Diskusi

Sesi Tanya – Jawab Materi 6 Matrikulasi Koordinator IIP

Materi #6 Matrikulasi Koordinator IIP
Ibu Manager Keluarga Handal

1. Fiena – IIP Bandung
Bu Septi, bagaimana seandainya proses ‘selesai’ dengan diri sendiri itu masih ON Progress pada diri kita apakah, bisa dibarengi dengan menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga/ Ibu bekerja seutuhnya? Karena pada dasarnya selesai dengan urusan diri sendiri di masa lalu adalah hal yang paling menantang untuk saya bisa betul-betul konsentrasi dalam rumah tangga.

Jawab :

Teh Fiena,
selesai dengan diri sendiri ini berkaitan dengan diri kita pribadi, yang mengelola adalah diri kita sendiri, sedangkan menjalankan peran ibu rumah tangga, berkaitan dengan banyak pihak lain. Maka sebaiknya selesaikan secara berbarengan dengan cara :

Put first thing first secara berkala.
Letakkan yang menjadi prioritas utama kita di urutan pertama dalam mengawali hari baru. Selesaikan dulu yang berkaitan dengan pihak lain.

Setelah itu baru selesaikan urusan dengan diri kita sendiri.
Selesaikan dengan “perubahan kecil” yang kontinyu dan berkesinambungan.

2. Prima – IIP Malang
Assalamualaikum Bu Septi. Saya baru 3 tahun menikah, tahun kedua saya hamil anak pertama. Dan tahun ketiga, baru menjadi ibu yang sesungguhnya. Sekarang masih 16 bulan usia anak kami. Saat masih belum memiliki momongan, alhamdulillah saya bisa menerapkan manajemen keluarga dengan baik. Namun setelah memiliki bayi, fokus saya berubah haluan ke merawat si kecil hingga sekarang (16 bulan) dan manajemen keluarga saya ‘ruwet’ lagi.
Saya merasa belum bisa berperan dengan baik di Program BunCek. Dan ingin memulainya lagi… seiring dengan perkembangan fisik, kognitif, dan kemandirian si kecil. Yang ingin saya tanyakan, bagaimana ya meng-combine program bunsay dan buncek ini dengan jam terbang yang sama? Saat ini proses buncek saya full teori yang hanya bisa saya peroleh ketika si kecil tidur, dengan berbagi waktu aneka macam job domestik yang tadi tidak bisa saya lakukan ketika bersama si kecil.

Jawab :

Mbak Prima, tetapkan prioritas terlebih dahulu, dan lakukan secara bertahap sedikit demi sedikit. Saya berikan contoh yang saya lakukan saat Enes Ara kecil ( jarak mereka 15 bulan) dan saya tanpa ART

Saya komunikasikan dulu ke Pak Dodik, mana kondisi dari ketiga hal ini yang paling membuat Pak Dodik bahagia, silakan diurutkan.

1⃣ Anak terurus dengan sangat baik
2⃣ Makanan terhidangkan fresh dari tangan saya
3⃣ Rumah rapi

Ternyata pak dodik memilih urutan 1⃣3⃣2⃣ akhirnya saya minta waktu per 3 bulanan untuk bisa belajar setahap demi setahap dan satu persatu.

Maka pahami kemampuan diri kita, komunikasikan dengan orang sekeliling kita, terurama yang masuk di lingkaran 1 kita.

3. Ratna – IIPJogja
Assalamualaikum bu Septi.. Ada 2 hal yang ingin saya tanyakan.

📌 Bagaimana teknis menghitung 10.000 jam terbang dalam hal mendidik anak?
Apakah ketika saya membersamai mereka antara jam 8-11 (misalnya), sudah bisa dikatakan melakukan 3 jam terbang pada hari itu? Atau bagaimana?

📌 Ketika saya merencanakan aktivitas harian, saya berusaha untuk konsisten. Namun kadang anak-anak saya yang saat ini HS, jam belajarnya suka tidak terjadwal (sudah pernah dijadwal tapi tidak enjoy). Jadinya kadang jadwalnya berbenturan. Bagaimana ya bu untuk mensiasatinya?

Terimakasih bu Septi…

Jawab :

Mbak Ratna,
yang perlu diingat dalam menambah jam terbang adalah “kesungguhan praktek” tidak hanya “sekedar praktek”.

Sehingga apabila kita 1-3 jam saja bersungguh-sungguh mengamati perkembangan anak kita. Bermain dengan mereka sehingga bisa menambah kompetensi kita sebagai ibu, karena kita menjalankan peran kita sebagai ibu, maka sudah masuk hitungan jam terbang.

Karena ada ibu yang bersama anaknya full berjam-jam tapi tidak menjalankan peran keibuannya.

🍀 Jadwal yang kita buat harian itu dalam rangka kita melihat “track” kita hari ini.

Maka ketika anak kita menjadi prioritas utama, usahakan jadwal kita yang menyesuaikan mereka. Kemudian di sela waktu longgar kita, kembali ke jadwal yang sudah kita susun.

Itu baru namanya flexible. Seperti lingkaran karet, ketika tracknya melingkar dengan diameter tertentu, bisa kita regangkan dengan diameter di luar track, tetapi habis itu bisa kembali lagi ke track semula.

Berbeda dengan lingkaran kawat, apabila kita bentangkan di luar track, tidak serta merta kembali ke bentuk semula. Bentuknya akan berubah dari track awal.

Semoga analog ini dipahami

4. Lendy – IIP Bandung.
Bunda Septi,
Menjadi manager yang handal di berbagai bidang dalam satu waktu dan membutuhkan 10.000 jam terbang.

Saya jadi merasa kecil setelah mendengar pemaparan Ibu.

Saya salah satu Ibu yang motivasi menjadi Ibu-nya masih dibawah rata-rata.
Saya selalu menanti anak saya berangkat sekolah untuk bisa berangkat belajar juga.

Intinya,
Saya nyaman dengan gaya hidup saya yang sekarang.

Apakah dengan kenyamanan ini, saya harus meng-upgrade kemampuan diri ini..?

Menjadi seperti apa yaa, Bu?

😥
Saya merasa, hidup saya (kadang) sudah sangat ideal, Bu.
Terima kasih, Ibu Septi.

Jawab :

Teh Lendy,
ini pentingnya kita punya ROAD MAP dalam kehidupan kita masing-masing. Kalau track yang dilalui teh Lendy dan keluarga merasa sudah sangat pas, kita nyaman, suami nyaman dan anak-anak nyaman, maka lanjutkan sesuai keyakinan kita, tanpa perlu tengak tengok tetangga kanan dan kiri 🙂

Dan yang pasti tidak boleh mengeluh atau bahkan menuntut orang di sekitar kita terutama anak dan suami, agar bisa sama dengan keluarga lain yang ROAD MAP nya berbeda. Dan diri kita dan keluarga juga yang akan menentukan kita perlu BERUBAH atau TIDAK.

Selama teh lendy yakin, jalankan, apabila tidak yakin, ubah strategy.

5. Nur shauma A – IIP Papua
Assalamualaikum,
Mau tanya bunda.
Menurut saya, suami saya itu tipe yang ringan tangan. Saat suami sedang di rumah saya tidak pernah mencuci pakaian, tidak jarang suami memasak untuk kami, bahkan kadang mencuci piring dan bersih-bersih. Saya mengerjakan semua sendiri hanya ketika suami sedang berdagang keluar daerah.
Kadang saya merasa tidak profesional ketika suami masih turun tangan tapi sejujurnya saya senang ketika di bantu. Saya merasa di sayangi.

Yang ingin saya tanyakan.
Apakah ketika suami turun tangan mengerjakan pekerjaan rumah, itu adalah indikator bahwa istrinya belum profesional?

Jawab :

6. Anonim
Bu Septi, jika berkenan..saya ingin mengetahui bagaimana Ibu mengatur keuangan keluarga sewaktu anak-anak kecil ?!
💛Apakah menggunakan amplop untuk memilah per-kebutuhan dan mencatat Debet/Kredit keuangan ?!
💛Apakah anak-anak juga diajarkan menabung ? Sejak usia berapakah ?
💛Bagaimana pula mengatur keuangan apabila ternyata anak-anak adalah “tukang jajan”. Misalkan sehari bisa menghabiskan 100.000 hanya untuk kesenangan (sesaat) anak-anak ?!

Maaf Bu jika pertanyaan dirasa sepele dan diluar konteks 🙏

Jawab :

Wa’alaykumsalam mbak Nur Shauma,
Mungkin yang mbak maksud bukan ringan tangan ya, tetapi cepat kaki ringan tangan. Karena kalau sepemahaman saya ringan tangan = gampang memukul/main tangan. Semoga benar adanya.
Apabila suami senang membantu pekerjaan rumah kita, itu artinya dia sedang memuliakan kita sebagai partner hidup. Maka berperanlah lebih banyak lagi.

Hal ini saya latihkan ke Elan anak laki-laki saya. Sejak saya minta dia latihan melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah. Ketika dia tanya, untuk apa?

Saya jawab, agar engkau bisa lebih memuliakan istrimu kelak, karena istri yang engkau pilih itu adalah partner hidupmu, bukan perempuan yang bertugas mengerjakan semua pekerjaan rumahmu dan melayani semua urusan pribadimu.

Kalau kita memiliki tipe suami yang seperti ini, maka sebenarnya kita sedang diberi peluang banyak untuk lebih meningkatkan peran, maka gunakan peran itu sebaik mungkin dengan cara memuliakan suami kita pula

6. Arin – IIP Bali
Bu Septi, jika berkenan..saya ingin mengetahui bagaimana Ibu mengatur keuangan keluarga sewaktu anak-anak kecil ?!

💛Apakah menggunakan amplop untuk memilah per kebutuhan dan mencatat Debet/Kredit keuangan ?!
💛Apakah anak-anak juga diajarkan menabung ? Sejak usia berapakah ?
💛Bagaimana pula mengatur keuangan apabila ternyata anak-anak adalah “tukang jajan”. Misalkan sehari bisa menghabiskan 100,000 hanya untuk kesenangan (sesaat) anak-anak ?!

Maaf Bu jika pertanyaan dirasa sepele dan diluar konteks 🙏

Jawab :

6⃣
🍀 Betul, saya dulu di awal mencatatnya dengan amplop banyak, menuliskan posnya satu persatu, kemudian mencatat pengeluaran satu per-satu, sampai beli cabe kriting aja saya catat, dulu saya bener-bener kasir keluarga, tidak tahu apa yang harus saya lakukan, kalau jatah uang dari suami habis, pusiiiiiiiing hehehehe.

🍀 Anak-anak dulu waktu kecil menabung di celengan tanah liat, persis mengulang cara saya waktu kecil dulu. Setelah saya belajar untuk meng-upgrade diri saya di bidang manajemen keuangan, maka cara-cara lama itupun berubah agak lebih cerdas, dan anak-anak pun mulai belajar tentang cerdas finansial sejak dini, biar nggak kayak emaknya.

🍀 Uang jajan lebih dari 100 ribu per-hari, dan tetap kita ijinkan, itu namanya pembiaran. Maka bukan keuangannya yang diatur, tapi anaknya yang diatur dan cara mendidik kita yang perlu diperbaiki.

7⃣ Ainun_IIP Surabaya
Assalamu’alaikum Bu Septi,
saya dan suami tidak terbiasa dengan rumah berantakan. Entah pekerjaan rumah seperti tiada habisnya.

Nah permasalahannya, ketika saya membersamai si kecil (1,5 tahun) bermain fikiran saya sering kurang fokus ke putri saya. Karena belum beres ini, belum beres itu. Padahal sebelum dia bangun, saya sudah berusaha membereskan pekerjaan rumah tangga saya.
Bagaimana cara menyiasatinya ya bu? Mohon pencerahannya. Terimakasih 🙏🏻

Jawab :

Wa’alaykumsalam mbak Ainun,
jawaban saya hampir sama dengan pertanyaan mbak Prima di atas, cobalah komunikasikan dengan suami terlebih dahulu, mana yang jadi prioritas ya…

Saya tambahkan sedikit. Tahapannya yang sudah pernah saya lakukan. Pak Dodik itu tipe suami yang ingin rumahnya rapi terus. Waktu itu saya berikan pilihan, karena saya bukan wonder woman 💪

Beliau pilih anak diurutan pertama

Tapi setiap jam 7 malam rumah rapi ya…

Saya penuhi hal tersebut selama 3 bulan pertama.

Setelah 3 bulan kedua, saya perpanjang jam rapi rumah demikian seterusnya…

Ini casenya :
Saya sdh menetapkan jadwal kemarin, saya ambil bagian sore saja ya :

16.00 – 18.00 = silaturahim ke eyang

18.00 – 19.00 = antar Elan ke stasiun

19.00 – 20.00 = makan malam, menunggu kereta

20.00 – 21.00 = diskusi di grup ini.

Ternyata kondisi jalan menyebabkan jadwal meleset. Maka saya kembali lihat 3 aktivitas penting saya malam itu :

1⃣ Menemani Elan
2⃣ Dinner bareng keluarga
3⃣ Diskusi di Grup WA

Karena saya meletakkan keluarga pada urutan pertama dan utama, maka saya tunaikan 2 hal tersebut di atas terlebih dahulu.

Resikonya :
a. Saya akan menambah jam diskusi di luar jam normal
b. Saya harus minta ijin ke pejabat kelas dan anggota grup, karena mungkin mengecewakan
c. Saya harus ijin ke suami, untuk menambah jam online saya ketika sampai rumah.
Ini yang disebut flexibilitas mbak, bisa di ulur kesana kemari dan tetap kembali ke patron yang sudah dibuat.

8. Susi Firdausa
Berarti aktifitas penting harian bisa jadi berbeda tiap harinya ya bu..

👸Iya mbak namanya juga “aktivitas dinamis“, kalau yang sama dari hari ke hari namanya “aktivitas rutinitas

Pertanyaannya sekarang aktivitas dinamis kita itu banyak menambah jam terbang atau tidak?

🙋 Nggih bu… Analogi karet akan saya ingat terus

👸 Ini yang kadang miss-persepsi,

“Mengapa harus buat jadwal, jadi orang itu yang flexible saja”

Maka saya pasti tanya dulu?

Apa yang dimaksud dengan flexible?

Biasanya banyak yang menjawab :
” santai, mengalir tanpa rencana” dan yang sejenis.

Fleksibilitas adalah kemampuan untuk beradaptasi dan bekerja dengan efektif dalam situasi yang berbeda, dan dengan berbagai individu atau kelompok.

Kalau kemampuan itu kita lakukan tanpa kita punya ROAD MAP hidup, tanpa jadwal kegiatan penting hari ini, maka pasti hidup kita berantakan, mudah terbawa arus kemana angin berhembus.

Fitriyani
Jadi pengen bertanya saya bu, dulu jadwal kegiatan yang sudah rapi dan kondusif harus berubah ketika saya (sementara) ikut orang tua lagi, 😊 dan kadang tinggal dtempat mertua.
Bagaimana cara mensiasati hal seperti ini ya bu?

Finny
ibu, NHW6 ini benar-benar akan menjadi challenge untuk saya. Suami saya type yang tidak suka merencanakan kegiatan, mengalir begitu saja di keseharian.. sedangkan keseharian beliau juga lebih banyak di rumah. Jadi,saya merasa hanya sendirian ketika merencanakan dan banyak yang miss dari rencana yang sudah dibuat 😢
Mohon pencerahannya bu

Yessy
Bu, prioritas saya mendidik anak :
1. Menemani anak
2. Membuat dokumentasi tumbang
3. Belum memilih

Pertanyaan saya bu, saya senang sekali beberesan, bu. Menata sesuatu. Kalo bisa, mau jadi seperti Marie Kondo Bu ☺ karena saat mengerjakannya sangat enjoy easy dan excellent. Tapi ngga sejalan dengan jurusan ilmu yang saya pilih di NHW sebelumnya bu. Tapi seperti “mengubur” passion bu.
Itu gimana ya bu menyelaraskannya, saya sekarang merasa bersalah kalau sedang beberesan

💛💛
https://youtu.be/6_N_uvq41Pg

Apa pendapat teman-teman tentang video ini?
Ini bisa menjadi acuan untuk mengerjakan Nice Homework 6 😊😉

Diresume Oleh : Wastuwidyarini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s