya.

 

Tambahan berikutnya,
Untuk para orangtua yang ingin mengetahui bakat dan kekuatan dalam diri sendiri sebelum memetakan kekuatan anak, bisa buka di web temubakat. Ada tes sederhana yang bisa diikuti dengan menganalisa apa yang paling disukai dan apa yang paling tidak disukai.

bakat
Ini contoh hasil tes bakat (Strength Typology) saya di web temubakat nya Abah Rama.

 
Alhamdulillah,
Akhir dari acara ini adalah photo-session.

SfHf
Seperti kata Teh Nca (Ketua IIP-Bandung) “…bergandengan tangan untuk saling menguatkan”

Terimakasih teh Ai yang sudah berbagi ilmu dan pengalamannya.
Terimakasih para emakers^^ atas persaudaraanya di Institut Ibu Profesional, Bandung.

-We Share Because We Care-

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

4 thoughts on “Sharing Teh Ai Tentang Home Education For Facilitator

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s